Pernah nggak sih, kamu merasa harga dirimu dan validasi cintamu sedang disandera oleh centang biru di WhatsApp?
Dulu, aku mungkin salah satu dari sekian banyak perempuan yang mengukur dalamnya kasih sayang dari seberapa cepat sebuah pesan dibalas. Di era yang serba instan ini, rasanya mudah sekali membiarkan amigdala di kepala kita membunyikan alarm kecemasan saat layar ponsel sepi. “Dia lagi apa ya? Kok pesanku cuma di-read? Apa dia avoidant karena takut komitmen?”
Pikiran-pikiran itu sering kali berisik. Sampai akhirnya, sebuah momen sederhana di suatu pagi berhasil membungkam semua kecemasan itu dengan cara yang paling manis.
Bukan lewat buket bunga yang mewah atau rentetan puisi di layar obrolan, melainkan lewat... sebungkus Interlac.
Iya, kamu nggak salah baca. Obat probiotik untuk pencernaan.
Ceritanya, beberapa waktu lalu aku sempat bercerita—lebih tepatnya mengeluh kecil—soal perutku yang sedang kurang nyaman. Aku sendiri bahkan hampir lupa pernah menceritakan itu. Tapi ternyata, laki-laki yang sedang dekat denganku—sebut saja dia BJ, sosok pekerja keras yang pragmatis dan cenderung logis—menyimpannya di kepalanya. Di tengah rentetan jadwalnya yang padat mengurus ekosistem kerjanya, dia tidak membalasku dengan kata-kata khawatir yang berlebihan. Dia datang, membawa ketenangan, dan diam-diam menyodorkan Interlac itu.
Di titik itulah aku belajar sesuatu yang fundamental tentang anatomi cinta seorang laki-laki yang matang (dan memiliki secure attachment).
Bagi mereka, cinta tidak selalu diterjemahkan lewat kata-kata romantis 24/7. Cinta, bagi sistem saraf laki-laki pelindung, adalah sebuah Act of Protection—tindakan nyata untuk menjaga dan melindungi. Mereka mempraktikkan seni mendengarkan secara diam-diam (just listen), lalu mengeksekusinya. Mereka memastikan pasangannya sehat dan aman agar bisa kembali beraktivitas. Sebuah bentuk romansa yang sangat pragmatis, tidak clingy, tapi pondasinya luar biasa kokoh.
Momen itu seperti sebuah empathy jolt—kejutan kesadaran buatku. Aku sadar, selama ini sering kali kita sendirilah yang merusak ruang aman dalam hubungan karena terlalu menuntut "kehadiran digital". Kita sering memberondong pasangan dengan pertanyaan logistik: "Nanti bisa anter aku nggak?", "Habis ini ke mana?", "Kok belum balas?"
Padahal, ada satu seni tertinggi dalam mencintai diri sendiri dan orang lain, yang akhir-akhir ini aku pelajari: Seni "Let Them". Sebuah kedaulatan batin untuk meletakkan ponsel, bernapas perlahan, dan membiarkan mereka hidup di dunianya sejenak. Membiarkan mereka menyelesaikan tugasnya tanpa direngeki. Memberikan jeda. Karena dari jeda dan ruang kosong itulah, rindu dan insting mereka untuk kembali pulang akan tumbuh secara alami.
Dan pertanyaannya, saat aku memberikan ruang kosong itu, aku ngapain? Menunggu di depan pintu? Tentu tidak.
Di sanalah kedaulatan seorang perempuan benar-benar diuji. Aku punya kerajaanku sendiri yang harus diurus. Ada tesis Magister Teknologi Industri Pertanian yang harus dirampungkan, ada bisnis skycoco.id yang terus butuh inovasi, dan ada peran sebagai Convener PUKL yang menuntut pemikiran strategisku di meja rapat.
Paradoksnya—the magic paradox—adalah ketika kita sibuk membangun ekosistem kita sendiri, saat kita utuh, bahagia, dan tak lagi menjadikan laki-laki sebagai satu-satunya pusat gravitasi... di saat itulah pesona kita memancar paling terang. Kita tidak lagi terlihat seperti seseorang yang sedang cemas menunggu, melainkan seseorang yang layak untuk diperjuangkan.
Finally, cinta yang sehat bukanlah tentang dua orang yang saling berbalas pesan setiap menit agar merasa aman. Cinta yang matang adalah ketika kita bisa meletakkan ponsel kita, mengurus dunia kita masing-masing dengan kepala tegak, dan tahu bahwa saat malam tiba, kita memiliki safe haven—ruang pulang yang hangat, yang mungkin tidak selalu puitis, tapi selalu memastikan kita cukup tidur dan tidak sakit perut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar