Tadi siang aku ngetik satu kalimat yang rasanya jujur banget, tanpa filter, "Aku kesal tapi aku tetap sayang." Nggak ada gengsi yang ditutup-tutupi, nggak ada drama pasif-agresif, dan nggak ada perisai sok kuat. Cuma respons spontan yang mengalir gitu aja.
Dulu, mungkin kalau lagi jengkel atau merasa kurang diperhatikan, pilihanku cuma dua yaitu menahan semuanya sendirian sampai dada sesak, atau ngambek sambil nunggu dia menebak-nebak. Kita sering secara tidak sadar diajari untuk main aman, menjaga gengsi, atau pakai silent treatment biar kelihatan berkuasa. Tapi makin ke sini aku makin paham, cara-cara begitu cuma bikin sistem saraf bekerja terlalu keras dan capek sendiri.
Beberapa waktu lalu waktu aku main sama anak-anak kecil di lorong desa, ada satu rasa yang bikin hatiku tenang banget, bahwa bicada dengan mereka terasa no hidden intention. Mereka ngobrol polos, tertawa lepas, dan bahkan mempermudah aturan main supaya aku bisa ikut tanpa merasa kesulitan. Di dekat mereka, aku merasa aman karena tidak ada tuntutan untuk berpura-pura.
Ternyata, kehangatan yang sama bisa kita bawa ke dalam hubungan dewasa. Hadir utuh dan sadar penuh itu bukan berarti kita harus selalu ramah, selalu tenang, atau berpura-pura tidak pernah kesal. Keberanian dewasa yang sebenarnya justru ada pada saat kita bisa dengan jujur meluapkan ganjalan, tanpa harus menurunkan kualitas rasa sayang kita pada pasangan. Kita memilih untuk tidak menghukum orang lain atau memelihara ego, melainkan merawat ruang hubungan agar tetap hangat dan aman.
Melepaskan gengsi dan berani jujur sama perasaan sendiri ternyata rasanya sangat membebaskan. Nggak perlu akrobat emosi, nggak perlu pura-pura tangguh. Cuma ada aku, dengan segala rasa jengkel, kangen, dan kasih sayang yang utuh, belajar hadir untuk diriku dan hubunganku dengan cara yang paling ringan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar