Selasa, 07 Juli 2026

Aku Mengalami Pengalaman yang Berbeda dari Asumsiku

Selama sebulan Juni ini, aku sering menulis satu kalimat yang sama. "Aku mengalami pengalaman yang berbeda dari asumsi yang kubangun."

Awalnya kalimat itu lahir dari pengalaman yang berat. Tentang rasa takut, tentang menangis berhari-hari, tentang menyadari ternyata tidak semua orang akan pergi ketika kita sedang rapuh. Lucunya, beberapa hari kemudian kalimat itu muncul lagi. Kali ini... gara-gara tahu Sumedang.

Kami sedang mengobrol biasa. Aku semangat sekali ingin bercerita.
"Sayang, sayang... kami naik travel berangkat jam 10 lewat. Terus kami nggak stop di Tahu Sumedang. Terus aku lihat mobil yang berangkat jam 10. Kami duluan, lebih cepat kami, sayang."

Di kepalaku, cerita ini akan berakhir pada pembahasan soal waktu tempuh. Tapi jawabannya malah begini.
"Nggak stop karena nggak punya duit."

Aku diam sekitar satu detik. Lalu ketawa. Ketawa yang benar-benar nggak bisa ditahan. Karena... sama sekali bukan itu jawaban yang kubayangkan. Padahal masuk akal. Lucu. Dan entah kenapa, spontan sekali. Sejak saat itu, setiap lihat tulisan "Tahu Sumedang", aku malah ingat kalimat itu.

Aku baru sadar. Mungkin yang membuatku tertawa bukan hanya leluconnya. Tapi karena aku sedang mengalami sesuatu yang beberapa bulan lalu hampir tidak pernah kurasakan. Aku mulai menikmati hal-hal kecil. Candaan receh. Percakapan yang tidak harus sempurna. Jawaban yang tidak sesuai ekspektasi. Dan ternyata... itu menyenangkan.

Selama ini aku sering membangun banyak asumsi di kepalaku. Bagaimana seseorang akan merespons. Apa yang akan mereka pikirkan. Bagaimana percakapan akan berakhir. Padahal hidup tidak selalu mengikuti skenario yang kubuat sendiri. Kadang justru bagian terbaiknya muncul ketika semuanya melenceng dari perkiraan.

Mungkin itulah kenapa akhir-akhir ini aku sering mengulang kalimat yang sama.
 "Aku mengalami pengalaman yang berbeda dari asumsi yang kubangun."

Kalimat itu ternyata tidak hanya berlaku untuk momen-momen besar. Ia juga hidup di percakapan sederhana. Di perjalanan. Di dalam mobil. Di sebuah rumah makan tahu Sumedang yang bahkan tidak kami singgahi. Dan siapa sangka, justru dari sana aku pulang membawa tawa.

Mungkin bertumbuh bukan berarti hidup tiba-tiba menjadi ringan. Kadang bertumbuh hanya berarti kita mulai bisa tertawa pada hal-hal sederhana yang dulu mungkin akan kita lewatkan. Dan ternyata, itu sudah cukup membuat hati terasa sedikit lebih lapang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar