Pernahkah kamu berada dalam situasi ini: Seseorang yang dekat denganmu tiba-tiba menarik diri. Ia membalas pesanmu dengan dingin, mengabaikan obrolan tentang masa depan, atau bahkan secara impulsif menghapus seluruh riwayat percakapan kalian.
Apa reaksi pertamamu?
Apakah kamu marah pada ketidakdewasaannya? Anehnya... sering kali tidak.
Alih-alih menyadari bahwa orang tersebut sedang lari dari tanggung jawab, pikiran kita justru memutar sebuah kaset usang yang menyiksa. Sebuah suara kecil di dalam kepala kita mulai berbisik:
"Tuh kan, coba aja kemarin aku balas pesannya."
"Seharusnya aku nggak usah bahas soal komitmen dulu."
"Ini pasti gara-gara aku yang terlalu banyak menuntut."
Dulu, aku selalu mengira suara itu adalah suara logikaku. Tapi setelah menyelami lebih dalam tentang psikologi penyembuhan batin, aku menyadari satu kebenaran yang mengejutkan. Itu bukanlah logika seorang perempuan dewasa. Itu adalah suara ketakutan dari anak kecil di dalam diri kita (inner child).
Ketika seseorang menjauh, anak kecil di dalam batin kita mendeteksi ancaman penolakan. Karena ia ketakutan ditinggalkan, ia langsung mengambil alih situasi dengan cara menyalahkan diri sendiri. Mengapa? Karena bagi seorang anak kecil, menyalahkan diri sendiri memberikannya ilusi kendali. Ia berpikir: "Kalau ini salahku, berarti aku bisa memperbaikinya. Kalau aku turunkan standarku, kalau aku pura-pura tidak butuh kejelasan, dia pasti akan kembali."
Kita bersedia menelan harga diri dan mengorbankan batasan kita, hanya untuk merekatkan kembali sesuatu yang sebenarnya dirusak oleh orang lain.
Namun, di sinilah letak kedaulatan kita diuji. Psikolog Philippa Perry mengajarkan sebuah konsep yang indah tentang memisahkan masa lalu dari masa kini. Rasa panik dan ingin menyalahkan diri sendiri itu adalah gema dari luka masa lalu. Tapi realitas masa kini kita adalah bahwa kita sudah dewasa. Kita tidak lagi bergantung pada validasi satu orang untuk bertahan hidup.
Ketika suara kritikus batin itu muncul dan menyuruh kita untuk mengemis, merendahkan standar, atau menyesali kejujuran kita, kita harus memanggil suara baru. Suara dari diri kita yang paling bijak dan mengasihi.
Katakan pada dirimu sendiri:
"Kamu tidak salah karena meminta kejelasan. Kamu tidak salah karena menjaga batasan sucimu. Jika kejujuranmu tentang masa depan membuat seseorang lari dan menghapus jejak, itu adalah bukti bahwa wadah hatinya terlalu sempit untuk jiwamu, bukan karena kamu yang berbicara terlalu keras."
Kita butuh menciptakan JEDA. Antara keinginan impulsif untuk mengirim pesan demi mencairkan suasana, dengan keputusan untuk diam sejenak dan memeluk diri sendiri. Di dalam jeda itulah, letak kekuatan kita yang sesungguhnya.
Hari ini, aku memilih untuk tidak memperbaiki kesalahan yang tidak aku buat. Aku memilih untuk berhenti menjadi 'lem' bagi hubungan yang pihak lainnya enggan ikut berjuang.
Jika dia pergi karena aku memiliki standar yang terhormat, maka biarkan dia pergi. Karena tugasku sekarang bukanlah menyelamatkan egonya, melainkan mengasuh dan memastikan anak kecil di dalam diriku tahu... bahwa ia sudah aman bersamaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar