Senin, 19 Oktober 2026

Refleksi Tentang Pembelajaran Pasrah dari Pendaftaran Wisuda

​Terkadang, hidup lucu ya. Kita sering kali mengerahkan seluruh energi untuk mencengkeram segala sesuatu dengan erat, berusaha mengontrol alurnya, merajut skenario terburuk di dalam kepala, lalu kelelahan sendiri oleh rasa cemas dan overthinking.

​Saya baru saja merasakannya beberapa waktu lalu. Momen pendaftaran wisuda yang hampir luput dari genggaman, di mana detik-detik terakhir sebelum waktu pendaftaran habis, rasanya seperti di ujung tanduk. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menarik napas dalam-dalam, berserah diri sepenuhnya, dan berkata "Yaa sudahlah, bismillah saja. Kalau memang jalannya, pasti ada keajaiban." Dan benar saja, di sisa waktu setengah jam, pintu itu terbuka. ​Setelah beberapa saat, berhenti sejenak berfikir, aku berfikir, mungkin prinsip yang sama juga harus diterapkan dalam hubungan romantis, bahkan dalam merawat sebuah ikatan pernikahan.

​Hari ini, pikiran saya sempat berkecamuk hebat. Jarak yang membentang, kesibukan pasangan yang padat, potongan informasi yang tidak utuh, hingga bisikan-bisikan ketakutan masa lalu sempat membuat kepala penuh dengan skenario cemburu dan rasa takut ditinggalkan. Dada terasa sesak, sepi merayap, dan rasanya ingin sekali mengontrol segalanya agar tetap aman di dalam genggaman. ​Namun, di tengah badai kecil di dalam kepala itu, saya belajar untuk berhenti sejenak. Saya belajar untuk memeluk rasa takut saya sendiri, menumpahkannya pada tempat yang aman, dan berbicara jujur pada diri sendiri bahwa cemas itu wajar karena saya memang peduli dan mencintai dengan tulus.

​Belajar dari pengalaman wisuda kemarin, cinta dan relasi juga tidak bisa dipaksa untuk dipegang terlalu erat. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk memilih kita, atau memaksakan takdir agar berjalan persis seperti keinginan ego kita.
​“Bismillah aja. Ga bisa maksa jadi suami-istri kalo kita ga saling memilih. Serahkan kepada Allah.”

​Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di dalamnya tersimpan ketenangan dan kedaulatan batin yang luar biasa. Bahwa pada akhirnya, tugas kita hanyalah mencintai dengan jujur, merawat ketulusan, dan selebihnya... menyerahkan seluruh skenario kepada Sang Maha Pengatur. ​Jika memang ditakdirkan bersama, segalanya akan menemukan jalan pulangnya dengan cara yang tenang, sama seperti keajaiban di detik-detik terakhir pendaftaran wisuda hari itu. Dan jika pun harus berjalan di jalurnya masing-masing, kedamaian diri sendiri adalah rumah paling aman untuk kembali.

​Hari ini, saya memilih untuk melepas genggaman yang terlalu erat, menghembuskan napas lega, dan membiarkan hidup mengalir dengan tenang. Bismillah. Aku sayang Abang. Mudah-mudahan aku juga disayang dengan utuh dan jujur. Love you, Sayang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar