Hari ini adalah Idul Adha. Di luar sana, orang-orang merayakan dengan hidangan yang hangat dan kumpul keluarga. Di sini, di ruang kerja yang tenang, aku memilih untuk merayakannya dengan cara yang berbeda, dengan kembali ke meja kerjaku.
Tadi, ada rasa sedih yang sempat mampir. Ada rindu yang menuntut untuk segera dijawab. Ada keinginan yang meluap untuk berada di dekat seseorang, untuk disandarkan, untuk dihalalkan. Namun, aku belajar bahwa di saat-saat seperti inilah, ujian kedaulatan batin itu sesungguhnya dimulai.
Menunggu pesan balasan yang tak kunjung tiba atau menerima balasan yang tidak sesuai dengan ekspektasi adalah bagian dari "kebisingan" yang sering kali kita ciptakan sendiri di dalam kepala. Aku belajar untuk menekan tombol Suspend. Aku memilih untuk berhenti menjadi tawanan dari notifikasi ponsel dan mulai menjadi tuan atas waktuku sendiri.
Sholat Ashar tadi membawaku pada kesadaran baru. Bahwa di atas sajadah, aku tidak sedang menunggu siapa pun. Aku sedang berhadapan dengan Sang Pencipta, satu-satunya tempat "pulang" yang paling hakiki. Setelah itu, aku membuka draf tesis yang sempat terbengkalai. Aku menatap deretan angka dan analisis kopi fungsional itu, dan tiba-tiba, fokusku kembali.
Menulis tesis, merancang strategi untuk PUKL, mengelola skycoco.id, semua ini adalah bentuk mencintai diri sendiri. Ini adalah caraku menyirami taman mimpiku agar tetap subur, terlepas dari apakah ada orang lain yang datang untuk ikut menikmatinya atau tidak.
Idul Adha mengajarkanku tentang keikhlasan untuk melepaskan. Hari ini, aku melepas ekspektasiku akan "bagaimana seharusnya" orang lain memperlakukanku. Aku memilih untuk merayakan diriku sendiri. Aku memilih untuk merayakan proses pendewasaanku, merayakan ketenanganku yang semakin tumbuh, dan merayakan kemampuanku untuk tetap berdiri tegak di atas singgasanaku sendiri.
Selamat Idul Adha untuk diriku yang terus belajar berdaulat. Selamat merayakan hari raya dengan karya, bukan dengan cemas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar