"Gimana perasaannya?"
Pertanyaan itu datang setelah ucapan selamat. Sederhana sekali. Aneh ya, tapi di situ aku berhenti. Mataku langsung berkaca-kaca.
Aku baru sadar, selama beberapa bulan terakhir, hampir semua pertanyaan yang kuterima adalah tentang progres.
"Revisinya sudah?"
"Sidangnya kapan?"
"Nilainya sudah keluar?"
"Yudisium jadi?"
Tidak ada yang salah dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Semuanya memang penting. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya setelah semuanya selesai, ada seseorang yang bertanya tentang aku.
Bukan tentang tesisnya. Bukan tentang gelarnya. Bukan tentang IPK-nya. Tentang perasaanku. Dan ternyata... aku belum benar-benar sempat menjawab pertanyaan itu untuk diriku sendiri.
Kalau ditanya bagaimana rasanya, jawabannya tidak sesederhana "senang". Ada lega. Ada haru. Ada capek yang baru terasa setelah garis akhirnya terlihat. Ada syukur yang membuatku ingin terus mengucapkan Alhamdulillah. Tapi kalau jujur, ada juga sedih.
Sedih ketika mengingat hari-hari saat rasanya semua berjalan lebih lambat dari yang kubayangkan. Saat melihat teman-teman mulai selesai lebih dulu. Saat revisi terasa tidak ada habisnya. Saat sempat bertanya dalam hati, "Apa aku juga akan sampai?"
Hari ini semua itu sudah lewat. Tapi ternyata ingatannya masih tinggal.
Aku juga sadar, selama proses itu aku cukup sering menangis. Lucunya, bukan hanya karena sedih. Aku menangis ketika lega. Menangis ketika merasa sangat disayang. Menangis ketika akhirnya sesuatu yang kuusahakan berhasil. Menangis ketika Allah menunjukkan jalan yang sebelumnya tidak kulihat.
Dulu aku mengira menangis selalu berarti ada yang salah. Sekarang aku belajar bahwa terkadang air mata hanyalah cara hati mengembuskan sesuatu yang terlalu besar untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Ada satu kalimat yang terus terngiang beberapa hari ini. Aku memilih bertahan. Bukan karena aku selalu kuat. Tapi karena ada banyak hari ketika aku merasa tidak kuat. Bertahan bukan berarti berjalan tanpa lelah. Kadang bertahan hanya berarti membuka laptop lagi setelah ingin menyerah. Mengirim revisi lagi setelah merasa cukup. Berdoa lagi ketika belum melihat hasilnya. Melangkah lagi, walaupun pelan.
Hari yudisium ternyata bukan hanya tentang menerima gelar. Bagiku, hari itu seperti Allah sedang memperlihatkan kembali seluruh perjalanan yang pernah ingin kulepaskan. Dan di ujungnya, aku hanya bisa tersenyum sambil berkata,
"Ternyata aku sampai juga."
Terima kasih, ya Allah. Terima kasih kepada semua orang yang membersamai perjalanan ini.
Dan...terima kasih untuk diriku sendiri. Bukan karena berhasil menjadi yang paling hebat. Tetapi karena, berkali-kali, ketika rasanya ingin berhenti... aku tetap memilih bertahan. Alhamdulillahirabbil 'alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar