Semua orang bilang, menjelang seminar hasil yang dipikirkan pasti revisi, statistik, dosen pembimbing, atau jadwal sidang. Kupikir juga begitu. Nyatanya, di sela-sela menghitung data, mengejar ACC dosen, dan berpindah dari laboratorium ke ruang bimbingan, ada satu kalimat yang terus muncul di kepalaku.
"Pengen peluk."
Lucu ya. Padahal pekerjaan masih banyak. Besok masih harus ke laboratorium, bertemu dosen, memastikan perhitungan selesai. Tapi yang paling terasa justru kerinduan pada seseorang yang selama ini diam-diam menjadi tempatku beristirahat.
Aku sempat mengetik berkali-kali.
"Sayang..."
Lalu kuhapus. Ketik lagi. Hapus lagi. Sampai akhirnya malam itu aku hanya berkata,
"Kepikiran sayang."
Tak lama kemudian, muncul balasan yang membuatku sedikit berdebar.
"Aman gala ape?"
Sesederhana itu. Bukan jawaban panjang. Bukan solusi. Hanya sebuah pertanyaan kecil yang seolah berkata, "Kamu baik-baik saja?"
Aku tersenyum. Lalu kujawab tentang laboratorium dan perhitungan statistik. Tapi setelah beberapa menit, aku sadar. Itu belum sepenuhnya jujur. Yang sebenarnya ingin kusampaikan adalah:
"Sejujurnya... kepikiran sayang. Mau peluk."
Dulu aku sering mengira bahwa menjadi kuat berarti mampu menyelesaikan semuanya sendiri. Ternyata, semakin dewasa, aku justru belajar bahwa menjadi kuat juga berarti berani mengakui ketika lelah. Berani berkata,
"Aku kangen."
"Aku capek."
"Aku butuh dipeluk."
Bukan karena orang lain wajib memenuhi kebutuhan itu. Melainkan karena hati juga pantas didengar.
Besok mungkin aku masih harus menghadapi revisi, konsultasi laboratorium, dan berbagai langkah menuju seminar hasil. Perjalanannya masih panjang. Tapi malam ini aku belajar satu hal. Di balik semua target akademik, ada seorang perempuan yang sedang berjuang. Dan di tengah perjuangan itu, ia menemukan bahwa yang paling ia rindukan bukanlah ucapan "selamat". Melainkan rasa tenang ketika bisa bersandar sejenak pada seseorang yang dicintainya.
Semoga Allah memudahkan setiap langkah. Kalau pelukan itu memang ditakdirkan hadir, semoga datang pada waktu yang paling tepat. Kalau belum, semoga Allah tetap memeluk hati ini dengan ketenangan-Nya. Karena pada akhirnya, bukan hanya tesis yang sedang bertumbuh. Aku juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar