Gema takbir yang sayup-sayup terdengar selalu membawa pesan tentang satu hal yaitu keikhlasan untuk melepaskan, dan rasa syukur atas apa yang tersisa. Di momen Idul Adha ini, saat dunia sejenak menghentikan lajunya yang bising, aku menemukan diriku merenung tentang sebuah tempat bernama 'pulang'. Aku sejenak merefleksikan kegiatan yang sudah terelwati.
Senin, 25 Mei 2026, aku melihatnya berdiri memimpin FGD Penyempurnaan Dokumen RPPEG Kabupaten Musi Banyuasin. Dengan segala tekanan, kelelahan, dan kurang tidur yang menumpuk di pundaknya, ia tetap mampu menguasai ruangan. Ada rasa bangga yang menjalar diam-diam di dadaku melihat bagaimana ia menavigasi semuanya. Ia adalah seorang penyelesai masalah, gladiator di medan tugasnya.
Tapi lucunya, dari semua kehebatan profesional itu, justru hal-hal paling sederhanalah yang mengunci sistem sarafku dalam rasa aman yang utuh.
Bukan pada gelar atau panggungnya aku merasa paling berdesir, melainkan pada hal-hal kecil yang sering luput dari pandangan dunia. Seperti saat aku merengek lapar, dan ia menawarkan "Abang ada roti, roti gabin." Lalu mebawa setoples roti lengkap dengan kopi-kopi bubuknya ke ruang ramai. Aku memakannya, karena memang laper sekali, padahal sudah makan siang. Makan siang itu, aku makan sedikit dan ikan pindang nila-ku ku geser ketempatnya. Sepotong roti Roma ada ditangannya, aku menatap sepotong roti itu dan memintanya dengan candaan, "Adeek mauu," Akhirnya dia memberikannya padaku. Terima kasih yaa.
Dan ada satu memori lagi yang terus membuatku tersenyum. Siang itu, di bawah rimbun pohon setelah sholat Zuhur, ia baru saja selesai berdiskusi dengan perwakilan PT GAL. Saat aku dan Eka berjalan kembali dari tempat sholat, kulihat ia melangkah menghampiri kami. Di tangannya ada secangkir kopi dalam tumbler Lock & Lock motif bunga-bunga, dan secara saksama ku lihat empat potong buah salak yang sudah dikupasnya dengan rapi. Dengan santainya aku meminta buah salak miliknya. "Udah digigit," katanya beralasan. "Nggak apa-apa," jawabku ringan. Sebuah interaksi yang begitu sederhana, tanpa sekat, tanpa gengsi. Btw, ini karena salak di tempat makan siang tadi pada busuk rengekku.
Mengupaskan buah dan membawakan minuman di tengah jeda pekerjaannya yang padat adalah bahasa cinta purba. Sebuah insting untuk melindungi dan merawat yang membuatku merasa sangat utuh.
Lalu, momen hening saat waktu bergeser ke sore hari. Melihatnya mengambil air wudu di dalam kamar mandi, berdiri tegak menunaikan sholat Maghrib dengan aroma yang begitu bersih dan menenangkan. Serta bagaimana ia dengan sabar menemaniku menyelesaikan sholat Ashar. Di detik-detik itu, kami tidak sedang membicarakan pekerjaan; kami sedang melakukan spiritual co-regulation. Melihat seorang pria yang begitu kuat dan logis tetap menundukkan keningnya pada Sang Pencipta adalah bentuk validasi tertinggi bahwa ia adalah nahkoda yang tepat.
Terkadang, pria yang terbiasa menjadi pelindung bagi banyak orang lupa bahwa ia juga manusia. Lupa bahwa ia berhak untuk merasa lelah, berhak untuk meredupkan sejenak mode siaganya, dan berhak untuk tidak selalu harus menjadi yang paling kuat di ruangan.
Jadi, tulisan ini adalah sebuah pengingat kecil.
Sayang, kamu sudah melakukan semuanya dengan sangat luar biasa. Kerja kerasmu, tanggung jawabmu, dan caramu menjagaku dengan potongan salak dan sepotong roti, semuanya terlihat, dihargai, dan disyukuri. Tidak ada satupun yang terlewat.
Sekarang, saatnya menekan tombol Suspend. Biarkan hiruk-pikuk Sekayu dan urusan dokumen itu menguap sejenak. Selamat merayakan Idul Adha. Selamat menikmati sunyinya kebun di kampung halaman, selamat memulihkan diri, dan selamat merawat ratusan bibit kopi yang sedang tumbuh itu.
Temukan Allostasis-mu di sana. Beristirahatlah dengan total Karena sejauh apapun jarak merentang, kamu tahu ada sebuah ruang yang hangat dan berdaulat di sini, yang selalu siap menyambutmu pulang saat kamu sudah siap.
Selamat Idul Adha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar