Berapa banyak energi emosional yang kita buang setiap harinya hanya karena kita merespons sebuah "karangan" di kepala kita sendiri, alih-alih merespons realitas?
Pagi ini, saya membaca satu pelajaran penting dari Nonviolent Communication (NVC). Salah satu pilar terpentingnya adalah kemampuan memisahkan antara Observasi dan Evaluasi. Kedengarannya sederhana, tetapi praktiknya sering kali menjadi ujian terberat bagi ego kita.
Dalam NVC, Observasi adalah apa yang murni ditangkap oleh lensa kamera video. Ia buta terhadap niat, ia tuli terhadap prasangka. Ia hanya merekam fakta. Sebaliknya, Evaluasi adalah "lapisan cerita" yang ditambahkan oleh otak kita (tepatnya amigdala yang sedang cemas) ke atas fakta tersebut.
Let's us taking an axample yang paling sering menjebak kita di era digital yaitu pesan yang tak kunjung datang.
Ketika layar handphone kita sepi dari notifikasi seseorang yang kita tunggu, otak kita dengan cepat membuat Evaluasi seperti ini "Dia mengabaikanku. Dia sudah tidak peduli. Dia menghindariku." Begitu cerita ini dipercaya, sistem saraf kita langsung masuk ke mode waspada. Kita merasa sedih, marah, dan tak berharga. Kita siap untuk menyerang atau menarik diri.
Namun, bagaimana jika kita menggunakan lensa kamera video (Observasi)?
Kamera video hanya akan merekam satu hal bahwa "Selama 24 jam terakhir, belum ada pesan teks yang masuk darinya."
Titik. Selesai.
Tidak ada drama pengabaian di sana. Fakta yang netral ini memberi ruang bagi rasionalitas (Prefrontal Cortex) kita untuk bernapas. Fakta ini mengingatkan saya pada tahap Sensing dalam Theory U. Ketika saya melihatnya murni sebagai fakta, saya bisa meminjam kacamata empati, misalnya "Tentu saja belum ada pesan masuk, ia sedang berada di tengah hutan birokrasi dan rentetan pekerjaan yang menyita seluruh kapasitas mentalnya."
Mempraktikkan komunikasi tanpa kekerasan (NVC) ternyata harus dimulai dari dalam ke luar. Sebelum kita berhenti menyerang orang lain dengan kata-kata, kita harus terlebih dahulu berhenti menyerang batin kita sendiri dengan asumsi-asumsi yang menyakitkan.
Hari ini, saya memilih menjadi pengamat yang netral atas realitas. Saya mengakui bahwa saya rindu, saya mengakui kebutuhan saya akan koneksi, namun saya tidak akan membiarkan pikiran saya mengarang cerita sedih yang tidak pernah terjadi. Di atas fondasi fakta yang jernih inilah, kedaulatan batin benar-benar menemukan rumahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar