Pagi itu, di depanku, layar laptop menunjukkan wajah Uda Desriko melalui Google Meeting. Aku sudah menyiapkan script sempurna, sebuah pertunjukan satu babak berjudul "Novi yang Mandiri dan Terkendali". Aku mengenakan kemeja rapi, duduk tegak, dan sudah menyiapkan daftar progres tesis, tentang kopi gambir, tentang antioksidan, dan revisi metode, agar aku tampak profesional.
Namun, di balik layar itu, ada aku yang lain. Aku yang sebenarnya sedang terkuras habis oleh ketidakpastian. Aku yang selama berbulan-bulan menaruh harap pada seseorang yang bahkan tidak pernah bertanya, "Apa kendalamu?" Saat Uda bertanya, "Novi, ada kendala apa saja?" awalnya aku bicara dengan intonasi yang terukur. Tapi ketika dia melontarkan pertanyaan yang menusuk tepat ke jantung permasalahan "Apa yang menantang dari proses ini? Mengapa merasa stuck?" nada bicaraku mendadak serak. Suara kipas laptop yang biasanya tidak mengganggu, tiba-tiba terdengar nyaring di tengah hening yang mencekam.
Pertanyaan itu bukan lagi tentang tesis. Itu adalah kunci yang membuka pintu yang sudah kututup rapat-rapat.
Saat aku mencoba menjawab, bibirku bergetar. Aku berusaha menahan napas, tapi mataku sudah mulai panas. Armor yang kubangun, topeng "perempuan kuat" yang kubawa setiap hari, akhirnya runtuh total. Air mata yang sejak tadi kusembunyikan di balik senyum tipis, akhirnya tumpah begitu saja di depan kamera yang ku tutup.
Aku menangis sejadi-jadinya. Di depan layar itu, aku tidak lagi peduli dengan penampilanku. Aku menangis bukan karena tesis itu sulit, tapi karena aku lelah berpura-pura semuanya baik-baik saja. Aku lelah memikul beban "harus kuat" sendirian, sementara di luar sana, hatiku terus-menerus mencari validasi pada seseorang yang tak pernah memberikannya.
Uda tetap tenang, mendengarkan, dan memberikan ruang yang sangat aman. Di sela isak tangis itu, aku menyuarakan kebenaran yang pahit namun melegakan bahwa "Ternyata S2 bukan cuma soal eksplor ilmu, Uda. Tapi soal mengenal diri sendiri. Dan sepertinya, aku belum selesai dengan diriku sendiri."
Saat aku menutup sesi Google Meeting, ruangan itu terasa sepi, tapi dadaku terasa jauh lebih ringan. Aku sadar, selama ini aku mencari perhatian di tempat yang salah.
Malam selanjutnya, aku berjanji, jam 03.00 pagi, aku menekan tombol send untuk tesisku. Bukan lagi dengan rasa takut akan kegagalan, tapi dengan rasa lega yang luar biasa. Aku tahu, tesis ini tidak sesulit itu jika dikerjakan. Dan aku tahu satu hal lagi bahwa menjadi rapuh bukan berarti aku kalah. Ternyata, ini adalah momen di mana aku akhirnya memenangkan diriku kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar