Selasa, 05 Mei 2026

Di Antara Perdagangan Karbon, Es Teler, dan Notifikasi GoCar​


​Tiga Mei, di sebuah meja restoran yang sibuk di sebuah kota di Sumatra Selatan. Di luar sana, Palembang mungkin sedang terik-teriknya, tapi di "Meja Sembilan", cuaca yang sebenarnya adalah badai diskusi.

​Di sinilah aku duduk, menyerap hiruk-pikuk obrolan yang meloncat liar namun berbobot. Telingaku menangkap suara pesanan lemon tea dan es teler yang berbaur dengan keluhan tentang BPKAD, dana bagi hasil, hingga program Makan Bergizi Gratis yang dianggap perlu perbaikan sasaran. Kami menertawakan ironi-ironi birokrasi, mendiskusikan creative financing bersama Pattiro, hingga berdebat tentang perdagangan karbon, Result Based Payment, dan nasib pembangunan lestari di Musi Banyuasin.

​Ini adalah duniaku. Dunia di mana kami, para penggerak PUKL dan LTKL, berusaha merumuskan jalan keluar bagi daerah, berteriak soal keadilan fiskal, sambil sesekali memastikan pesanan kelapa muda tidak pakai susu kental manis.
​Di tengah percakapan tentang "mencari sumber pendanaan alternatif" itulah, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi masuk, membawa tawaran "pendanaan" dari dimensi yang sama sekali berbeda.

Diskusi itu cukup tegang tapi terasa hangat. Kami menutup diskusi dengan RTL untuk mengadakan pra-zoom meeting kajian creative financing tersebut. Aku melangkah dengan hati yang hangat, apalagi mendapat fasilitas menginap di Amaris. Serta, dari meja sembilan Gemercik Suki, Resto and Kedai Kopi kami dianter oleh BJ. Allhamdulillah ya. BJ izin pamit dan bertanya kapan aku pulang. Tak disangka ternyata dia berencana mengantarku pulang ke loket travel. Hehe. 

​Tanggal 4 Mei tiba, ada pesan masuk. Itu dari dia. Pria yang niat awalnya ingin menjemputku di Amaris Hotel dan mengantarku pulang ke loket travel. Maklum Palembang-Sekayu memakan waktu hingga 4 jam kalau saja jalan ramai-lancar. 

​"Dek, naik gocar az ke travelnya ya, abg mash ada meeting dgn tim REKI dan ada lanjut zoom jam 12.30 WIB. Nnt biaya gocar abg gantiin ya."

​Aku menatap layar itu dan menahan senyum agar tak meledak di tengah ramainya ingatan kepalaku diskusi serius soal infrastruktur. Di sinilah letak magisnya. Pesan itu begitu singkat, tanpa emotikon berlebihan, tanpa permintaan maaf yang puitis karena batal menjadi pangeran berkuda putih yang mengantar perempuannya.

​Tapi di balik kalimat singkat itu, terbaca sebuah sistem pertahanan dan perlindungan yang sangat kokoh.
​Kami berdua hidup di ekosistem yang sama—dunia sustainable development, rentetan rapat stakeholder, dan Zoom meeting yang tak kenal ampun. Ia tahu aku mengerti dunianya (rapat dengan tim REKI bukanlah sesuatu yang bisa ditinggalkan begitu saja). Dan sebagai seorang pria Secure Provider, ia tidak membiarkan rasa bersalahnya mengawang-awang. Otaknya yang sangat adaptif dan rasional langsung mencari solusi logistik: Aku tidak bisa mengantar fisiknya, maka aku pastikan kendaraannya aman dan aku yang menanggung biayanya. 

​Luar biasa, bukan? Sementara di kepalaku ramai dan masih pusing memikirkan bridging dan RTL setelah pertemuan kemarin, di layar ponselku, urusan "kurang bayar ongkos travel" diselesaikan hanya dengan satu kalimat tegas.

​Momen ini menyadarkanku tentang sebuah kedaulatan yang manis. Menjadi perempuan mandiri bukan berarti harus menolak bantuan, dan dicintai bukan berarti harus selalu diantar jemput ke mana-mana. Terkadang, cinta yang paling dewasa datang dalam bentuk pengertian bahwa kita sama-sama memiliki "kerajaan" yang harus diurus.

​Aku kembali meletakkan ponselku di atas meja. Di depanku, ada ransel-ransel yang siap ku bawa untuk kembali ke daerah. Aku kembali masuk ke dalam peranku, Sang Convener yang memikirkan nasib komoditas lestari, dengan hati yang sangat penuh dan tenang.

​Karena aku tahu, setinggi apa pun diskusi tentang negara ini mengudara, kakiku tetap menapak dengan aman di bumi. Dan jika nanti aku lelah melangkah menuju travel untuk pulang ke Muba, ada sebuah GoCar yang sudah terjamin untukku, dibayar lunas oleh seseorang yang waktunya sangat mahal, namun pelukannya dalam bentuk dukungan tak pernah absen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar