Jumat, 12 Juni 2026

Tentang Singgasana, Meja Makan, dan Sepasang Singa yang Belajar Diam

​Ada satu momen dalam hidup ketika garis antara dunia profesional yang kita geluti, masa depan bisnis yang kita impikan, dan ruang personal di dalam hati mendadak melebur di satu meja yang sama. Kemarin, di sebuah tempat makan kasual di tengah perjalanan dinas kami, saya mendapati diri saya sedang duduk di antara dua energi yang berbeda: riuhnya obrolan luar, dan heningnya sebuah dunia internal yang sedang bergolak.

​Di usia 28 tahun ini, otak saya sering kali dipaksa bekerja layaknya sebuah sistem adaptif yang cerdas. Ia harus melompat dari satu peran ke peran lain dalam hitungan detik. Di satu jam, saya adalah seorang perempuan yang utuh dengan segala letup gairah kemudaan dan kehangatan personal yang intens. Di jam berikutnya, saat duduk di meja makan bersama rekan kerja, saya harus kembali mengenakan mahkota sebagai seorang akademisi dan convener yang memikirkan ekosistem lokal.

​Saat obrolan bergulir, saya melemparkan sebuah keinginan: “Kalau ke Lampung ikut ya, mau lihat skala industri nata de coco di sana.” Sebuah pertanyaan teknis meluncur, dan seketika itu juga, isi kepala saya mendadak penuh. Bayangan tentang mesin-mesin industri, standardisasi bahan baku kelapa, dan tanggung jawab besar Skycoco membuat dada saya berdegup kencang. Ada gelombang ketidakpastian profesional yang bercampur dengan sisa-sisa keintiman emosional yang baru saja lewat.

​Pada detik itulah, sebuah keajaiban kecil terjadi.
​Saya tidak memilih untuk panik, tidak mengobral kata-kata, dan tidak mencari validasi dari pria di sebelah saya. Secara sadar, saya meletakkan tangan di atas dada sendiri. Saya mengelusnya perlahan. Mengirimkan sinyal ke setiap saraf tubuh bahwa saya aman, saya utuh, dan saya memegang kendali penuh atas diri saya sendiri. Itu adalah momen regulasi diri yang sangat mahal di depan publik.

​Obrolan semakin seru ketika saya menyambungnya dengan ide pemanfaatan kotoran sapi skala pedesaan di desa paman saya. Rekan kerja saya sempat tertawa, meledek dengan nada bergurau bahwa saya terlalu idealis. Visualisasi tentang "sapi liar yang memakai kantong kotoran" di tengah desa memang melahirkan tawa yang renyah di meja itu. Semua orang terhibur.

​Namun, saya menatap mereka dengan tegak dan berkata, “Idak gaes, ini serius.”
​Saya menoleh ke arahnya, seorang pria yang selama ini saya kagumi karena ketajamannya dan menembaknya dengan pertanyaan teknis tentang kalkulasi volume limbah. Di balik tawa yang pecah, saya tahu ada sebuah rasa hormat yang sedang mengkristal dalam diam. Pria maskulin tidak akan pernah bisa digerakkan oleh rengekan emosional; mereka hanya akan tunduk pada perempuan yang memiliki kedalaman visi, empati yang nyata pada masyarakat, dan kedaulatan atas batinnya sendiri.

​Hari ini, akhir pekan tiba dengan sebuah keheningan teks yang panjang. Tidak ada kabar, tidak ada sapaan manis pasca-keintiman kemarin.

​Dulu, mungkin pola lama saya akan panik, menatap layar dengan cemas, dan merasa "terjebak" dalam perasaan sendiri. Namun pagi ini, tulisan ini menjadi pengingat yang kokoh: Bahwa ruang diam ini adalah sebuah berkah.

​Gary John Bishop dalam bukunya pernah mengingatkan kita untuk melepaskan segala ekspektasi tersembunyi agar kita bisa memeluk realitas dengan kuat. Keheningan pagi ini bukanlah penolakan, melainkan ruang jeda yang adil bagi sepasang singa untuk kembali ke teritorinya masing-masing. Dia berhak menikmati dunianya hari ini, dan saya mutlak berhak atas kedaulatan masa depan saya di Sekayu.
  
​Keintiman kemarin adalah keputusan indah yang saya ambil sebagai wanita dewasa yang merdeka. Dan keseriusan saya di meja makan adalah bukti bahwa saya tidak akan pernah mengecilkan kebutuhan hidup saya demi siapa pun.

​Saya adalah Ratu atas singgasana saya sendiri. Pria tampan dengan pesona mudanya itu adalah bab yang manis, tetapi tesis, Skycoco, dan masa depan agroindustri ini adalah buku besar kehidupan yang sedang saya tulis dengan tinta emas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar