Pernahkah kamu berada di titik di mana kamu hampir saja mengetikkan kalimat, "Aku ingin jadi bagian masa depanmu" kepada seseorang yang bahkan tidak bisa memberikan kepastian untuk hari esok?
Semalam, saya hampir melakukannya. Di tengah rasa takut kehilangan dan rasa cemas yang menggerogoti, pikiran saya memproyeksikan sebuah ilusi rasa aman. Saya mengira, jika saya bisa masuk ke dalam masa depannya, saya akan merasa utuh. Saya bahkan rela menurunkan batas-batas prinsip, menabrak nilai moral dan spiritual yang saya yakini, hanya agar tidak ditinggalkan.
Namun, ketika saya mengambil jeda dan benar-benar mendengarkan keheningan di dalam diri, saya menyadari satu hal yang mengejutkan bahwa saya sebenarnya tidak sedang mengejar masa depan bersamanya. Saya sedang melarikan diri dari masa lalu saya sendiri.
Jejak Masa Lalu yang Menjebak
Dalam buku The Book You Wish Your Parents Had Read, Philippa Perry menyadarkan saya pada sebuah realitas psikologis yang pahit namun membebaskan. Sering kali, kita secara tidak sadar mereka ulang lingkungan emosional dari masa kecil kita di masa dewasa.
Jika di masa lalu kita terbiasa merasa bahwa cinta itu bersyarat, bahwa kita harus "melayani" atau "menjadi apa yang orang lain inginkan" agar tidak ditinggalkan, otak kita akan mencari pola yang sama. Otak kita lebih memilih "rasa sakit yang familier" daripada "rasa aman yang asing".
Kecanduan saya pada percakapan yang intens—yang akhirnya menyisakan rasa bersalah yang luar biasa—bukanlah tentang dia. Itu adalah jeritan dari inner child saya yang merasa harus "membayar" kehadiran seseorang dengan merendahkan nilai diri sendiri. Saya mengira saya sedang merawat cinta, padahal saya sedang merawat luka lama. Philippa Perry benar bahwa sebelum kita bisa membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, kita harus menjadi orang tua yang baik bagi diri kita sendiri (re-parenting). Dan orang tua yang baik tidak akan membiarkan anaknya berada di tempat di mana ia hanya dijadikan tempat singgah dan hanya ingin tau karena rasa penasaran.
Seni Membebaskan Diri: "Let Them Theory"
Di sinilah Let Them Theory (Teori "Biarkan Saja") dari Mel Robbins masuk dan menyelamatkan kewarasan saya.
Ketika saya merasa cemas karena dia menjawab komitmen dengan kalimat "Jalani aja dulu", insting pertama saya adalah ingin mengontrolnya. Saya ingin meyakinkannya, ingin mengubah pikirannya, ingin berteriak bahwa "Jodoh itu diusahakan, bukan cuma ditunggu!"
Tapi, Let Them Theory menampar saya dengan lembut.
- Dia tidak mau membahas masa depan yang serius? Let him. (Biarkan dia).
- Dia memilih berlindung di balik kata takdir untuk menghindari komitmen? Let him.
- Dia hanya ingin bersenang-senang tanpa tanggung jawab? Let him.
Mencoba mengubah pria yang tidak ingin berubah adalah resep paling ampuh untuk menghancurkan diri sendiri. Kedaulatan sejati bukan berasal dari kemampuan kita mengubah orang lain, melainkan dari kemampuan kita merespons pilihan mereka.
Dengan membiarkan dia menjadi dirinya apa adanya, saya mendapatkan kembali kebebasan saya. Dia berhak memilih jalannya, dan saya sangat berhak untuk tidak berada di jalan itu.
Halal atau Tinggalkan: Kembalinya Sang Kedaulatan
Hari ini, saya menarik kembali semua batas yang sempat runtuh. Sistem imun spiritual saya—rasa takut kepada Sang Pencipta—telah membersihkan sisa-sisa ilusi itu.
Saya tidak lagi bermimpi menjadi bagian dari masa depan seseorang yang tidak menempatkan saya di garis depan visinya. Saya memiliki entitas bisnis sendiri, saya mengurus organisasi tingkat kabupaten, saya sedang menyelesaikan studi S2, dan saya adalah pemimpin di dunia saya sendiri. Masa depan saya terlalu besar dan terlalu berharga untuk diserahkan kepada seseorang yang ragu.
Prinsip saya sekarang sudah kembali mengakar kuat: Halal, atau tinggalkan. Jika seseorang tidak memiliki keberanian untuk mengambil ikatan yang suci (Mitsaqan Ghaliza), maka ia tidak berhak mendapatkan setitik pun dari ruang batin, emosi, maupun hal-hal lainnya dari saya. Saya melepaskan hubungan ini, bukan karena saya membencinya, tapi karena saya akhirnya belajar untuk benar-benar mencintai diri saya sendiri.
Saya membiarkan dia pergi. Dan dengan demikian, saya akhirnya pulang kepada diri saya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar