Ada masa dalam hidupku ketika sebagian besar energi batinku habis untuk menafsirkan tanda-tanda. Sebuah foto profil yang berubah. Pesan singkat yang datang di waktu tertentu. Kalimat sederhana yang bisa kubaca berulang kali hingga menemukan puluhan kemungkinan makna.
Saat itu aku mengira aku sedang berusaha memahami seseorang. Namun bertahun-tahun kemudian, aku menyadari sesuatu yang berbeda. Mungkin selama ini aku tidak sedang mempelajari dirinya. Aku sedang mempelajari diriku sendiri.
Beberapa tahun lalu, aku hidup di ruang tunggu yang sangat panjang. Ruang tunggu yang tidak memiliki tanggal pasti. Tidak ada penolakan yang benar-benar jelas. Tidak ada penerimaan yang benar-benar nyata.
Hanya ada harapan-harapan kecil yang muncul sesekali, lalu menghilang lagi sebelum sempat menjadi kepastian.
Di ruang seperti itu, pikiran manusia menjadi sangat kreatif. Kita mulai belajar membaca jeda. Menafsirkan keheningan.
Mencari arti dari hal-hal yang mungkin sebenarnya tidak dimaksudkan untuk memiliki arti sebesar itu. Aku juga melakukannya. Dan jika aku jujur, aku melakukannya cukup lama. Sangat lama.
Namun ada satu hal yang tidak kusadari saat itu. Setiap kali aku sibuk membaca tanda dari luar, aku semakin jarang mendengar suara dari dalam. Aku tahu apa yang dilakukan orang lain. Tetapi aku tidak selalu tahu apa yang sedang terjadi di hatiku sendiri. Aku tahu kapan seseorang datang dan pergi. Tetapi aku tidak selalu tahu mengapa kesepian terasa begitu menakutkan.
Aku tahu bagaimana berharap. Tetapi aku belum sepenuhnya memahami bagaimana menerima.
Lalu hidup mulai memperlambat langkahku. Tesis yang tertunda. Pekerjaan yang menumpuk. Tubuh yang lelah. Air mata yang datang tanpa alasan yang bisa dijelaskan dengan logika.
Untuk pertama kalinya aku berhenti bertanya: "Mengapa dia seperti itu?"
Dan mulai bertanya: "Mengapa aku begitu terluka?"
Pertanyaan itu mengubah banyak hal. Karena jawabannya ternyata tidak berada di luar diriku. Jawabannya berada jauh lebih dekat. Di dalam.
Aku mulai menyadari bahwa yang paling membuatku lelah bukanlah seseorang. Melainkan kebiasaanku mempertahankan harapan bahkan ketika kenyataan sudah lama berubah. Aku terus menyiram daun yang mulai mengering tanpa pernah melihat akar yang sedang kehausan. Padahal yang sebenarnya kubutuhkan bukan lebih banyak tanda.
Aku membutuhkan lebih banyak kehadiran untuk diriku sendiri. Lebih banyak kejujuran. Lebih banyak keberanian untuk mengakui bahwa aku sedang berduka.
Perlahan aku belajar sesuatu yang sebelumnya sulit kupahami. Rindu tidak selalu harus diikuti tindakan. Tidak setiap rasa kangen harus dikirimkan menjadi pesan. Tidak setiap pertanyaan harus mendapat jawaban. Dan tidak setiap kisah harus berakhir dengan cara yang kita inginkan agar menjadi berharga.
Ada kisah yang tugasnya bukan untuk dimiliki. Ada kisah yang tugasnya hanya untuk mengajarkan.
Hari ini, jika aku melihat kembali catatan-catatan lamaku, aku tidak merasa malu. Aku justru merasa bersyukur. Karena di balik semua air mata, kebingungan, dan analisis yang berlebihan itu, ada pelajaran yang sangat mahal.
Aku belajar bahwa manusia bisa menghabiskan bertahun-tahun mencari rumah pada orang lain, sebelum akhirnya menemukan jalan pulang kepada dirinya sendiri.
Apakah aku masih bisa merasakan rindu? Tentu. Aku masih manusia. Tetapi kini rindu bukan lagi pengemudi yang memegang kemudi hidupku. Ia hanya penumpang yang duduk tenang di sampingku.
Aku mendengarnya. Aku menghormatinya. Tetapi aku tidak lagi menyerahkan arah perjalanan kepadanya. Dan mungkin itulah hadiah terbesar dari seluruh perjalanan ini.
Bukan karena aku berhasil melupakan seseorang. Melainkan karena aku mulai mengingat diriku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar