Selasa, 23 Juni 2026

Ketika Kepala yang Berisik Akhirnya Mendapat Tempat Duduk

Aku pernah berpikir bahwa menjadi dewasa berarti mampu menanggung semuanya sendiri. Pikiran sendiri. Perasaan sendiri. Keputusan sendiri. Kalau ada yang membuatku sedih, aku harus bisa mengatasinya. Kalau ada yang membuatku bingung, aku harus bisa mencari jawabannya. Kalau ada yang membuatku lelah, aku harus tetap berjalan. Aku pikir begitu.

Sampai beberapa hari lalu. Kami hanya duduk. Tidak ada acara besar. Tidak ada momen dramatis. Tidak ada percakapan yang akan mengubah dunia. Hanya duduk, ngobrol, berpindah dari satu topik ke topik lain. Tesis.
Power mapping. MPP. TPST. Karbon. RAB. Kopi.
Hidup. Hal-hal yang tampak biasa. Namun ada sesuatu yang tidak biasa. Aku tidak sedang berusaha menjadi versi terbaik diriku. Aku tidak sedang menyusun kalimat yang sempurna. Aku tidak sedang menjaga citra. Aku hanya duduk. Dan menjadi manusia.

Di perjalanan pulang, aku baru sadar sesuatu. Kepalaku tidak sakit. Biasanya, ketika terlalu banyak hal menumpuk di dalam kepala, tubuhku ikut merasakan. Kepala terasa penuh. Badan terasa berat. Pikiran seperti berputar tanpa henti. Tapi hari itu berbeda. Aku merasa ringan. Seolah ada beban yang selama ini kubawa tanpa sadar, perlahan diletakkan.

Malamnya aku menulis sesuatu. "Dan ternyata aku tidak harus melakukan semuanya sendirian." Kalimat sederhana. Tetapi saat menuliskannya, aku menangis. Karena aku sadar, selama ini yang melelahkan bukan tugasnya. Bukan tesisnya. Bukan pekerjaannya. Melainkan keyakinan bahwa aku harus memikul semuanya sendiri.

Akhir-akhir ini aku mulai memahami sesuatu tentang diriku.
Ternyata aku termasuk orang yang memahami isi kepalanya setelah mengucapkannya. Aku berpikir lewat kata-kata. Lewat tulisan. Lewat percakapan.nSaat diam terlalu lama, pikiranku menjadi bising. Bukan karena ada yang salah. Memang begitulah cara kerjaku. 

Dan mungkin selama ini aku terlalu sibuk mencoba menjadi orang yang tidak membutuhkan siapa-siapa. Ada kalimat yang terus terngiang setelah hari itu. Bukan tentang kedekatan. Bukan tentang kerinduan. Bukan tentang siapa pun. Tapi tentang "Aku boleh duduk bersama seseorang tanpa harus menjadi versi terbaik diriku."

Mungkin itu yang disebut rasa aman. Bukan ketika seseorang menyelesaikan masalah kita. Tapi ketika kita tidak harus menyembunyikan keberadaan masalah itu. Akhirnya aku belajar sesuatu. Kadang yang kita butuhkan bukan solusi. Bukan nasihat. Bukan jawaban. Kadang yang kita butuhkan hanyalah tempat duduk.

Tempat untuk meletakkan isi kepala yang terlalu lama kita bawa sendiri. Dan ketika menemukannya, kita sering berkata:
"Ah, ternyata begini rasanya menjadi manusia."

Catatan kecil. 
Jika akhir-akhir ini kepalamu terasa penuh, mungkin bukan karena kamu lemah. Mungkin ada sesuatu yang sudah terlalu lama ingin didengar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar