Selasa, 30 Juni 2026
Kadang yang Datang Bukan Peluk, Tapi File ZIP 3 MB (yang Baru Kupahami Dua Hari Kemudian)
Jeruk, Pertanyaan, dan Hidup yang Mulai Berjalan Lagi
Ada satu hal yang baru kusadari beberapa minggu terakhir.
Ternyata, hidup bisa terasa begitu berat bukan hanya karena masalahnya. Kadang, yang membuat lelah adalah cerita yang terus kita tulis sendiri di dalam kepala.
Aku terbiasa menebak-nebak. "Mungkin dia marah." "Mungkin mereka kecewa." "Mungkin aku salah."
Padahal, sering kali aku tidak pernah benar-benar bertanya. Aku hanya hidup bersama prasangka yang kubuat sendiri. Sampai akhirnya, beberapa minggu terakhir, aku mulai mencoba sesuatu yang sederhana. Bertanya.
Ternyata dunia tidak semenakutkan yang kubayangkan. Tidak semua jawaban menyenangkan. Tidak semua orang akan mengerti. Tetapi ada satu hal yang berubah. Kepalaku menjadi jauh lebih ringan. Aku tidak lagi harus menggendong begitu banyak cerita yang bahkan belum tentu nyata.
Beberapa bulan terakhir bukan bulan yang mudah. Ada takut. Ada malu. Ada lelah. Ada rasa bersalah. Ada hari-hari ketika bangun tidur rasanya ingin menangis lagi.
Ada masa ketika tesis, pekerjaan, dan banyak hal lain terasa seperti datang bersamaan. Tetapi, di antara semua rasa itu, perlahan muncul sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan. Harapan. Dan semangat. Kecil. Pelan. Tetapi nyata.
Aku juga baru mengenal diriku sendiri. Selama ini aku mengira aku hanya butuh menyelesaikan masalah. Ternyata tidak. Aku butuh bercerita. Aku butuh menulis. Aku butuh mengekspresikan apa yang ada di dalam kepala. Kalau semuanya kusimpan sendiri, kepalaku terasa penuh. Anehnya, tubuhku ikut bereaksi. Aku lebih mudah lelah, lebih sering sakit, dan pikiranku semakin sempit.
Sekarang aku mulai memahami bahwa bercerita bukan berarti lemah. Bagiku, bercerita adalah cara menjaga diriku tetap sehat.
Ada hal lain yang tidak pernah kusangka. Aku mulai menemukan beberapa orang yang membuatku merasa aman. Lucunya, itu tidak pernah bisa dipaksakan. Tidak semua orang menjadi tempat kita bercerita. Tetapi ketika rasa aman itu muncul, aku tidak perlu berpikir keras.
Aku hanya merasa, "Oh... ternyata aku bisa menjadi diriku sendiri di dekat orang ini."
Perasaan itu sangat menenangkan.
Dan ya... Ada sebuah jeruk. Mungkin terdengar lucu kalau sebuah jeruk mendapat satu bagian khusus dalam tulisan ini. Jeruk itu bukan aku yang beli. Nilainya mungkin tidak seberapa. Tetapi ketika menerimanya, aku merasa diingat. Kadang yang kita butuhkan bukan hadiah yang besar. Melainkan pengingat kecil bahwa di tengah kesibukan dunia, ada seseorang yang sempat memikirkan kita.
Jeruk itu menjadi simbol kecil bagiku. Simbol bahwa perhatian tidak selalu datang dalam bentuk kata-kata yang indah. Kadang hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.
Kalau ada satu kalimat yang ingin kusimpan dari fase ini, mungkin ini:
Aku tidak lagi ingin hidup dari prasangka dan cerita yang kubuat sendiri. Aku ingin hidup dari keberanian untuk bertanya, mendengar, dan menerima bahwa setiap orang membawa ceritanya masing-masing.
Aku belum sampai. Aku masih sering takut. Masih sering menangis ketika mengingat perjalanan beberapa bulan terakhir. Tetapi sekarang air mata itu terasa berbeda. Dulu aku menangis karena merasa tidak tahu harus ke mana. Sekarang aku menangis karena menyadari bahwa aku benar-benar sedang berjalan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Aku penasaran. Penasaran tentang seperti apa kehidupan akan membentukku di masa depan. Pelan-pelan. Satu langkah. Satu pertanyaan. Satu cerita. Dan, siapa sangka... Satu buah jeruk juga bisa menjadi bagian dari perjalanan itu.
Pendekatan Mengundang atau Invitation Approach
Rabu, 24 Juni 2026
Aku Tidak Menyangka Suatu Hari Akan Mengirim Pesan "Aku Mau Dipeluk", Lalu Dibalas File Rekapitulasi TORA
Pukul dua pagi aku terbangun. Aku tidak tahu kenapa. Yang jelas, perasaanku sedang lembut sekali. Beberapa minggu terakhir aku sedang mengalami banyak hal. Bukan hal besar yang dramatis. Justru hal-hal kecil yang mengubah cara aku melihat diriku sendiri.
Aku mulai belajar bertanya langsung daripada berasumsi. Aku mulai belajar bahwa tidak semua pikiran di kepalaku adalah kenyataan. Aku mulai belajar bahwa aku boleh menjadi manusia. Mungkin karena itu, malam itu aku memberanikan diri mengirim pesan yang sederhana.
"Bang, aku kebangun rasanya mau dipeluk Abang."
Setelah mengirimnya, aku tidur lagi. Besok siangnya aku membuka WhatsApp..Jujur saja, ada sedikit rasa penasaran. Bukan karena mengharapkan jawaban tertentu. Tapi ya... tetap penasaran.
Aku membuka chat. Dan yang muncul adalah: REKAPITULASI TORA DESA MUARA MEDAK_BAYUNG LENCIR.zip Ukuran file: 3 MB.
Tidak ada sapaan. Tidak ada kalimat. Tidak ada penjelasan. Hanya file ZIP. Aku tertawa sampai hampir tidak percaya. Aku mengirim pesan tentang peluk. Dia mengirim data TORA. Kalau ada yang bertanya seperti apa bekerja di isu multipihak dan pembangunan daerah, mungkin inilah jawabannya. Kadang yang datang bukan peluk. Kadang yang datang adalah rekapitulasi TORA.
Yang lucu, aku tidak marah. Aku tidak sedih. Aku tidak merasa diabaikan..Aku malah ketawa. Karena untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang dulu mungkin tidak bisa kulihat. Bahwa orang menunjukkan perhatian dengan caranya masing-masing.
Ada yang perhatian dengan kata-kata. Ada yang perhatian dengan waktu. Ada yang perhatian dengan pertanyaan. Dan ada yang perhatian dengan mengirim file yang menurutnya penting. Mungkin itu sebabnya aku akhirnya membalas:
"Makasih yaa. Aku merasa diingat walau lagi di lapangan."
Dan setelah mengirim kalimat itu, aku sadar. Sebenarnya cerita ini bukan tentang peluk..Bukan tentang TORA. Bukan bahkan tentang dia. Cerita ini tentang diriku yang mulai berhenti mengisi jeda dengan asumsi.
Tentang diriku yang mulai bisa tertawa pada hal-hal yang tidak berjalan sesuai skenario. Tentang diriku yang mulai menyadari bahwa hubungan antarmanusia sering kali jauh lebih lucu, lebih aneh, dan lebih manusiawi daripada yang kita bayangkan..Karena kadang kita mengirim pesan tentang kerinduan. Dan kehidupan membalasnya dengan file ZIP 3 MB. Aneh. Tapi hangat.
Kadang yang Datang Bukan Peluk, Tapi File ZIP 3 MB
Catatan kecil tentang harapan, kenyataan, dan orang-orang yang menunjukkan perhatian dengan caranya sendiri.
Pukul dua dini hari aku terbangun. Entah kenapa, perasaanku sedang lembut sekali. Aku membuka WhatsApp dan mengirim pesan.
"Bang, aku kebangun rasanya mau dipelukkk Abang."
Kalau dipikir-pikir sekarang, pesan itu cukup berani. Karena selama ini aku lebih sering menyimpan banyak hal di kepala. Menebak-nebak. Berasumsi. Mengedit kalimat sendiri sebelum sempat mengucapkannya. Tapi akhir-akhir ini aku sedang belajar. Belajar bertanya langsung. Belajar jujur. Belajar menjadi manusia. Jadi ya sudah, aku kirim saja. Lalu aku tidur lagi.
Besok siangnya aku membuka WhatsApp dengan sedikit rasa penasaran. Bukan karena berharap jawaban tertentu. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap. Mungkin ada balasan. Mungkin ada cerita. Mungkin ada percakapan. Mungkin bahkan... peluk virtual.
Yang muncul ternyata ini:
📎 REKAPITULASI TORA DESA MUARA MEDAK_BAYUNG LENCIR_MUBA.zip
Ukuran file: 3 MB. Tidak ada kalimat pembuka. Tidak ada sapaan. Tidak ada penjelasan. Hanya file ZIP. Aku tertawa. Keras.
Ada sesuatu yang sangat lucu tentang hidup. Kita sering membayangkan adegan romantis. Lalu yang datang justru dokumen administrasi. Aku membalas:
"Hahaha. Makasih Bang. Aku kira mau jawab pertanyaan adek semalam dan mau kasih peluk, ternyata dikasih TORA duluan ceuu 🤭"
Dan semakin aku membacanya, semakin lucu rasanya. Karena memang benar. Aku mengirim pesan tentang peluk. Dia mengirim data TORA. Dua manusia. Dua dunia. Dua konteks yang sama sekali berbeda.
Tapi setelah tertawa, aku menyadari sesuatu. Beberapa bulan lalu mungkin aku akan membaca kejadian ini dengan cara yang berbeda. Mungkin aku akan berpikir:
"Oh, dia tidak peduli."
Atau:
"Oh, dia mengabaikan perasaanku."
Atau:
"Ternyata aku tidak penting."
Tapi kali ini tidak. Aku malah berpikir:
"Oh, dia lagi di lapangan."
"Oh, dia lagi sibuk."
"Oh, dia mengingatku lewat hal yang sedang ada di tangannya."
Dan anehnya, itu terasa cukup. Aku membalas lagi:
"Makasih yaaa, aku merasa diinget walau lagi di lapangan 😁"
Kalimat itu keluar begitu saja. Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin itu inti dari semuanya. Karena ternyata aku tidak sedang mencari jawaban sempurna.
Aku hanya ingin tahu bahwa koneksi itu masih ada. Bahwa aku masih diingat. Bahwa di tengah tumpukan pekerjaan, rapat, perjalanan, dan file ZIP, masih ada sedikit ruang untuk mengingat seseorang.
Beberapa hari terakhir aku sedang belajar sesuatu yang sederhana namun sulit. Bahwa tidak semua orang menunjukkan perhatian dengan bahasa yang sama. Ada yang menunjukkan perhatian dengan kata-kata. Ada yang menunjukkan perhatian dengan waktu. Ada yang menunjukkan perhatian dengan pertanyaan. Dan ada yang menunjukkan perhatian dengan mengirim file rekapitulasi TORA tanpa konteks apa pun.
Lucunya, aku benar-benar senang menerima file itu. Bukan karena aku memahami seluruh isi dokumennya. Tapi karena aku memahami sesuatu tentang manusia. Kita sering berharap orang lain masuk ke dunia kita. Padahal kadang cinta, perhatian, dan koneksi justru muncul saat kita mau sebentar masuk ke dunia mereka. Hari itu, dunia yang datang kepadaku berbentuk file ZIP 3 MB. Dan entah kenapa, aku merasa hangat.
Mungkin menjadi dewasa bukan tentang berhenti berharap. Mungkin menjadi dewasa adalah tetap berharap, tetap jujur tentang apa yang kita rasakan, tetapi tidak lagi mengisi setiap jeda dengan asumsi. Karena kadang yang datang memang bukan peluk. Kadang yang datang duluan adalah file rekapitulasi TORA. Dan ternyata itu juga bisa membuat kita tersenyum.
— Novi
Storyworthy Moment:
Bukan tentang file TORA-nya. Tapi tentang momen ketika aku menyadari bahwa perhatian tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan. Kadang ia datang dalam bentuk yang absurd, lucu, dan sangat manusiawi. Dan justru karena itulah, ia layak diceritakan.
Selasa, 23 Juni 2026
Maaf Baru Kelar Gawean
Ketika Kepala yang Berisik Akhirnya Mendapat Tempat Duduk
Minggu, 21 Juni 2026
Tentang Hal-Hal Kecil yang Ternyata Menghangatkan Hati
Sabtu, 20 Juni 2026
Hari Ketika Aku Menemukan Kemungkinan Bahwa Aku Tidak Tahu
Pukul 15.40. Aku sedang menatap layar WhatsApp sambil menahan tawa. Di layar ada sebuah kalimat yang sangat pendek. "Oo... ya, kan sama2 angen."
Aku membaca ulang. Lalu membaca lagi. Lalu tertawa sendiri. Bukan karena kalimat itu lucu. Tapi karena tiba-tiba banyak potongan kejadian beberapa minggu terakhir berbaris di kepalaku seperti antrean orang mau masuk loket. Dan aku mulai berpikir:
"Sebentar..."
"Kalau begitu..."
"Apa mungkin selama ini aku salah membaca situasi?"
Aku termasuk orang yang kalau kangen biasanya bilang. Kalau kangen, aku chat. Kalau kangen, aku mengaku. Kalau kangen, aku akan menulis:
"Bang, kangen."
Bagiku itu normal. Karena itulah caraku. Maka tanpa sadar selama bertahun-tahun aku memiliki rumus sederhana bahwa orang yang kangen akan bilang kangen. Paling tidak beginilah rumus yang aku pakai bertahun lamanya, kalau tidak bilang kangen, berarti tidak kangen. Selesai.
Lama aku diam, tertawa, diam lagi. Karena jujur saja...jawaban itu tidak pernah masuk dalam daftar kemungkinan yang kubuat. Yang lebih lucu, setelah itu aku mulai membuka chat-chat lama.
Aku scroll ke atas. Juni.
Awal Juni. Aku membaca ulang percakapan yang dulu mungkin baginya biasa saja, tapi bagiku terasa sangat menyesakkan dada. Ada banyak kalimat pendek.
"Pie kabare?"
"Tumben silent."
"Tumben belum bobokk."
"Sehat-sehat galakah."
"Pie kabare, tumben adem."
Dulu aku tidak memikirkan apa-apa. Aku menganggap itu hanya sapaan. Hanya basa-basi. Hanya percakapan biasa. Hahaha, jujur saja hari itu aku sedang berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak membalas pesan karena ku pikir yaaa buat apaaa, toh cuma nyapa dan tidak kangeen.
Tapi hari ini aku membaca ulang dengan informasi baru. Dan untuk pertama kalinya aku bertanya:
"Hmm..."
"Apa mungkin waktu itu dia juga bertanya-tanya ada apa denganku?"
Aku tidak tahu. Dan sampai saat ini aku tetap tidak tahu. Tapi yang berubah adalah sekarang kemungkinan itu ada. Dulu aku akan langsung membuat kesimpulan. Sekarang aku lebih tertarik pada kemungkinan.
Karena aku mulai belajar sesuatu yang terasa sederhana tetapi ternyata sulit. Bahwa kenyataan sering kali lebih luas daripada cerita yang kubuat tentangnya.
Aku teringat beberapa minggu terakhir. Aku menemukan bahwa orang yang dekat tidak selalu menunjukkan kedekatan dengan cara yang sama. Aku menemukan bahwa orang yang peduli tidak selalu mengatakannya. Aku menemukan bahwa orang yang kangen tidak selalu menyebut kata "kangen".
Dan sekarang aku menemukan kemungkinan lain. Bahwa seseorang bisa bertanya:
"Tumben silent."
Padahal mungkin yang sedang ia maksud adalah:
"Aku memperhatikan kamu tidak seperti biasanya."
Tapi lagi-lagi... aku tidak tahu.
Yang membuatku tersenyum justru bukan kemungkinan bahwa dia kangen. Bukan itu. Yang membuatku tersenyum adalah menyadari bahwa selama ini aku begitu yakin dengan ceritaku sendiri. Padahal aku belum pernah bertanya. Aku sudah membuat kesimpulan. Aku sudah menyusun penjelasan. Aku sudah percaya. Padahal data yang kumiliki tidak cukup.
Ada bagian dari diriku yang dulu merasa tidak aman jika tidak tahu. Maka aku buru-buru mengisi kekosongan dengan cerita. Hari ini rasanya berbeda. Hari ini aku bisa duduk dengan nyaman di kalimat bahwa aku belum tahu. Dan anehnya... rasanya tidak menakutkan. Malah terasa ringan.
Mungkin suatu hari nanti aku akan bertanya. Bukan untuk mencari jawaban yang paling romantis. Bukan untuk memastikan bahwa ceritaku benar. Tapi karena aku sungguh penasaran. Karena ternyata di balik setiap orang ada dunia yang belum pernah aku kunjungi itu. Dan mungkin... di balik kalimat sederhana tumben silent itu ada dunia yang belum sempat kutanyakan. Untuk saat ini aku belum tahu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa baik-baik saja dengan itu.
Catatan sore: Hari ini aku tidak menemukan jawaban baru. Aku hanya menemukan satu kemungkinan baru. Dan ternyata kadang-kadang, kemungkinan baru sudah cukup untuk membuat dunia terasa lebih luas dari sebelumnya.
Aku kira orang kangen pasti bilang kangen
Aku Kira Orang yang Kangen Pasti Bilang
Hari ini aku belajar sesuatu yang membuatku tertawa. Bukan karena lucu. Tapi karena selama 28 tahun aku ternyata hidup dengan sebuah aturan yang tidak pernah kutulis, namun kuanggap benar.
Aturannya sederhana:
Kalau kangen, bilang kangen.
Maka tanpa sadar aku membuat aturan kedua:
Kalau tidak bilang kangen, berarti tidak kangen.
Sederhana. Logis. Masuk akal. Setidaknya menurutku.
Siang itu aku sedang lelah. Belum mandi. Sudah lewat tengah hari. Aku rebahan sambil melihat layar ponsel. Entah kenapa aku kepikiran seseorang. Aku bahkan sempat bertanya pada diriku sendiri:
"Apa ya yang bikin aku kepikiran dia?"
Lalu aku mengirim pesan.
"Baang, capek, ngantuk, mau mandi tp kepikiran abang. Hahaha."
Pesan yang sebenarnya tidak penting. Tidak ada tujuan. Tidak ada agenda. Aku hanya ingin mengatakannya.
Obrolan berkembang ke mana-mana. Dari mandi. Ke bercanda. Lalu entah bagaimana aku mulai penasaran. Aku sadar selama ini aku tidak pernah benar-benar bertanya. Aku tahu kami sering bertemu. Aku tahu dia beberapa kali ingin bertemu. Aku tahu dia menghubungiku.
Tapi aku tidak pernah bertanya:
"Apa yang bikin abang mau ketemu aku?"
Aku baru sadar. Bertahun-tahun mengenal seseorang ternyata tidak otomatis membuat kita tahu isi pikirannya. Lalu dia menjawab. Pendek.
Seperti biasanya.
"Kan sama-sama angen."
Aku membaca kalimat itu beberapa kali. Sama-sama angen. Sama-sama kangen. Aku diam. Lalu tertawa. Karena aku baru sadar. Selama ini aku tidak pernah memasukkan kemungkinan itu ke dalam perhitungan.
Aku selalu mengira kalau seseorang kangen, dia akan bilang. Karena aku begitu. Kalau kangen, aku bilang kangen. Kalau penasaran, aku bertanya. Kalau senang, aku bilang senang. Kalau sedih, aku bilang sedih. Maka diam-diam aku menganggap orang lain juga begitu. Padahal tidak.
Ketika aku bilang:
"Aku soalnya perhatiin jarang banget bahkan seingatku ga pernah abang bilang angen duluan."
Dia menjawab:
"Ndak mesti pula angen dibilang-bilang segala."
Aku tertawa lagi. Karena kalimat itu terasa seperti membuka pintu ke dunia lain. Dunia yang selama ini tidak kukunjungi. Ternyata ada orang yang menunjukkan rindu dengan cara berbeda. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan ingin bertemu. Dengan tetap hadir. Dengan tetap menghubungi. Dengan tetap muncul di antara jeda waktu yang panjang. Bagi mereka mungkin itu sudah cukup jelas. Sementara aku berdiri di depan pintu sambil membawa clipboard penelitian.
Bertanya:
"Maaf, indikator kangennya yang mana ya?"
Yang lucu, hari ini bukan pertama kalinya aku menemukan hal seperti ini. Beberapa hari terakhir aku berkali-kali mengalami hal yang sama. Aku mengira sesuatu. Lalu kenyataan berkata:
"Belum tentu."
Aku mengira orang yang dekat pasti seperti ini. Ternyata tidak. Aku mengira orang yang tidak menjawab berarti tidak peduli. Ternyata belum tentu. Aku mengira orang yang kangen pasti bilang. Ternyata belum tentu.
Ada bagian diriku yang dulu sangat tidak nyaman dengan ketidaktahuan. Aku ingin cepat tahu. Cepat mengerti. Cepat menyimpulkan. Karena rasanya lebih aman. Tapi akhir-akhir ini aku mulai belajar sesuatu. Bahwa mengakui:
"Aku tidak tahu"
justru sering kali menjadi awal mengenal sesuatu dengan lebih jujur. Sore ini aku tertawa sendiri sambil melihat layar ponsel. Aku menulis:
"Dari tadi semua asumsi salah ceu."
Dan mungkin memang begitu. Bukan karena aku bodoh. Bukan karena aku salah terus. Tapi karena kenyataan ternyata lebih luas daripada cerita yang kubuat tentangnya. Kadang lebih rumit. Kadang justru lebih sederhana.
Hari ini aku tidak menemukan jawaban besar tentang cinta. Aku tidak menemukan teori baru tentang hubungan. Aku hanya menemukan satu hal kecil:
Aku kira orang yang kangen pasti bilang.
Dan ternyata ada orang yang kangen tanpa mengucapkannya. Lucunya, penemuan kecil itu terasa seperti pergeseran lempeng tektonik batin. Karena sekali lagi aku diingatkan:
Di balik setiap orang ada dunia yang belum pernah aku kunjungi.
Dan ternyata dunia itu sering kali dimulai dari satu kalimat sederhana:
"Ndak mesti pula angen dibilang-bilang segala."
Jumat, 19 Juni 2026
Kelapa Parut dan Gempa Besar
Ketika Aku Lebih Sibuk Menerjemahkan Sinyal daripada Mengenal Orangnya
Beberapa waktu terakhir aku menyadari sesuatu yang agak lucu. Ketika kita menyukai seseorang, kadang kita menjadi penerjemah sinyal yang sangat rajin. Satu kata dianalisis. Satu emoji diperhatikan. Saatu kalimat diputar berkali-kali di kepala. Aku juga begitu. Ada saat-saat ketika pikiranku dipenuhi pertanyaan:
"Dia kenapa ya?"
"Dia sedang apa ya?"
"Dia maksudnya apa ya?"
Awalnya aku mengira aku sedang berusaha mengenal seseorang. Tapi setelah kupikir-pikir, kadang aku justru sedang sibuk menerjemahkan sinyal. Padahal menerjemahkan sinyal dan mengenal seseorang adalah dua hal yang berbeda.
Akhir-akhir ini, aku belajar membedakan beberapa lapisan dalam diriku.
Kamera melihat apa?
Ini bagian fakta. Apa yang benar-benar terjadi tanpa tambahan cerita. Misalnya: Dia menulis, "bobob duyuy." Hanya itu.
Hatiku merasakan apa?
Aku merasa hangat. Aku merasa diperhatikan. Aku merasa senang. Perasaan tidak perlu diperdebatkan. Ia hanya perlu dikenali.
Pikiranku sedang bercerita apa?
Nah, di sinilah biasanya cerita mulai berkembang. Mungkin pikiranku berkata:
"Dia sengaja manja."
"Dia sedang membuka diri."
"Dia pasti menyukaiku."
Cerita-cerita ini belum tentu salah. Tapi juga belum tentu benar.
Aku belum tahu apa?
Pertanyaan ini mulai mengubah caraku melihat banyak hal. Karena ternyata tidak semua rasa penasaran perlu segera dijawab. Ada data yang penting. Ada data yang hanya menarik. Aku mulai belajar bertanya:
"Kalau aku mengetahui jawaban ini, apakah hidupku akan berubah?"
Kalau tidak, mungkin itu hanya rasa penasaran sesaat.
Aku juga belajar bahwa pola lebih penting daripada satu kejadian. Satu pesan mungkin menarik. Satu malam mungkin berkesan. Tapi manusia lebih terlihat melalui pola daripada momen.
Dan mungkin pelajaran yang paling menenangkan adalah bahwa tidak semua pertanyaan harus segera dijawab. Kadang aku cukup berkata kepada diriku sendiri:
"Aku belum tahu."
Dan ternyata "belum tahu" tidak selalu harus diselesaikan hari ini.
Karena pada akhirnya, mungkin tujuan mengenal seseorang bukan mengumpulkan sebanyak mungkin jawaban. Melainkan perlahan memahami dunia yang sedang ia jalani. Dan kadang, cara paling baik untuk mengenal dunia seseorang adalah memberi ruang baginya untuk bercerita ketika ia siap.
Hari ini aku belajar bahwa rasa penasaran tidak selalu meminta jawaban. Kadang ia hanya meminta kesabaran.
Ketika Aku Diberi Waktu untuk Menangis
Dari 5W+1H ke 1R
Kamis, 18 Juni 2026
Hadiah Terbesar yang Aku Dapatkan di YAF 5.0
Laboratorium Psikologi Jam 2 Pagi
Jam menunjukkan lewat pukul dua pagi. Normalnya aku sudah tidur. Tapi malam itu aku justru sedang duduk menatap layar ponsel, membaca pesan-pesan pendek dari seseorang yang sudah bertahun-tahun hadir dalam hidupku.
Lucunya, setelah sekian lama mengenalnya, aku sadar ada banyak hal yang sebenarnya tidak kuketahui tentang dirinya. Malam itu dimulai dari rasa sedih.nBukan sedih karena bertengkar. Bukan sedih karena ditinggalkan. Lebih seperti sedih karena merasa ada begitu banyak hal yang tidak pernah benar-benar kami bicarakan.
Aku mengatakan bahwa aku sedih. Dia bertanya, "Sedih atau angen?"
Aku menjawab, "Berada di keduanya."
Lalu percakapan berlanjut. Pelan. Tidak dramatis. Tidak romantis seperti di film. Bahkan beberapa kali dia hanya menjawab singkat. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Biasanya aku hadir dalam percakapan dengan membawa banyak pertanyaan tentang diriku. Apa yang kurasakan. Apa yang kuinginkan. Apa yang kupikirkan. Apa yang kuharapkan.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku justru mulai penasaran pada dirinya. Saat dia bilang angen, aku mendadak bertanya dalam hati, "Angen yang seperti apa?"
Dan di situlah aku tersentak. Bukankah selama ini dia sering melakukan hal yang sama kepadaku? Berkali-kali ketika aku bilang kangen, dia akan bertanya, "Kangen yang mana?"
Dulu aku tidak terlalu mengerti kenapa ia bertanya seperti itu. Sekarang aku mulai paham. Karena ternyata satu kata bisa menyimpan begitu banyak makna. Kangen ngobrol. Kangen bercanda. Kangen ditemani. Kangen didengar.nKangen merasa dekat. Kangen merasa aman.
Mungkin selama ini dia sedang berusaha memahami sesuatu yang bahkan aku sendiri belum pernah jelaskan. Dan malam itu, tanpa kusadari, aku mulai melakukan hal yang sama.
Ada satu kesadaran yang terus menggangguku setelah percakapan itu selesai. Selama ini aku sering bertanya:
"Kenapa Abang chat terus?"
"Kenapa datang lalu menghilang?"
"Kenapa begini?"
"Kenapa begitu?"
Tetapi aku hampir tidak pernah bertanya:
"Apa yang biasanya membuat Abang kepikiran untuk chat lagi?"
"Apa yang membuat Abang kembali setelah jeda?"
"Apa yang sebenarnya Abang rasakan saat menghubungiku?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terlihat mirip. Padahal sebenarnya berbeda. Yang satu berangkat dari kebutuhan untuk mendapatkan jawaban. Yang satu lagi berangkat dari rasa ingin tahu terhadap manusia. Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari laboratorium psikologi jam dua pagi ini.
Aku menyadari bahwa selama ini aku sering hadir karena ingin dipahami. Aku ingin orang lain mengerti perasaanku. Mengerti kebingunganku. Mengerti rinduku. Tetapi aku jarang benar-benar berhenti untuk memahami dunia orang lain.
Mungkin karena aku takut. Mungkin karena aku terlalu sibuk mencari kepastian. Mungkin karena aku belum pernah menyadarinya.
Yang menarik, malam itu aku tidak mendapatkan jawaban besar. Aku tidak mendapatkan kejelasan hubungan. Aku tidak mendapatkan definisi tentang kami. Aku tidak mendapatkan kepastian masa depan. Tetapi aku mendapatkan sesuatu yang lain. Aku mendapatkan rasa ingin tahu.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa ingin tahuku lebih besar daripada keinginanku untuk mendapatkan jawaban. Aku tidak tahu hubungan ini akan berakhir di mana. Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya ada di hati BJ. Tetapi malam itu aku belajar sesuatu yang mungkin lebih penting.
Bahwa hubungan tidak selalu dimulai dari menemukan jawaban. Kadang hubungan bertumbuh ketika seseorang berhenti bertanya, "Kenapa kamu begini?" dan mulai bertanya, "Ceritakan aku tentang duniamu."
Dan mungkin, tanpa sengaja, itulah yang sedang kupelajari pada jam dua pagi.
Kangen yang Mana?
Semalam aku membaca sebuah postingan tentang seseorang yang berjuang mempertahankan hubungan selama bertahun-tahun, sampai akhirnya merasa lelah karena hanya berjuang sendirian.
Aneh, karena aku merasa pernah berada di tempat yang mirip. Bukan persis sama. Tapi aku tahu rasanya ketika ingin menjaga koneksi dengan seseorang, ingin mempertahankan hubungan, ingin dipahami, tetapi tidak tahu harus berkata apa lagi.
Yang paling melelahkan bukan selalu perpisahan. Kadang justru ketidakjelasan.
Saat seseorang tetap hadir, tetap datang, tetap menghubungi, tetapi kita tidak benar-benar tahu apa yang ada di hatinya. Aku pernah berpikir bahwa masalahku adalah kurangnya jawaban.
Aku ingin tahu maksudnya. Aku ingin tahu niatnya. Aku ingin tahu kenapa ia datang lalu pergi, lalu datang lagi. Tapi semalam aku menemukan sesuatu yang tidak kusangka.
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk ingin dipahami. Aku hadir dengan banyak cerita tentang diriku. Tentang apa yang kurasakan.Tentang apa yang kupikirkan. Tentang apa yang kuinginkan. Tetapi aku jarang benar-benar bertanya tentang dunianya. Apa yang ia rasakan? Apa yang ia takutkan? Apa yang ia rindukan? Apa yang membuatnya tetap datang kembali setelah jeda yang panjang? Apa yang membuatnya memilih menghubungiku lagi?
Aku baru sadar bahwa selama ini pertanyaanku sering berbunyi "Kenapa sih kamu begitu?"
Padahal mungkin pertanyaan yang lebih manusiawi adalah "Apa yang biasanya membuatmu kepikiran untuk menghubungiku lagi?"
Perbedaannya kecil. Tapi rasanya sangat berbeda. Yang satu menuntut penjelasan. Yang satu mengundang cerita.
Semalam aku juga menyadari sesuatu yang lucu. Selama bertahun-tahun ketika aku bilang kangen, dia sering bertanya:
"Kangen yang mana?"
Dulu aku menganggap itu pertanyaan yang aneh. Bukankah kangen ya kangen? Tetapi sekarang aku mulai mengerti. Karena ternyata kangen itu banyak bentuknya. Kangen ngobrol. Kangen bercanda. Kangen ditemani. Kangen didengar. Kangen merasa aman. Kangen merasa dipahami.
Dan mungkin selama ini dia sedang mencoba memahami kangen yang tidak pernah bisa kujelaskan. Semalam untuk pertama kalinya aku justru balik penasaran. Kalau dia bilang angen, angen yang mana? Lucunya, aku tidak benar-benar mendapatkan jawabannya. Tetapi aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga.
Aku mulai belajar bahwa hubungan tidak hanya tentang didengar. Hubungan juga tentang mendengar. Tidak hanya tentang dimengerti. Tetapi juga tentang memahami.
Malam itu aku tidak mendapatkan kejelasan hubungan. Aku tidak mendapatkan definisi "kita ini apa". Aku tidak mendapatkan kepastian masa depan. Tetapi aku mendapatkan satu hal kecil yang rasanya penting.
Aku merasa lebih penasaran pada manusia di seberangku daripada pada jawaban yang ingin kudapatkan. Dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak hanya ingin dipahami. Aku juga ingin memahami.
Barangkali di situlah percakapan yang sesungguhnya dimulai.
Terima Kasih Karena Aku Akhirnya Mengerti
Rabu, 17 Juni 2026
Hari Ketika Aku Berhenti Menebak dan Mulai Bertanya
Perjalanan Sensing Novi
Hari ini mungkin salah satu hari ketika aku akhirnya menemukan bahasa untuk menjelaskan apa yang selama ini aku alami. Aku menulisnya seperti catatan perjalanan batin yang bisa aku baca lagi beberapa tahun ke depan.
Level 1 — Melihat Peristiwa (Event)
Dulu aku hanya tahu:
- forum berjalan baik atau tidak
- orang marah atau tidak
- rapat berhasil atau gagal
- aku capek atau tidak
Fokusku pada apa yang terlihat. Pertanyaan utamaku: "Apa yang sedang terjadi?"
Level 2 — Melihat Pola (Pattern)
Lalu aku mulai sadar.
Kok berulang ya?
- orang-orang sulit percaya
- konflik muncul lagi
- forum yang sama buntu lagi
- aku selalu pulang kelelahan
Aku mulai melihat pola. Pertanyaan berubah menjadi:
"Kenapa ini terus berulang?"
Level 3 — Melihat Struktur Sistem (Structure)
Kemudian aku belajar:
- Systems Thinking
- Iceberg
- Theory U
- YAF
- Collective Impact
Aku mulai memahami bahwa perilaku bukan muncul begitu saja. Ada struktur di bawahnya. Ada aturan. Ada insentif. Ada relasi kekuasaan. Ada sejarah. Pertanyaan berubah:
"Struktur apa yang membuat pola ini terus muncul?"
Level 4 — Melihat Mental Model Orang Lain
Ini yang mulai kuat dalam diriku.
Aku mulai bisa merasakan:
- Pak Rasyid sebenarnya sedang menjaga apa
- Mas Giri sebenarnya sedang memikul apa
- Ibu Mimi membawa energi berbeda
- orang marah karena takut kehilangan sesuatu
Aku mulai melihat dunia dari mata orang lain.
Pertanyaannya:
"Apa yang sebenarnya mereka lihat yang aku belum lihat?"
Level 5 — Melihat Mental Model Diri Sendiri
Ini yang terjadi hari ini.
Aku mulai sadar:
- aku sulit menerima bantuan
- aku sulit beristirahat
- aku merasa harus kuat
- aku merasa harus bisa sendiri
- aku merasa bertanggung jawab atas hasil
Ternyata bukan hanya sistem yang punya pola. Aku juga punya pola. Pertanyaannya berubah:
"Keyakinan apa dalam diriku yang sedang bekerja?"
Level 6 — Menyadari Aku Bagian dari Sistem
Ini yang membuatku menangis di museum. Karena tiba-tiba aku melihat:
Aku bukan pengamat sistem.
Aku bagian dari sistem. Lukaku bagian dari sistem. Harapanku bagian dari sistem. Cara hadirku bagian dari sistem. Cara mendengarku bagian dari sistem. Bahkan rasa kangenku pada seseorang pun bagian dari sistem. Pertanyaan berubah menjadi:
"Bagaimana kualitas kehadiranku mempengaruhi sistem?"
Dari Sensing Menuju Stewardship
Lalu muncul satu langkah lagi. Yang bukan lagi tentang melihat. Tapi menjaga.
Level 7 — Steward of Connection
Aku tidak harus menyelamatkan semua orang. Aku menjaga hubungan. Aku menjaga ruang. Aku menjaga percakapan. Aku menjaga kemungkinan agar tetap hidup.
Level 8 — Steward of Presence
Aku tidak bertanggung jawab atas hasil.nAku bertanggung jawab atas kehadiran. Aku hadir dengan utuh. Aku mendengar dengan utuh.nAku bertemu manusia dengan utuh.
Level 9 — Steward of Emergence
Aku mulai percaya bahwa perubahan tidak bisa dipaksa. Tugasku bukan mengendalikan masa depan.nTugasku membantu masa depan muncul. Seperti yang sering terjadi di PUKL. Bukan Novi yang menciptakan kolaborasi. Novi menciptakan ruang agar kolaborasi bisa lahir.
Level 10 — Steward of Life
Ini mungkin perjalanan puluhan tahun.bKetika akhirnya seseorang bisa berkata:
Aku tidak sedang menjalankan peran.
Aku sedang menjalani panggilan. Aku tidak memisahkan kerja, relasi, iman, luka, harapan, dan pelayanan. Semuanya menjadi satu kehidupan yang utuh.
Dan kalau aku membaca perjalananku hari ini, Novi...aku rasa aku sedang berdiri di perbatasan antara Level 5 dan Level 6.
Dulu aku belajar sistem. Hari ini aku mulai melihat dirimu di dalam sistem. Dan dari situlah steward sejati biasanya lahir. Bukan dari orang yang paling pintar membaca sistem. Tetapi dari orang yang akhirnya berani berkata:
"Aku juga bagian dari cerita ini." 🌱🤍
Aku sjimpan catatan ini ya. Karena beberapa tahun lagi, mungkin aku akan tersenyum dan berkata:
"Oh... jadi hari inilah aku mulai berhenti melawan kepekaanku, dan mulai belajar menatanya menjadi pelayanan." ✨
Hari ketika aku mulai percaya pada apa yang kurasakan
Catatan Perjalanan
Hari ini aku menangis berkali-kali. Awalnya aku hanya ikut Pak Rasyid berkeliling bertemu beberapa orang. Aku lebih banyak diam daripada berbicara. Tapi justru dalam diam itu aku mulai menyadari sesuatu.
Selama ini aku sering menangkap suasana ruang, kualitas hubungan, rasa percaya, rasa tidak percaya, penerimaan, penolakan, dan hal-hal yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Aku bisa merasakan ketika orang nyaman. Aku bisa merasakan ketika orang defensif. Aku bisa merasakan ketika hubungan mulai terbuka. Tapi selama bertahun-tahun aku tidak punya bahasa untuk menjelaskan apa yang kurasakan.
Aku bahkan sempat berpikir ada yang salah denganku. Aku takut dianggap aneh. Aku takut hanya mengarang. Aku takut tidak ada tempat untuk kemampuan seperti ini.
Hari ini aku mulai melihat bahwa mungkin yang selama ini kurasakan memang nyata.
Aku teringat YAF. Aku teringat ketika pertama kali mendengar:
"Keberhasilan intervensi tidak terutama ditentukan oleh metode, tetapi oleh kondisi batin orang yang melakukan intervensi."
Waktu itu aku paham secara pikiran. Hari ini aku mulai memahaminya melalui pengalaman. Aku melihat bagaimana rasa aman mengubah percakapan. Aku melihat bagaimana penerimaan membuka kemungkinan. Aku melihat bagaimana hubungan lebih menentukan daripada teknik.
Aku juga teringat Juli 2025. Saat menjadi MC Dialog Yurisdiksi Karet. Aku tidak terlalu percaya diri. Aku tidak merasa sempurna. Tapi aku berkata:
"Aku mau coba."
Hari ini aku sadar, mungkin keberanian terbesar dalam hidupku bukan saat merasa yakin. Tetapi saat tetap melangkah meskipun belum yakin.
Hari ini aku mengunjungi Museum Musi Banyuasin. Aku melihat timeline sejarah. Anehnya aku merasa sangat lelah dan terharu. Aku merasakan perjuangan, kehilangan, pengorbanan, harapan, dan kesungguhan orang-orang yang hidup sebelumku. Aku merinding.
Dan untuk pertama kalinya aku tidak langsung menganggap diriku berlebihan. Aku hanya menerima bahwa aku memang merasakannya.
Aku juga berbincang dengan Mas Giri. Ia bercerita tentang kelelahan yang selama ini disimpan sendiri. Dan aku terkejut. Dulu mungkin aku akan menghindari percakapan seperti itu.
Hari ini aku justru ingin mendengar. Bukan untuk menyelesaikan. Bukan untuk memperbaiki. Hanya untuk menemani.
Pelajaran terbesar hari ini bukan tentang fasilitasi. Bukan tentang Theory U. Bukan tentang Systems Thinking. Pelajaran terbesar hari ini adalah:
Aku tidak gila.
Aku tidak rusak.
Aku tidak terlalu sensitif.
Aku hanya sedang belajar mempercayai apa yang selama ini sudah kurasakan.
Dan ternyata itu sangat melelahkan. Tetapi juga sangat melegakan.
Jika suatu hari nanti aku membaca catatan ini lagi... Saat pekerjaan semakin besar. Saat forum semakin banyak. Saat orang-orang mulai menyebutku fasilitator, convener, atau steward. Aku ingin mengingat satu hal bahwa jangan lupakan Novi yang hari ini menangis.
Karena dari air mata inilah lahir keberanian untuk mempercayai dirinya sendiri. Dan mungkin...inilah salah satu hari ketika perjalanan menjadi Steward of Connection benar-benar dimulai.
— Novi, yang akhirnya mulai menemukan bahasa untuk apa yang selama ini ia rasakan...
Dari Aku Harus Mengubah Sistem menjadi Aku Harus Bertanggung Jawab atas Bagianku