Ada satu fase yang hampir pasti pernah dialami oleh kita semua, terutama perempuan yang memiliki kecenderungan Anxious Attachment (lekat-cemas). Fase itu adalah duduk sendirian, menangis, dan menatap layar smartphone hanya untuk mengecek tulisan 'last seen' atau 'terakhir dilihat' di profil WhatsApp seseorang secara berulang-ulang.
Baru-baru ini, saya berada di titik itu. Sebuah percakapan yang membutuhkan keberanian besar, hanya dijawab dengan kata-kata singkat yang terasa dingin. Rasanya dunia runtuh. Ego saya terluka. Di tengah isak tangis, jemari saya bergetar menahan dorongan impulsif untuk memborbardir ruang obrolan itu dengan rentetan pesan protes "Kok cuma dibaca? Kok balasnya gitu doang? Kamu nggak peduli ya?"
Dulu, saya akan menyalahkan diri sendiri atas tangisan dan kebiasaan mengecek last seen ini. Saya akan merasa lemah dan tidak berdaya. Namun, setelah mempelajari cara kerja sistem saraf (The Adaptive Brain), saya akhirnya berdamai dengan momen itu.
Kepanikan, air mata, dan jemari yang gatal ingin terus mengecek layar HP itu bukanlah sebuah kelemahan. Itu adalah respons biologis murni. Ketika otak kita, tepatnya bagian Amigdala, mendeteksi adanya ancaman berupa penolakan atau ketidakpastian, ia membunyikan alarm bahaya. Mengecek last seen adalah cara putus asa dari otak kita untuk mencari secercah kepastian agar ia bisa kembali merasa aman (allostasis). Ia hanya sedang mencari jawaban "Apakah dia sengaja mengabaikanku?"
Tetapi, di sinilah letak perbedaan antara perempuan yang disetir oleh emosi, dan perempuan yang berdaulat atas batinnya.
Dalam kepanikan itu, saya mempraktikkan apa yang dalam Theory U disebut sebagai Suspend (menunda/menahan reaksi otomatis). Saya mengizinkan diri saya menangis. Saya membiarkan tubuh saya membuang hormon stres (kortisol) lewat air mata. Namun, saya memilih untuk tidak membalas pesannya. Saya tidak menjadikan pasangan saya sebagai tong sampah atas kekacauan emosi saya.
Saya mempraktikkan "Seni Membiarkan". Dan keajaiban dari ruang kosong itu pun terjadi.
Bagi seorang pria dengan pola Avoidant dan insting pelindung yang sedang dipenuhi beban pikiran, rentetan chat yang menuntut penjelasan hanya akan membuatnya semakin mundur dan bersembunyi. Namun, ketika ia dihadapkan pada kesunyian--karena saya tidak mengejarnya--sistem sarafnya justru mendapat ruang untuk bernapas. Ia menyadari ada yang salah. Ia tahu ia telah menciptakan jarak dari "Rumah Aman"-nya.
Karena pria tipe ini sering kali lumpuh dalam merangkai kata-kata puitis untuk meminta maaf, ia menggunakan bahasa ibunya: Act of Service (Tindakan Nyata).
Tidak lama setelah badai kesunyian itu, ia datang, walau perlu waktu mungkin satu minggu, melewati badai kesunyian yang sangat menderitakan saya, dia datang, menawarkan diri tanpa diminta. Bukan dengan puisi, melainkan dengan sekantong plastik besar berisi Jeruk Gelga dari Tanjung Sakti, lengkap dengan buah alpukat kesukaan saya.
Jika kita melihat ini dari Model Gunung Es (Iceberg Model), di atas permukaan itu hanyalah buah-buahan. Namun di dasar sistemnya, volume logistik yang ia bawa adalah terjemahan langsung dari perasaannya. Ia sedang berkata: "Maafkan aku yang kaku kemarin. Aku tidak pandai bicara, tapi lihatlah, aku mengingat apa yang kamu suka, dan aku ingin memastikan nutrisimu terpenuhi."
Hari itu saya belajar satu pelajaran berharga bahwa kedaulatan batin sering kali harus dibayar dengan air mata dan peperangan melawan jemari sendiri yang gatal ingin mengetik pesan. Namun, ketika kita berhasil menahannya, kita memberikan kesempatan bagi cinta untuk berbicara lewat tindakan-tindakan sunyi yang justru jauh lebih manis dari sekadar kata-kata.
Bahkan, lebih manis dari sekantong Jeruk Gelga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar