Senin, 15 Juni 2026

Aku Menangis Lagi karena Tesis


Pagi ini aku menangis lagi.

Bukan karena ada revisi baru.

Bukan karena dosen marah.

Bukan karena datanya hilang.

Aku menangis karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku melihat perjalanan ini dengan lebih jernih.

Beberapa bulan lalu, aku duduk di depan dosen pembimbingku.

Di ruangan itu ada mahasiswa lain yang sedang konsultasi. Mereka terlihat pintar. Mereka terlihat lancar menjelaskan penelitiannya.

Lalu giliranku tiba.

Aku tidak ingat persis apa yang kukatakan.

Yang kuingat hanya satu hal:

Aku menangis.

Aku malu sekali.

Aku merasa tesis ini tidak selesai-selesai.

Aku merasa tertinggal.

Aku merasa gagal.

Padahal jika ditanya, penelitian sudah selesai. Data sudah ada. Analisis sudah ada. Bahkan sebagian besar revisi sudah dilakukan.

Tapi entah kenapa, setiap kali membuka file itu rasanya berat sekali.

Setelah keluar dari ruangan, aku masih menangis.

Aku masuk ke kamar mandi.

Duduk di kursi.

Menangis lagi.

Pulang ke rumah.

Masih menangis.

Lalu pelan-pelan aku kembali membuka file itu.

Mengganti metode yang salah.

Konsultasi lagi.

Memperbaiki satu bagian.

Lalu bagian lainnya.

Sampai akhirnya aku tiba di pagi ini.

Pagi ketika aku menyadari sesuatu.

Selama ini aku mengira masalahnya adalah aku belum siap.

Belum cukup yakin.

Belum cukup paham.

Belum cukup disiplin.

Belum cukup baik.

Padahal mungkin bukan itu.

Mungkin selama ini aku hanya terlalu lama membawa beban ini sendirian.

Aku selalu ingat tesis ini.

Setiap hari.

Di sela-sela kerja.

Di sela-sela rapat.

Di sela-sela perjalanan.

Aku tidak pernah benar-benar melupakannya.

Aku hanya terlalu lelah untuk membukanya.

Dan pagi ini aku menangis ketika menyadari satu kalimat sederhana:

"Dulu aku menunggu diriku siap untuk melangkah.

Sekarang aku melangkah, lalu perlahan menjadi siap di perjalanan."

Ternyata selama ini aku memang berjalan.

Pelan.

Tersendat.

Kadang berhenti.

Kadang menangis.

Tapi tetap berjalan.

Saat aku menangis pagi tadi, ibuku melihat.

Beliau tidak berkata apa-apa.

Aku juga tidak berkata apa-apa.

Aku hanya masuk kembali ke kamar.

Dan untuk pertama kalinya setelah lama sekali, aku tidak ingin lari dari tesis ini.

Aku ingin membuka laptop.

Menyelesaikan bagian yang masih kurang.

Lalu mengirimkannya.

Bukan karena semuanya sudah sempurna.

Tapi karena perjalanan ini tidak lagi membutuhkan kesempurnaan untuk bisa melangkah.

Dan mungkin itu pelajaran terbesar yang diberikan tesis ini kepadaku.

Bukan tentang kopi.

Bukan tentang gambir.

Bukan tentang statistik.

Melainkan tentang seorang perempuan yang perlahan belajar mempercayai dirinya sendiri lagi.

Tesisku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar