Ada masa di mana kita mengira bahwa mencintai seseorang berarti bersedia menjadi ruang tunggu yang tidak pernah tutup. Kita menebak-nebak makna di balik diamnya, menerjemahkan gumaman singkatnya menjadi tanda kepedulian, dan memaklumi ketidakhadirannya dengan sejuta alasan yang kita karang sendiri.
Sampai pada satu titik, semesta memaksa kita untuk berhenti. Bukan karena kita kehabisan cinta, tapi karena kita akhirnya menyadari satu kebenaran yang telanjang bahwa pria yang tepat tidak akan pernah meninggalkanmu dalam kebingungan.
Belakangan ini, aku belajar banyak tentang batas antara perjuangan dan ilusi. Terkadang, seseorang dari masa lalu atau masa kini mencoba mengetuk pintu hidup kita kembali. Ketukannya tidak keras, tidak juga membawa kepastian. Hanya berupa pesan basa-basi, atau selembar pesan tentang jeruk gelga dari kejauhan—buah kesukaan yang memancing memori manis untuk kembali berputar.
Dulu, hal-hal sekecil itu sudah cukup untuk membuatku luluh. Otakku akan meresponsnya sebagai tanda bahwa ia peduli, bahwa ia mengingatku. Tapi hari ini, aku menyadari bahwa ingatan saja tidak cukup untuk membangun masa depan. Mengetahui makanan kesukaanku adalah satu hal; memiliki keberanian dan kedewasaan untuk memperjuangkan sebuah komitmen yang suci adalah hal yang sama sekali berbeda.
Kedekatan tanpa tanggung jawab adalah sebuah ilusi. Itu hanya remahan roti (breadcrumbing) yang ditebar untuk memastikan kita masih berada di tempat yang sama, menunggu dalam diam, sementara mereka bebas berlari ke mana saja.
Aku menolak menjadi ruang tunggu itu lagi.
Hari ini, aku memilih untuk mempraktikkan The Let Them Theory (Seni Membiarkan).
Jika seseorang hanya ingin memberikan usaha yang setengah hati, biarkan. Jika ia memilih untuk menghindar saat percakapan mulai menuntut kedewasaan, biarkan. Jika ia lebih suka membiarkan jarak memisahkan daripada mengambil langkah nyata untuk memperbaiki keadaan, biarkan ia dengan keputusannya.
Berhenti mengejar bukan berarti kita menjadi jahat atau pendendam. Itu adalah bentuk tertinggi dari rasa hormat pada diri sendiri. Kita berhenti mencoba mengendalikan narasi orang lain dan membiarkan tindakan mereka—atau ketiadaan tindakan mereka—menunjukkan siapa diri mereka yang sebenarnya.
Tentu saja, melepaskan masa depan yang sempat kita bayangkan itu menyakitkan. Ada malam-malam di mana kita mungkin menangisi hilangnya harapan itu. Dan itu sangat manusiawi. Kita menangis bukan karena kelemahan, melainkan karena kita sedang memangkas ilusi untuk memberi ruang bagi realitas yang lebih sehat.
Pria yang kuat bukanlah dia yang paling keras suaranya, melainkan dia yang memiliki disiplin emosional untuk hadir. Ia yang tindakannya sejalan dengan ucapannya. Ia yang tidak menghukum kita dengan keheningan saat situasi menjadi tidak nyaman.
Maka, biarkanlah jeruk-jeruk itu tetap bergantung di rantingnya di Tanjung Sakti. Biarkan pesan-pesan yang tidak membawa arah itu menggantung di udara. Aku sedang sibuk merangkai hidupku, menjaga kedaulatan batinku, dan melangkah menuju tempat di mana cintaku tidak perlu dipertanyakan, apalagi dipancing dengan remahan yang tidak mengenyangkan jiwa.
Aku sudah selesai mengejar. Mulai hari ini, aku memilih.
— morenoviya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar