Aku sudah lama ingin memberikan sesuatu untuknya. Tanggal kelahirannya 30 September lalu, sebenarnya kami ada rencana bertemu pada tanggal itu tapi dia keburu ke lapangan. Aku sempat memikirkan bagaimana caranya menunjukkan rasa sayangku terhadap hari kelahiran. Aku tidak ingin memakai lilin. Aku juga tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku juga tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Akhirnya 30 September ku isi dengan ungkapan rasa sayangku.
Sejak hari itu, aku masih sering kepikiran, "Sayang, suka apa ya? Aku juga pengen usaha dan melakukan yang terbaik buat Sayang. Wkkw. No clue. Aku juga tidak bertanya ya, padahal dulu katanya klo tidak tau ya bertanya, aku baru kepikiran waktu nulis ini. Wkwk. Baru saja.
Btw, akhirnya kami bertemu. Aku memesan kue sajalah pikirku. Padahal sebenanrnya aku punya hadiah, dan hadiahnya tidak sempat ku berikan. Aku cuma bilang pas diperjalanan anter aku pulang "Sayang, ada pesawat geerak-gerak buat mobil di tasku. Mau dipasang." Katanya tidaj usah, hehe. Aku urungkan niatku mengambilnya di dalam tas. Btw, gift itu bolak-balik dibawa Sekayu - Palembang lebih dari 2 kali. Nanti klo Sayang mau lihat, aku senang sekali.
Btw, waktu di depan kue itu aku tidak tau cara bilangnya. Sejujurnya itu pertama kali aku lalukan sendirian, mungkin waktu kuliah pernah tapi ramai-ramai. Aku bahkan sempat mau ngetik ChatGPT cara bersikap dan kata-kata buat disampaikan ke oranf tersayang. Tapi aku urungkan, orangnya sudah di depan mata dan sepertinya insting aja. Wkwk.
“Sayang, aku punya itu, kue.”
Cuma itu yang keluar dari mulutku. Hahaha.
Aku membuka kotak kuenya, meletakkannya di atas meja, lalu memotonginya. Setelah itu, kami diam. Aku juga tidak tahu harus bilang apa lagi. Rasanya lucu, sudah memikirkan ini sejak lama, sudah membawa kuenya, sudah sampai di depan orangnya, tapi ketika momennya tiba, aku malah kehabisan kata-kata.
Lalu dia bilang, “Bawalah.”
Hehe. Kadang aku memang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan rasa sayangku sendiri.
Aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Aku malah bilang terima kasih. Terima kasih sudah mendukungku sampai sejauh ini. Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang menemani perjalananku menyelesaikan tesis, sampai akhirnya aku menerima surat keterangan lulus. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi rasanya tidak semuanya bisa keluar menjadi kalimat, semua rasa terima kasih ini di dalam hati. Wkwk.
Mungkin aku memang lebih mudah menulis daripada mengatakannya langsung. Di dalam tulisan, aku bisa berhenti sebentar, mengulang kalimat, mencari kata yang paling mendekati perasaanku. Kalau berhadapan langsung dengannya, aku bisa mendadak malu, tersenyum sendiri, lalu diam. Wkwk.
Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan bagaimana caranya membuat dia merasa disayang juga. Selama ini aku banyak menerima dukungan darinya. Aku ingin dia tahu bahwa aku pun ingin mendukungnya, ingin dia merasa punya teman ketika lelah, ingin mendengarkan ceritanya, dan ingin mengenal kesehariannya. Aku belum selalu tahu bagaimana caranya. Aku masih belajar.
Tadi, selain membawa kue untuknya, aku juga membawa pulang ubi ungu yang sudah beberapa hari ingin kumakan. Aku tidak pernah bilang kepadanya bahwa aku sedang ingin ubi ungu rebus. Aku sempat mencarinya di pasar kecil-kecilan, tapi mengurungkan niat. Lalu ketika bertemu, ternyata ada ubi ungu.
Aku senang sekali. Rasanya seperti ada keinginan kecil yang diam-diam menemukan jalannya sendiri. Entah kebetulan atau memang sudah ada yang memikirkannya, aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa ubi ungu itu terasa istimewa buatku.
Lucu ya, bagaimana hal-hal sederhana bisa tinggal lama di ingatan. Sebuah kue cokelat, senyum kecil yang malu-malu, pelukan, beberapa potong kue di atas meja, dan ubi ungu yang sudah lama ingin kumakan.
Aku tidak tahu apakah dia akan mengingat semua detail itu seperti aku mengingatnya. Mungkin baginya itu hanya pertemuan biasa. Buatku, ada banyak hal kecil yang ingin kusimpan.
Aku sedang belajar menyayangi seseorang tanpa harus selalu tahu cara terbaik untuk mengatakannya. Kadang aku bisa menulis panjang sekali tentang perasaanku, kadang di depannya aku hanya mampu bilang, “Sayang, aku punya ini.”
Lalu tersenyum, memeluknya, dan berharap dia tahu bahwa aku senang bisa berbagi sedikit kebahagiaan dengannya. Hehe. Ternyata, aku juga masih belajar memberikan rasa sayang dalam bentuk yang bisa kulakukan hari ini.
Dan mungkin, bentuknya adalah sebuah kue cokelat, pelukan, dan ubi ungu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar