Rabu, 05 Agustus 2026

Professor Lapanganku



Beberapa hari ini rasanya hidup sedang berhenti sebentar. SKS-ku belum sinkron. Nilai tesis sudah masuk. IPK sudah 4,00. Tinggal satu angka yang belum berpindah tempat. Rasanya lucu juga. Setelah lebih dari dua tahun kuliah, ternyata yang paling menguras kesabaran bukan sidang, tapi menunggu sistem.

Sudah dua hari aku membuka portal kampus berkali-kali. Masih sama. Aku membuat tiket bantuan. Belum ada balasan. Di sela-sela menunggu itu, aku malah jadi sering memikirkan hal lain. Aku kangen dia. Pagi tadi dia mengabari.
"Lanjut, abg ada giat ke Rambutan Banyuasin."

Entah kenapa aku selalu senang kalau dia mengabari. Bukan karena isi pesannya panjang. Justru karena sederhana. Rasanya seperti ada seseorang yang menyempatkan berkata, "Hari ini aku di sini."

Aku membalas. "Semoga giat di Rambutan Banyuasinnya lancar ya, Sayang."
Lalu kutambah lagi.
"Aku senang dikasih kabar giat, Sayang."

Memang begitu. Aku suka mendengar cerita lapangannya. Kalau dia bercerita, selalu ada hutan, desa, masyarakat, harimau, peta, atau jalan yang bahkan belum pernah kudengar namanya. Beberapa hari lalu kami bahkan sempat membahas harimau di dalam mobil.

Dia menelpon seseorang, kupikir itu rekan kerjanya membahas tahun kotoran harimau ditemukan. Setelah selesai sambungan telepon itu, aku langsung bertanya,
"Di mana?"

Dia menjawab santai.
"Di hutan... di rimba."

Sesederhana itu. Padahal buatku, satu kalimat itu langsung membayangkan banyak hal. Mungkin memang karena itu aku selalu menyebutnya dalam hati sebagai profesor lapanganku. Dia tidak mengajar di ruang kelas. Dia mengajar lewat cerita-cerita yang dibawa pulang dari lapangan.

Siangnya, saat sedang membuka Instagram untuk mengusir bosan menunggu kabar dari kampus, tiba-tiba muncul sebuah lowongan. Wildlife Intelligence Virtual Assistant.

Aku membaca pelan. Tentang konservasi. Tentang riset. Tentang memantau percakapan digital mengenai satwa liar. Aku tersenyum sendiri.
"Kayaknya menarik..."

Kubuka CV. Kubaca lagi satu per satu. Ada yang kuhapus. Ada yang kutambah. Lalu mulai menyusun surat pengantar dalam bahasa Inggris. Beberapa kali kubaca ulang. Masih terasa kurang. Kubaca lagi. Sampai akhirnya kupikir, "Sudahlah. Kirim saja."

Email itu pun meluncur. Lucunya, setelah selesai mengirim lamaran, yang pertama kali ingin kulakukan justru bukan menunggu balasan HR. Aku malah membuka WhatsApp.

Lalu mengirim pesan. 
"Assalamualaikum Prof. Lapanganku, klo udah ada waktu dan berkenan, mau konsultasi proposal dan esai lanjutan. Mohon bantuan dan kesediaanya."

Tak lama kemudian kususul satu pesan lagi.
"Hehehe. 🤗"

Aku tertawa sendiri. Kadang aku memang begitu. Bisa sangat serius menyusun CV dan surat lamaran dalam bahasa Inggris. Lima menit kemudian memanggil seseorang dengan sebutan,

"Prof. Lapanganku."

Dan anehnya, panggilan itu terasa pas. Karena kalau suatu hari nanti aku benar-benar bekerja memantau percakapan tentang harimau, hutan, dan konservasi... Aku tahu persis siapa orang pertama yang akan kuceritai dengan semangat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar