Dalam sebuah interaksi antarmanusia, ada satu frasa yang terdengar begitu sederhana, namun memiliki daya hancur yang luar biasa: "Biasa az"
Bagi sebagian orang, frasa ini mungkin diucapkan untuk menenangkan suasana. Namun, dalam dinamika sebuah hubungan yang sedang menuntut kejelasan, "biasa az" adalah sebuah tembok beton. Itu adalah cara paling halus untuk lari dari tanggung jawab emosional, menyangkal adanya luka, dan menutup pintu rapat-rapat dari percakapan yang membutuhkan kedewasaan.
Dulu, ketika aku dihadapkan pada respons "biasa az" di tengah situasi yang jelas-jelas membuat dadaku sesak, aku sering kali menyalahkan diriku sendiri. Aku bertanya-tanya: Apakah aku yang terlalu berlebihan? Apakah perasaanku ini yang salah? Kenapa dia bisa bersikap seolah tidak ada masalah sama sekali, sementara aku kehabisan napas memikirkan jalan keluar untuk kita?
Hari ini, kacamata itu akhirnya berubah. Aku menyadari bahwa ketika seseorang terus-menerus berlindung di balik kata "biasa az", itu bukanlah bukti bahwa ia kuat atau tenang. Itu adalah bukti dari ketidakmampuannya (atau ketidakmauannya) untuk menyelam ke tempat yang lebih dalam.
Orang yang terbiasa hidup di permukaan akan selalu ketakutan melihat lautan. Ketika dihadapkan pada harapan, komitmen, atau sekadar empati atas luka yang ia goreskan, sistem pertahanannya akan langsung menyala. Otaknya akan memerintahkan satu hal: Pura-pura tidak terjadi apa-apa. Anggap semuanya biasa saja. Ia tidak sedang meremehkan lukaku; ia hanya tidak memiliki instrumen di dalam hatinya untuk mengukur kedalaman luka tersebut. Ia buta terhadap spektrum emosi yang lebih kompleks dari sekadar tertawa atau menghindar.
Butuh waktu—dan banyak sekali air mata—untuk akhirnya bisa menerima kenyataan ini. Bahwa aku tidak bisa memaksa seseorang yang hanya memiliki gelas kecil untuk menampung perasaanku yang seluas samudra. Dan yang paling penting: aku tidak perlu menyusutkan samudraku hanya agar muat di dalam gelasnya.
Jika dunianya memang hanya sebatas "biasa az", biarkanlah ia hidup dengan nyaman di sana. Silakan tertawa paling keras, silakan berjalan tanpa beban, dan silakan menepis hal-hal yang terlalu rumit untuk diselesaikan.
Sementara aku? Aku akan tetap memilih kedalaman. Aku memilih untuk merasakan segala sesuatunya secara utuh—rasa sakitnya, kehilangannya, dan pada akhirnya, kesembuhannya. Karena dari kedalaman itulah kedaulatan diriku terbentuk. Dari sana pula aku tahu persis bahwa aku terlalu berharga untuk sekadar direspons dengan kata "biasa az".
Aku sudah berhenti mencoba menjelaskan warna kepada seseorang yang memilih untuk menutup matanya. Hatiku jauh lebih lega sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar