Palembang, 3 Mei 2026, di sebuah meja restoran yang sibuk. Di luar sana, Palembang mungkin sedang terik-teriknya, tapi di "Meja Sembilan", cuaca yang sebenarnya adalah badai diskusi.
Di sinilah aku duduk bersama rekan-dan Bapak-bapak, termasuk Eka, menyerap hiruk-pikuk obrolan yang meloncat liar namun berbobot. Kami mendiskusikan creative financing bersama Pattiro, berdebat tentang perdagangan karbon, hingga memikirkan nasib pembangunan lestari di Musi Banyuasin. Di tengah peningnya membahas APBD dan Result Based Payment, aku sempat-sempatnya menggoda Eka yang notabene adalah pengantin baru.
"Ka, harusnya bawa istri Eka ke sini," godaku, yang mungkin hanya dijawab dengan tawa canggungnya. Menggoda Eka adalah hiburan kecil di tengah beratnya urusan birokrasi.
Setelah kepala kami nyaris berasap di Meja Sembilan, ada satu sosok yang diam-diam mengambil alih kendali. BJ aka Bang-ku. Di balik sosoknya yang tenang dan waktunya yang sangat mahal, ia beralih peran dari seorang profesional di meja diskusi menjadi seorang pelindung. Ia mengantarkan aku dan Eka kembali ke Hotel Amaris. Tidak banyak janji puitis, hanya tindakan nyata (Acts of Service) yang memastikan kami tiba dengan selamat di tempat istirahat.
Malam itu, di kamar Amaris, setelah semua riuh diskusi mengendap, aku merebahkan diri di kasur. Di tengah keheningan, sebuah pikiran kecil yang nakal namun manusiawi tiba-tiba melintas: Rasanya pasti tenang kalau bisa istirahat berdampingan. Otak dan hatiku rupanya merespons rasa aman yang ia berikan seharian ini. Namun, buru-buru kutarik kembali senyumku sendiri. Eitss, nanti dulu. Simpan cita-cita itu untuk nanti, kalau sudah halal. Aku tertawa kecil dalam hati, menidurkan angan-angan itu dan menggantinya dengan rasa syukur yang utuh.
Keesokan paginya, saat aku bersiap untuk pulang ke Muba dengan travel, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk darinya. Niat awalnya, ia memang ingin mengantar kepulanganku hari ini.
Namun, pesannya berbunyi:
"Dek, naik gocar az ke travelnya ya, abg mash ada meeting dgn tim REKI dan ada lanjut zoom jam 12.30 WIB. Nnt biaya gocar abg gantiin ya."
Jika ini terjadi di masa lalu, mungkin aku akan kecewa. Namun hari ini, aku tersenyum membacanya. Pesan itu begitu singkat, tanpa emotikon berlebihan. Tapi di balik kalimat itu, terbaca sebuah sistem pertahanan yang sangat kokoh.
Kami berdua hidup di ekosistem yang sama—dunia sustainable development, rentetan rapat stakeholder, dan Zoom meeting yang tak kenal ampun. Ia tahu aku mengerti dunianya. Dan sebagai seorang pria Secure Provider, ia tidak membiarkan rasa bersalahnya mengawang-awang karena tak bisa hadir secara fisik. Otaknya langsung mengeksekusi solusi logistik: Aku tidak bisa mengantar fisiknya pagi ini, tapi aku pastikan perjalanannya aman dan aku yang menanggung biayanya.
Momen ini menyadarkanku tentang sebuah kedaulatan yang manis (The Let Them Theory). Menjadi perempuan mandiri bukan berarti menolak bantuan, dan dicintai bukan berarti harus selalu ditunggui setiap detik. Terkadang, cinta yang paling dewasa datang dalam bentuk pengertian bahwa kita sama-sama memiliki "kerajaan" yang harus diurus.
Aku melangkah keluar dari Amaris menuju travel untuk kembali ke Muba dengan hati yang sangat penuh. Karena aku tahu, setinggi apa pun diskusi tentang negara ini mengudara, dan sesibuk apa pun jadwal Zoom-nya bergulir, ada sebuah GoCar yang sudah terjamin untukku. Dibayar lunas oleh seseorang yang wujud cintanya mungkin tak banyak bicara, tapi dukungannya selalu menjadi tempat yang paling aman untuk pulang—kelak, di waktu yang sudah dihalalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar