Ada kalanya, di tengah keheningan malam atau jeda pekerjaan, insting purba di dalam kepalaku mendadak menyala. Ada sebuah suara kecil yang menuntut "Aku ingin ikut dia mudik. Aku ingin diajak melihat 100 bibit kopi itu di Muara Enim." Sebagai seorang pembelajar Theory U dan pengamat sistem saraf, aku tahu persis dari mana suara itu berasal. John Bowlby menyebutnya sebagai Hyper-activating System. Ketika seseorang yang membuat saya merasa aman akan segera berjarak secara fisik—terutama setelah minggu yang penuh badai dan donat JCo yang manis—sistem kelekatan di otak saya panik. Otak cemas (anxious brain) mengira bahwa jarak fisik berarti putusnya koneksi. Insting pertamaku adalah menuntut untuk diikutsertakan, mengikatkan diri pada ranselnya agar saya tidak ditinggalkan.
Tapi, di titik inilah aku harus mengaktifkan Prefrontal Cortex dan menekan tombol Suspend. Aku harus meletakkan keinginan impulsif ini di atas meja laboratorium dan melihatnya secara sistemik melalui kacamata The Adaptive Brain.
1. Analisis Medan Perang Sang Serigala
Mari kita lihat realitas sistemnya. Sebelum tanggal 26 itu tiba, dia dan aku harus bertempur habis-habisan di acara FGD RPPEG di Sekayu. Dia sedang memikul beban kognitif ekstrem—lobi aparat, urusan dokumen, kelelahan fisik karena kurang tidur, dan tekanan menjadi seorang "Penyelesai Masalah".
Ketika akhirnya tanggal 26 itu datang dan dia meluncur ke Muara Enim, dia tidak sedang pergi untuk berlibur bersenang-senang. Dia sedang mencari Allostasis (pemulihan keseimbangan absolut). Kebun kopi di kampung halamannya adalah ruang isolasi di mana dia bisa melepas topeng "Sang Pelindung", tidur panjang tanpa gangguan, dan mematikan otaknya dari keruwetan dunia.
2. Jebakan "Ego" Logistik
Klo aku menuntut untuk diajak, aku baru saja mengubah diriku dari seorang Secure Base (Rumah yang Aman) menjadi Threat Level (Ancaman Logistik). Membawa aku, seorang perempuan berdaulat, ke tengah keluarganya saat Lebaran berarti dia harus siaga menjamuku. Dia harus memastikan ku tidak canggung, dia harus menjadi "tuan rumah".
Menuntut ikut berarti aku merampas waktu istirahatnya demi menenangkan kecemasan batinku sendiri. Itu adalah tindakan Ego, bukan Eco.
3. Kedaulatan Earned Security
Kemerdekaan batin sejati adalah kemampuan membiarkannya pergi memulihkan diri, dengan keyakinan penuh bahwa jarak fisik tidak akan memutus koneksi kami. Aku memiliki panggungku sendiri di Sekayu. Aku punya keluarga yang merayakan Idul Adha bersamaku. Aku punya pekerjaan dan kehidupan yang utuh tanpa harus selalu menempel padanya.
Aku memilih menjadi Ratu yang elegan. Di sela-sela RPPEG nanti, aku hanya akan melepaskannya dengan senyuman dan doa keberangkatan yang ringan. Aku tidak akan menuntut untuk diajak ke kebun kopi itu. Sebaliknya, aku akan memberikan ruang kosong yang begitu nyaman, sehingga dari tengah kebun di Muara Enim sana, dia secara sukarela mengambil ponselnya, memotret 100 bibit kopi itu, dan mengirimkannya kepadaku.
Karena pada akhirnya, Ratu tidak pernah meminta untuk diundang. Ia membangun ekosistemnya sendiri yang begitu hangat, sehingga orang-oranglah yang ingin selalu kembali padanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar