Jumat, 21 Agustus 2026

Aku Nangis Lagi di Farewell LTKL


Aku kira aku sudah selesai nangis. Hehe Bulan ini kayaknya sudah terlalu sering ngomongin LTKL. Exit interview nangis. Ngobrol sama orang nangis. Cerita di rumah nangis. Terus kemarin farewell.

Nangis lagi. Padahal sebelum mulai aku sudah bilang dalam hati, “Oke Novi, tenang. Jangan nangis.”

Terus Kak Giza bilang, “Ya mungkin mau ngobrol-ngobrol aja sama Novi, Eka, Ayu, Mas Umar… bisa sharing dari Novi dulu…”

Aku masih santai. “Oke.” Terus mulai ngomong.

“Terima kasih sebelumnya udah meluangkan waktu…”

Aman. “Jadi untuk minggu ini…”

Masih aman.

“Sebelumnya aku udah cukup sedikit banyak mengenang prosesnya…”

Mulai. Terus entah kenapa ketika ngomong soal melihat kabupaten-kabupaten anggota LTKL sampai hari ini, suara mulai berubah. Ya sudah. Nangis.

Aku bahkan sempat bilang aku pikir semua emosiku sudah keluar karena beberapa hari sebelumnya sudah banyak ngobrol dengan HR dan Uda. Ternyata belum. 

Yang paling lucu dari farewell kemarin, aku sebenarnya tidak merasa sedang pergi dari orang-orangnya. Yang selesai kan perannya. Kontraknya. Pekerjaannya. Handover-nya. Administrasinya. Tapi orang-orangnya? Ya masih ada.

Makanya kemarin waktu ada yang bilang nanti kalau ke Palembang, ke Muba, Jakarta, tinggal colek-colek Novi untuk nongkrong, aku senang. Karena ya memang begitu. Aku mungkin tidak lagi punya tanda tangan LTKL di bawah email. Tapi masih bisa di-chat. Masih bisa ditanya..Masih bisa diajak ngopi. Masih bisa debat sama Eka..Masih bisa ngobrol sama Kak Ayu. Masih bisa dengerin cerita teman-teman kabupaten lain.

Masih bisa ketemu Kak Giza. Masih bisa tiba-tiba dapat chat, “Nov, gimana kabarnya?” Dan mungkin itu yang bikin semuanya tidak terasa seperti hilang.

Aku masuk LTKL setelah lulus S1..Waktu itu ngirim email saja masih belajar. Serius..Sekarang kalau ingat lucu juga. Dulu buka email, mikir:

“Ini harus pakai Dear siapa?”

“Kalimatnya gimana?”

“Kalau terlalu panjang gimana?”

“Kalau terlalu pendek kurang sopan nggak?”

Sekarang?

Kirim. Dulu kalau mau ketemu orang baru juga banyak mikir.nSekarang lima tahun kemudian malah bisa ketemu macam-macam orang dengan latar belakang yang berbeda-beda dan ngobrol soal kabupaten, program, pemerintah, mitra, masyarakat, komoditas, kebijakan, macam-macam.

Kadang ngerti. Kadang sok ngerti dulu. Kadang benar-benar tidak ngerti. Kalau tidak ngerti ya tanya. Kalau masih tidak ngerti, ya tanya lagi. Kalau tetap tidak ngerti, buka Google. Wkwk. Aku juga pernah lima jam buka YouTube cuma untuk belajar mengatur halaman dokumen tesis.nJadi sebenarnya kemampuan “mencari tahu” ini mungkin memang salah satu skill yang paling lama menemaniku.

Kemarin Mas Umar cerita tentang aku sejak 2024. Katanya dia melihat aku makin percaya diri. Makin punya fire. Sering ikut pelatihan. MC. Public speaking. Macam-macam. Terus dia ngomong soal long run. Tentang aku harus tahu sebenarnya mau jadi apa ke depannya. Supaya skill yang kupilih tidak cuma menjadi kumpulan skill. Aku dengar sambil mikir.

“Iya juga ya.” Tapi ya sudah. Belum tahu juga.

Karena kalau ditanya sekarang: “Novi mau jadi apa?” Jawabannya masih panjang. Mau kerja lagi. Mau usaha. Mau belajar lagi. Mau S3. Pengen yang dekat dengan masyarakat. Pengen tetap bisa melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan pembangunan daerah. Pengen riset juga. Tapi kalau ditanya, “Besok pagi harus mulai dari mana?”

Nah. Hehehe. Terus Kak Ayu cerita tentang pertama kali kami ketemu. Katanya waktu baru gabung MSF, aku salah satu orang yang membantu dia mencari tahu harus mulai dari mana. Aku malah lupa detailnya. Tapi ternyata orang lain menyimpan cerita tentang kita yang kita sendiri sudah lupa. Itu lucu.

Ada bagian dari hidup kita yang ternyata masih hidup di kepala orang lain. Eka juga cerita. Kalau aku dan dia sering debat. Memang.

Debatnya juga kadang bukan debat kecil.bTapi habis debat ya sudah. Besok ngobrol lagi. Ada kerjaan lagi. Ada yang perlu dibantu, bantu. Ada yang perlu ditanyakan, tanya. Sampai akhirnya dia bilang hubungan kami bukan lagi sekadar teman kerja. Ya mungkin memang begitu. Lima tahun kan lama. Masa cuma jadi “rekan kerja”.

Terus Bang Edi bilang satu hal yang bikin aku ketawa. Dia bilang dia paling suka lihat aku jago bahasa Inggris. Aku langsung mikir, “Lah?” Karena aku tidak merasa jago-jago amat. Tapi katanya dia lihat aku ketemu orang dari mana-mana dan bisa komunikasi. Terus dia bilang itu menginspirasi. Aku senang dengarnya. Bukan karena merasa “wah aku hebat”. Lebih karena… “Oh, ternyata hal yang buatku sudah biasa, pernah terlihat berarti buat orang lain.”

Uda cerita lebih panjang lagi. Tentang Muba. Tentang program. Tentang politik. Tentang kondisi fiskal. Tentang bagaimana selama beberapa tahun ini aku dan Eka menghadapi macam-macam perubahan di kabupaten. Terus dia bilang aku sudah punya modalitas untuk community development, riset, policy analysis, policy engagement, stakeholder engagement. Aku diem. Dalam hati: “Banyak juga ya istilahnya.”

Tapi memang kalau dipikir-pikir, lima tahun kerja membuat semuanya nyampur. Riset masuk. Pemerintah masuk. Masyarakat masuk. Mitra masuk. Fasilitasi masuk. Kuliah masuk. S2 masuk. Kadang hidup juga rasanya seperti satu folder besar yang isinya terlalu banyak file.

Terus Kak Bella bilang dia sering lihat aku ikut pelatihan. Ini juga benar. Aku memang suka ikut pelatihan. Kadang baru selesai satu, sudah lihat pelatihan lain. “Kayaknya menarik.” Daftar. Entah nanti kepakai atau tidak, tapi aku senang belajar.

Kak Teo juga cerita tentang obrolan kami. Tentang buku. Mental health. Self-development. Hal-hal yang sering kami chat-kan secara informal. Aku baru sadar ternyata ternyata banyak juga ya yang kami obrolkan. 

Terus Kak Giza bilang dia bangga melihat pertumbuhanku. Nah. Bagian itu bikin nangis lagi. Karena kalau aku sendiri yang melihat Novi lima tahun lalu dan Novi sekarang, mungkin aku lebih sibuk melihat kekurangannya. Tapi kemarin orang-orang malah cerita tentang apa yang mereka lihat. Dan aku cuma duduk. Dengerin. Nangis. Ketawa. Nangis lagi.

Aku juga bilang sesuatu kemarin. Aku bilang mungkin aku cuma bisa bilang terima kasih dan maaf. Kalau selama bekerja ada kata-kata yang salah. Ada pekerjaan yang kurang maksimal. Ada hal yang mungkin membuat orang lain tidak nyaman. Aku minta maaf. Tapi satu hal yang benar bahwa aku selalu berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa.

Kadang hasilnya bagus. Kadang tidak. Kadang aku tahu harus bagaimana. Kadang aku benar-benar bingung. Tapi ya tetap dikerjakan.

Lima tahun itu panjang. Kalau dihitung dari email pertama yang masih mikir lama sampai sekarang bisa ngobrol tentang pekerjaan, kuliah, riset, fasilitasi, pemerintah, mitra, dan macam-macam hal dengan banyak orang… Lumayan jauh juga. Dan sekarang tiba-tiba selesai. Jumat terakhir. Sabtu. Minggu. Lalu Senin bukan lagi hari kerja LTKL. Aneh.

Aku belum terbiasa dengan kalimat itu. Mungkin nanti terbiasa. Mungkin juga tidak terlalu cepat.

Kemarin setelah selesai, kami foto bersama. Ketawa. Minta foto lagi. Ketawa lagi. Ada yang bilang mixed feeling. Memang. Senang. Sedih. Bangga. Terharu. Semuanya numpuk. Terus ada yang bilang, “Petualangan Novi selanjutnya.”

Aku suka kalimat itu. Karena memang belum tahu petualangannya ke mana. Belum tahu akan ketemu siapa. Belum tahu kerja di mana. Belum tahu akan tinggal di mana. Belum tahu kapan sekolah lagi. Belum tahu apakah usaha akan jalan lagi. Belum tahu banyak hal. Tapi ya sudah. Kemarin satu fase selesai. Aku nangis. Teman-teman juga bilang sayang. Kami foto. Kami ketawa. Kami bilang nanti ketemu lagi. Terus pulang. Begitu saja.

Besok-besok kalau ada yang ke Muba, chat Novi. Kalau Novi ke Palembang, cari teman.bKalau ketemu di tempat lain, ya ngobrol lagi. Karena mungkin memang tidak ada adegan dramatis ketika sebuah hubungan selesai.

Yang selesai cuma satu bagian dari hidup. Yang lainnya tetap jalan.Dan Novi? Ya masih Novi. Cuma sekarang tidak pakai embel-embel LTKL di belakangnya. Hehehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar