Selasa, 26 Mei 2026

Selamat Idul Adha, Bang

Baang, saat gema takbir sayup-sayup mulai terdengar, selalu ada pesan tentang satu hal yang terlintas di kepala adek yaitu keikhlasan untuk melepaskan, dan rasa syukur atas apa yang tersisa. Di momen Idul Adha ini, saat dunia sejenak menghentikan lajunya yang bising, adek menemukan diri adek merenung tentang sebuah tempat bernama 'pulang', merefleksikan jejak waktu yang baru saja kita lewati bersama.

Senin kemarin, 25 Mei 2026, saat melihat Abang berdiri memimpin FGD Penyempurnaan Dokumen RPPEG Muba, dengan segala tekanan, kelelahan, dan kurang tidur yang menumpuk di pundak Abang, adek diam-diam merasa sangat bangga. Melihat bagaimana Abang menavigasi semuanya dengan tenang, menyadarkan adek bahwa Abang memang seorang penyelesai masalah, seorang gladiator di medan tugas.

Tapi lucunya, Bang, dari semua kehebatan profesional itu, justru hal-hal paling sederhanalah yang mengunci sistem saraf adek dalam rasa aman yang utuh.

Bukan pada gelar atau panggung Abang adek merasa paling berdesir, melainkan pada hal-hal kecil yang sering luput dari pandangan dunia. Seperti saat adek merengek lapar, dan Abang dengan sigap menawarkan, "Abang ada roti, roti gabin." Lalu Abang bawa setoples roti lengkap dengan kopi bubuknya ke ruang ramai. Adek memakannya karena memang lapar sekali, padahal kita sudah makan siang. Saat makan siang itu, adek memang makan sedikit dan menggeser porsi ikan pindang nila adek ke tempat Abang. Sebagai gantinya, waktu melihat sepotong roti Roma berkrim di tangan Abang, adek menatap roti itu dan memintanya dengan candaan, "Adeek mauu." Pada akhirnya, Abang merelakan roti itu buat adek. Makasih yaa, Bang.

Dan ada satu memori lagi yang terus membuat adek tersenyum. Siang itu, di bawah rimbun pohon setelah sholat Zuhur, Abang baru saja selesai berdiskusi dengan perwakilan PT GAL. Saat adek dan Eka berjalan kembali dari tempat sholat, adek lihat Abang melangkah menghampiri kami. Di tangan Abang ada secangkir kopi dalam tumbler Lock & Lock motif bunga-bunga, dan adek perhatikan betul ada empat potong buah salak yang sudah Abang kupas dengan rapi.

Adek ingat salak di saat makan siang tadi, buah salak yang membusuk. Lalu, dengan santainya adek meminta buah salak dari tangan Abang di bawah pohon itu. "Udah digigit," kata Abang beralasan. "Nggak apa-apa," jawab adek ringan. Sebuah interaksi yang begitu sederhana, tanpa sekat, tanpa gengsi. Mengupaskan buah dan membawakan minuman di tengah jeda pekerjaan Abang yang padat adalah bahasa cinta purba. Sebuah insting untuk melindungi dan merawat yang membuat adek merasa sangat utuh.

Lalu, tibalah momen hening saat waktu bergeser ke sore hari. Melihat Abang mengambil air wudu, lalu berdiri tegak menunaikan sholat Ashar dan Maghrib dengan aroma yang begitu bersih dan menenangkan. Serta bagaimana Abang dengan sabar menemani adek menyelesaikan sholat Ashar. Di detik-detik itu, kita tidak sedang membicarakan pekerjaan; kita sedang melakukan spiritual co-regulation. Melihat seorang pria yang begitu kuat dan logis tetap menundukkan keningnya pada Sang Pencipta adalah bentuk validasi tertinggi bagi adek, bahwa Abang adalah nahkoda yang tepat.

Adek tahu, pria yang terbiasa menjadi pelindung bagi banyak orang kadang lupa bahwa ia juga manusia. Lupa bahwa ia berhak untuk merasa lelah, berhak untuk meredupkan sejenak mode siaganya, dan berhak untuk tidak selalu harus menjadi yang paling kuat di ruangan.

Jadi, surat ini adalah sebuah pengingat kecil dari adek.

Sayang, Abang sudah melakukan semuanya dengan sangat luar biasa. Kerja keras Abang, tanggung jawab Abang, dan cara Abang menjaga adek dengan potongan salak dan sepotong roti—semuanya adek lihat, adek hargai, dan adek syukuri. Tidak ada satupun yang terlewat.

Sekarang, saatnya menekan tombol Suspend. Biarkan hiruk-pikuk Sekayu dan urusan dokumen itu menguap sejenak. Selamat merayakan Idul Adha ya, Bang. Selamat menikmati sunyinya kebun di kampung halaman, selamat memulihkan diri, dan selamat merawat ratusan bibit kopi yang sedang tumbuh itu.

Temukan kesemibabgan Abang di sana. Beristirahatlah dengan total. Karena sejauh apapun jarak merentang, Abang tahu ada sebuah ruang yang hangat dan berdaulat di sini, yang selalu siap menyambut Abang pulang saat Abang sudah siap.

Selamat Idul Adha, Bang. 💃

Tidak ada komentar:

Posting Komentar