Aku sedang membaca The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry ketika sebuah kalimat membuatku berhenti cukup lama “Dari mana datangnya emosi ini?”
Bukan, bukan karena aku sedang memikirkan anak. Aku malah sedang memikirkan seseorang yang kupanggil sayang. Beberapa hari sebelumnya, dia bilang akan pergi ke Jambi. Sebenarnya aku bisa menunggu. Tiga hari, bahkan. Aku tidak menghubunginya selama itu. Dan pada akhirnya, tanggal 26, dia datang sendiri.
Kalau dipikir-pikir, bukankah itu menarik? Aku yang selama ini kadang merasa takut ditinggalkan ternyata bisa menunggu ketika aku tahu konteksnya.
Lalu aku ingat kejadian tanggal 22. Hari itu aku sedang ingin terhubung. Aku sempat bilang kepadanya, “Eh aku lagi pengen terhubung.”
Lalu di tengah percakapan, dia bilang mau ke Jambi. Tiba-tiba. Aku belum sempat bertemu. Aku bahkan mengira hari itu mungkin masih ada kesempatan untuk bertemu. Aku langsung panik. Aku banyak chat. Aku bertanya kapan pergi, berapa lama, sudah di jalan atau belum. Sampai akhirnya aku bisa mengatakan dengan cukup jujur, “Aku lagi mode siaga ditinggal.”
Kalimat itu ternyata bukan cuma candaan. Aku memang sedang takut. Takut pergi. Takut tidak tahu.nTakut tidak tahu kapan pulang.
Beberapa hari kemudian, aku teringat sesuatu dari masa kecil. Dulu, bibiku sering datang dari Jakarta ke desa. Aku bisa pergi bermain seperti biasa. Lalu ketika pulang, bibiku sudah tidak ada. Dia sudah pulang. Tanpa bilang.nDan aku tidak pernah tahu kapan dia datang lagi. Bisa jadi tahun berikutnya. Aku tidak tahu.
Ketika mengingat itu, aku mulai memahami kenapa ketidakpastian bisa terasa begitu besar bagiku. Mungkin yang membuatku takut bukan sekadar seseorang pergi. Yang membuatku takut adalah pergi tanpa konteks.
Lalu ada kejadian kecil lain yang membuatku semakin mengerti. Aku ingat suatu hari dia bertanya, “Mau makan apa?”
Dia bilang mau makan gado-gado. Aku bilang aku mau tanpa kacang panjang. Lalu dia ingat aku tidak pakai timun. Padahal aku merasa hanya pernah bilang sekali. Dia bahkan masih bertanya, “Pakai telur nggak?” Aku bilang iya. Sederhana sekali. Gado-gado. Kacang panjang. Timun. Telur. Tapi entah kenapa aku masih mengingatnya sampai sekarang. Karena aku senang. Dia mengingat hal kecil tentang aku.
Kalau aku bilang kepada orang lain bahwa aku tidak suka semangka, belum tentu beberapa minggu kemudian mereka masih ingat. Kadang aku bahkan masih ditawari semangka. Dan sebenarnya bukan semangkanya yang penting. Ada rasa kecil yang muncul, “Kamu tadi benar-benar mendengarkan aku?”
Ketika seseorang mengingat hal kecil yang pernah kita ceritakan, rasanya seperti mendapat tanda bahwa "Oh, ternyata aku ada di pikiranmu."
Mungkin itu sebabnya aku senang ketika diberi kabar. Bukan karena aku perlu tahu setiap aktivitasnya. Bukan karena aku ingin mengawasi. Bukan karena dia harus selalu tersedia. Aku baru sadar bahwa ketika seseorang yang penting bagiku memberi sedikit konteks, aku merasa dilibatkan.nAku merasa dianggap penting. Bahkan kabar yang sangat sederhana bisa cukup.
“Abang lagi kerja di Jambi.”
“Kayaknya sampai Sabtu.”
“Abang lagi sibuk.”
“Abang nanti kalau sudah lega kabarin.”
Selesai. Aku bisa mengerti. Aku bisa memberi ruang. Aku bisa kembali mengurus hidupku.
Dan ini bagian yang baru kusadari belakangan bahwa aku ternyata tidak membutuhkan lebih banyak chat. Aku membutuhkan lebih sedikit ruang kosong untuk kutafsirkan sendiri. Karena kalau hanya di-read, pikiranku kadang bekerja terlalu rajin. Dia belum membalas. Lalu otakku mulai bertanya, kenapa? Dia sedang apa? Dia sengaja tidak membalas? Dia masih memikirkan aku? Kenapa tidak bilang apa-apa? Padahal bisa saja jawabannya sangat sederhana. Dia sedang kerja. Dia sedang bertemu orang. Dia sedang capek. Dia sedang tidak ingin memegang ponsel. Aku tidak tahu. Dan ketika tidak tahu, otakku mengisi kekosongan itu dengan cerita.
Mungkin inilah yang sedang diajarkan Philippa Perry kepadaku. Bukan untuk setiap kali merasa sedih lalu menyalahkan masa kecil. Bukan pula untuk mengatakan bahwa semua reaksiku berasal dari masa lalu. Tapi untuk berhenti sebentar dan bertanya, “Apakah perasaanku sepenuhnya berasal dari apa yang sedang terjadi sekarang?” Kadang jawabannya mungkin iya. Kadang tidak. Kadang ternyata ada sesuatu yang lebih lama ikut mengetuk pintu.
Sekarang aku sedang belajar membedakan tiga hal. Apa yang benar-benar terjadi. Dia membaca pesanku. Apa yang kurasakan. Aku kangen. Aku ingin merasa dekat. Aku ingin tahu dia baik-baik saja. Dan apa yang kemudian dibuat oleh pikiranku.
Cerita-cerita yang muncul karena ada bagian yang belum kuketahui. Ternyata ketiganya tidak selalu sama.nDan mungkin kedewasaan emosional bukan tentang berhenti membutuhkan orang lain. Aku masih ingin dikabari. Aku masih ingin dia bilang sedang apa. Aku masih senang ketika dia mengingat hal kecil tentangku. Aku masih ingin merasa menjadi bagian dari kehidupannya. Itu semua tidak perlu dihilangkan.
Yang sedang kupelajari adalah bagaimana menyampaikan kebutuhan itu tanpa menjadikan orang yang kusayang sebagai satu-satunya tempat untuk menenangkan semua ketakutanku.
Aku bisa bilang, “Kalau abang kasih aku konteks, aku lebih mudah memberi abang ruang.”
Kalimat itu terasa jauh lebih jujur daripada, “Abang kok jarang ngabarin?”
Karena ternyata aku tidak sedang meminta lebih banyak perhatian. Aku sedang meminta sedikit konteks agar aku bisa tahu kapan harus mendekat dan kapan harus memberi ruang. Dan mungkin, bagi sebagian orang, itu hal kecil.
Bagi seseorang yang pernah mengalami orang penting pergi tanpa tahu kapan akan kembali, hal kecil itu bisa terasa seperti sebuah pegangan. Bukan untuk menahan seseorang agar tidak pergi. Hanya untuk tahu, “Kamu pergi ke mana, dan kapan kira-kira kita tersambung lagi?”
Supaya ketika kamu pergi, aku tidak perlu berdiri di depan pintu sambil menebak-nebak. Aku bisa menarik napas. Lalu melanjutkan hariku. Sambil tetap tahu bahwa kita masih tersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar