Sabtu, 23 Mei 2026

Jejak Manis di Batas Kota


​Malam semakin terasa mengikat, pukul 23.39 ku lihat layar telepon genggam. Aku sudah sampai dan sempat merebahkan badan di atas kasur seprei bunga-bunga di sudut kota Serasan Sekate. Keriuhan di dalam rumah akhirnya mereda setelah dua lusin donat JCo berpindah tangan dan habis dinikmati oleh adik-adik. Aku berpindah menjadi duduk di kamar, membayangkan sisa remah manis di dalam kotak, dan sadar bahwa di balik keheningan malam ini, ada getaran rindu yang perlahan menyapa.

​Dulu, bagi sistem saraf yang terbiasa bersiaga (fight or flight), rindu di malam hari sering kali datang sepaket dengan kecemasan. Rindu yang seringnya diikuti oleh rentetan pertanyaan di kepala. Dia sedang apa? Kenapa pesannya singkat? Apakah besok kami akan baik-baik saja? Tapi malam ini, rindu itu terasa sangat berbeda. Rindu ini datang dengan tenang, duduk diam di sebelahku tanpa menuntut apa-apa.

​Aku belajar bahwa dalam kacamata The Adaptive Brain, objek fisik sering kali menjadi jangkar emosional yang kuat. Dua lusin donat yang aku bawa pulang sore tadi bukan sekadar tumpukan gula dan tepung. Bagi seseorang dengan bahasa kasih pelayanan (Act of Service), menurutku kotak donat itu adalah manifestasi dari insting pelindungnya. Di tengah kepalanya yang sedang penuh oleh beban krisis pekerjaan dan lobi birokrasi di Palembang, ia tetap memastikan ada sesuatu yang bisa ku bawa pulang untuk membahagiakan ekosistem saya di Sekayu.

​Melihat adik-adikku tertawa berebut jenis donat sore tadi adalah melihat bagaimana dua dunia saling terhubung tanpa harus berada di ruang fisik yang sama. Ia mungkin sedang bertarung di medan perangnya sendiri, tetapi kehadirannya terasa utuh di ruang keluargaku. Ini adalah bentuk Presencing yang paling tulus—hadir tanpa harus mendominasi.

​Siang tadi, sebelum mobil travel berjalan dengan empat kaki karetnya, ia membawakan tasku dan melambaikan tangan. Ada jeda yang sangat jujur di sana. Sebuah perpisahan yang tidak diwarnai oleh rasa bersalah atau drama, melainkan rasa hormat. Aku memilih untuk tidak merekam momen itu dengan kamera ponsel, karena aku ingin menyimpannya langsung ke dalam ingatan somatisku. Dan benar saja, memori itulah yang kini menghangatkan malamku. 

​Dalam perjalanan transisi dari Ego ke Eco, kita belajar bahwa cinta sejati tidak selalu berarti harus selalu bersama dalam satu garis waktu yang sama. Terkadang, cinta adalah memberi ruang. Cinta adalah mengizinkan dia mengurai benang kusut pekerjaannya dalam diam, sementara aku merawat ketenangan batin ku di rumah.

​Malam ini, aku membiarkan rindu itu menetap tanpa perlu buru-buru divalidasi oleh dering pesan masuk. Aku tahu, di suatu tempat di Palembang sana, ia sedang berjuang menyelesaikan tugasnya. Dan di sini, di Sekayu, aku mengirimkan doa terbaik untuk kesehatan dan kelimpahan rezekinya.

​Jarak Palembang dan Sekayu malam ini mungkin terbentang puluhan kilometer, tetapi di dalam kedaulatan batin yang tenang, kami tidak pernah benar-benar berjauhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar