Selasa, 07 Juli 2026

Ketika Sebuah Panggilan Menjadi Tempat Pulang

"Apa perasaan sayang kalau lagi dipanggil sayang gini?" Aku bertanya sambil tersenyum sendiri. Jawabannya sederhana.
"Oo... biasa aja."

Aku tertawa. Lalu penasaran lagi. "Biasa yang gimana?"
Aku mencoba menggali, berharap menemukan jawaban yang romantis. Ternyata tidak. Ia hanya menjawab, "Ya gitulah."

Lalu beberapa saat kemudian ia berkata, "Makanya panggil abang aja. Nanti keceplosan di tempat umum, enggak enak."

Aku kembali tersenyum. Bukan karena jawabannya manis. Justru karena jawabannya biasa. Dan mungkin, di situlah aku belajar sesuatu. Selama ini aku sering berpikir bahwa cinta selalu hadir dalam kalimat-kalimat besar. Padahal ternyata, ia juga bisa hadir dalam percakapan yang sangat sederhana.

Tentang sebuah panggilan. Tentang seseorang yang mengingatkan agar hati-hati. Tentang seseorang yang berkata, "Bobok dulu, ngantuk."

Saat itu aku menjawab, "Panggil sayang itu rasanya senang." 

Dan setelah mengirim kalimat itu, aku menyadari sesuatu. Bukan karena kata sayang-nya. Tetapi karena ketika mengucapkannya, aku merasa tenang.

Aku merasa lega. Aku merasa tidak sedang menjadi siapa-siapa. Tidak sedang menjadi fasilitator. Tidak sedang menjadi mahasiswa. Tidak sedang mengejar prestasi. Hanya menjadi seseorang yang sedang menikmati kedekatan dengan orang lain. Lucunya lagi, sebelum tidur ia masih sempat bercanda. "Nanti ada efek pula itulah kebanyakan manggil sayang."

Aku tertawa sendiri. Mungkin memang benar. Mungkin efeknya akan pada hatiku yang sedang belajar menikmati sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan. Dan malam itu aku sadar...Kadang yang membuat kita merasa dicintai bukanlah kata-kata yang paling indah. Tapi rasa aman yang perlahan tumbuh saat kita bisa menjadi diri sendiri.

Catatan kecil untuk diriku sendiri, 
Dulu aku mengira cinta selalu harus dibuktikan dengan kepastian. Hari ini aku belajar bahwa cinta juga bisa tumbuh lewat percakapan-percakapan kecil. Lewat tawa. Lewat perhatian sederhana. Lewat pertanyaan receh. Dan lewat satu panggilan yang, entah kenapa, membuat hatiku merasa lebih tenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar