Pernahkah kamu melihat kembali riwayat pesan lama, lalu tiba-tiba tersenyum miris sekaligus sedikit malu pada dirimu sendiri? Hari ini, aku mengalaminya.
Aku menatap deretan pesan yang pernah kukirimkan. Pesan-pesan panjang di pagi hari berisi doa dan semangat, serta pesan-pesan hangat di malam hari yang menawarkan telinga untuk mendengarkan keluh kesahnya. Aku membaca kembali bagaimana aku berusaha dengan sekuat tenaga menjadi safe haven—sebuah tempat berpulang yang aman bagi seseorang yang kukira sedang kelelahan menghadapi dunia.
Lalu, mataku beralih pada rentetan balasannya. Sebuah emotikon tunggal. Status Read yang dibiarkan menggantung. Dan yang paling membekas: saat aku benar-benar berada di titik paling rentan, ketakutan, dan membutuhkan suaranya untuk menenangkanku, pintu itu ditutup rapat dengan dua kata singkat: "Chat be." Di titik itulah ilusi akhirnya pecah.
Terkadang kita terlalu sibuk memvalidasi orang lain, memastikan mereka bernapas dengan baik di antara tumpukan pekerjaannya, hingga kita lupa bertanya: Lalu, siapa yang akan memegang tanganku saat aku sedang kesakitan?
Aku menyadari sebuah kebenaran pahit namun sangat membebaskan. Sebuah hubungan tidak bisa dibangun di atas ketimpangan. Aku tidak bisa terus-menerus menyediakan ruang seluas samudra untuk seseorang yang hanya bersedia memberiku ruang sebesar genangan air. Ketika aku butuh ditenangkan, aku disuruh menyelesaikannya sendiri dan berlindung di balik kata "takdir" atau sekadar disuruh menenangkan diri sendiri. Ia tidak memiliki kapasitas untuk menampung perasaanku, karena ia bahkan terlalu takut untuk menghadapi perasaannya sendiri.
Dulu, hal ini membuatku sedih. Tapi hari ini? Aku hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala.
Aku tidak menyesali semua doa dan kalimat manis yang pernah kuberikan. Itu adalah bukti bahwa aku memiliki jiwa yang penuh cinta dan kesiapan untuk merawat seseorang dengan tulus. Hanya saja, mulai hari ini, aku tahu persis bahwa harta karun itu terlalu mahal untuk diletakkan di tangan yang salah.
Aku mempraktikkan seni melepaskan. Aku membiarkan ia dengan dunia "biasa az"-nya. Aku membiarkan ia merespons kehidupan dengan caranya yang menghindar. Dan yang terpenting, aku membiarkan diriku melangkah pergi dari ruang tunggu yang tidak pernah memberiku kepastian.
Rasa maluku hari ini adalah tanda kelulusanku. Kelulusan dari kebiasaan memberikan segalanya untuk seseorang yang hanya bisa memberikan sisa-sisanya.
Panggungku masih luas. Dan mulai detik ini, aku menolak memberikan kursi VIP kepada seseorang yang bahkan tidak menghargai pertunjukan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar