Ada kalanya kita menatap layar ponsel, melihat sebuah ruang obrolan yang dulu begitu hidup, lalu menghela napas panjang dan tersenyum geli pada diri sendiri. Dalam keheningan itu, sebuah pertanyaan melintas di kepala: "Kenapa ya, aku bisa sesayang ini sama orang ini?"
Rasa sayang itu nyata. Sangat nyata hingga rasanya memenuhi seluruh rongga dada. Ia hadir lewat diskusi panjang yang pernah selaras, lewat tawa, atau lewat hal-hal sederhana seperti mengingat buah kesukaan dari Tanjung Sakti, Pagar Alam. Hati ini ternyata memiliki kapasitas yang begitu luar biasa besar untuk mencintai seseorang.
Namun, kedewasaan perlahan menuntunku pada sebuah ruang ajaib yang bernama The Magic Paradox—kemampuan manusia untuk menggenggam dua kebenaran yang bertolak belakang di waktu yang bersamaan.
Kebenaran pertama: Ya, aku sangat menyayanginya. Aku tidak menyangkal perasaan itu.
Kebenaran kedua: Ia tidak memiliki kapasitas untuk memberiku kepastian, tanggung jawab, dan kedewasaan komunikasi yang kubutuhkan untuk sebuah masa depan.
Dulu, aku mengira bahwa jika kita menyayangi seseorang, kita harus terus mengejarnya. Kita harus mentolerir ketidakjelasannya, menerima remahan perhatian yang ia berikan sesekali, dan memaklumi sikap menghindarnya (avoidant) asalkan kita tetap terhubung. Dulu, aku merasa bertanggung jawab untuk mengisi keheningannya dengan pengertianku yang tak berkesudahan.
Tapi hari ini, aku belajar sebuah pelajaran paling berharga tentang kedaulatan diri. Kita bisa mencintai seseorang dengan sangat dalam, dan tetap memilih untuk tidak bersamanya.
Menatap ruang obrolan itu tanpa mengetik satu huruf pun bukanlah bentuk kebencian. Itu bukanlah amarah. Itu adalah bentuk tertinggi dari menghargai diri sendiri. Aku membiarkan rasa sayang itu tetap ada di sana, mengambang dengan indah, tanpa perlu merendahkan standar diriku untuk mengemis balasan, meminta pertanggungjawaban, atau sekadar berbasa-basi.
Cinta sejati tidak seharusnya membuat kita kebingungan. Seseorang yang benar-benar siap dan tepat tidak akan membiarkan perempuannya meraba-raba dalam gelap hanya untuk mencari tahu di mana posisinya. Keintiman sejati membutuhkan tanggung jawab, bukan sekadar kehadiran yang datang dan pergi semaunya.
Jadi, biarkan rasa sayang ini menjadi bukti betapa tulus dan hidupnya hatiku. Namun, biarkan pula keheninganku menjadi bukti betapa tegaknya kedaulatanku.
Aku menyayangimu. Sungguh. Tapi masa depanku, mimpiku, dan kewarasanku terlalu besar dan berharga untuk dihabiskan di sebuah ruang tunggu yang tidak pernah memberiku kepastian.
Aku berhenti mengejar. Hari ini, aku memilih diriku sendiri.
— morenoviya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar