Kemarin malam aku cuma ingin pelukan. Kepalaku agak pusing setelah makan kerang waktu magrib, jadi sekitar jam delapan malam aku chat,
“Sayang, aku perlu pelukan.”
Tidak ada balasan. Beberapa jam kemudian aku chat lagi. Lalu pagi berganti siang. Dan entah kenapa, tiba-tiba muncul rasa yang sudah cukup aku kenal, merasa sendirian. Merasa seperti tidak tahu aku sedang berdiri di mana dalam kehidupan seseorang yang aku sayangi.
Padahal aku tahu, belum tentu ada apa-apa. Mungkin dia sedang bekerja. Mungkin capek. Mungkin sedang mengurus sesuatu. Mungkin memang belum sempat membuka atau membalas. Aku tahu semua kemungkinan itu. Tapi tubuh dan pikiranku kadang punya cerita sendiri ketika tidak ada konteks.
Akhirnya aku memberanikan diri menulis. Bukan untuk menuntut dia membalas. Bukan untuk meminta dia selalu ada. Aku cuma ingin bilang apa yang sedang terjadi di dalam diriku. Aku teringat satu kejadian beberapa minggu lalu. Waktu itu dia mau pergi ke Jambi.
Awalnya aku sempat panik. Aku mengirim banyak chat. Ada rasa kaget, takut, dan banyak hal yang bergerak bersamaan di dalam kepala. Tapi setelah itu aku bisa berhenti. Tanggal 23, aku tidak chat. Tanggal 24, tidak. Tanggal 25, juga tidak. Lalu tanggal 26 dia mengabariku.
“Abg baru sampai Palembang.”
Sesederhana itu. Tapi aku ingat sekali rasanya waktu membaca pesan itu. Aku senang. Bukan karena akhirnya dia membalas. Lebih dari itu. Aku merasa dilibatkan. Aku merasa dipilih untuk tahu sedikit tentang kehidupannya. Aku merasa penting.
Dan mungkin saat itu menyadari sesuatu yang sebelumnya mungkin belum bisa aku rumuskan dengan jelas bahwa ternyata aku bisa memberi ruang. Aku bisa menunggu. Aku bisa membiarkan seseorang sibuk dengan kehidupannya. Aku bisa tidak terus-menerus mengirim pesan. Asalkan aku punya sedikit konteks. Aku tidak membutuhkan laporan harian. Aku tidak membutuhkan percakapan sepanjang hari. Kadang satu kalimat saja cukup.
“Abang lagi kerja.”
“Abang mau ke Jambi.”
“Abang baru sampai.”
Atau bahkan sebuah foto kecil dari hari itu. Seperti waktu dia pernah mengirim foto vanili dan bercerita tentang vanili. Aku senang sekali waktu itu. Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Mungkin bagi orang lain itu cuma foto vanili. Tapi buatku, rasanya seperti sebuah pintu kecil yang dibuka, “Ini sedikit dari kehidupan abang. Aku mau berbagi ini sama kamu.”
Dan ternyata itu berarti besar buatku. Aku merasa terhubung. Aku pernah berpikir mungkin aku terlalu banyak ingin tahu. Mungkin aku terlalu butuh dikabari. Mungkin aku harus belajar tidak peduli. Tapi sekarang aku mulai melihatnya dengan cara yang berbeda. Aku tidak ingin mengontrol kehidupan orang yang aku sayangi. Aku hanya ingin tahu kapan aku perlu mendekat dan kapan aku perlu memberi ruang.
Aku ingin punya sedikit peta.Karena ketika tidak ada peta, pikiranku kadang mengisi ruang kosong dengan berbagai kemungkinan. Dan sering kali kemungkinan yang muncul bukan yang paling menenangkan. Itulah mungkin kenapa ketika hanya di-read, kepalaku bisa mulai bekerja sendiri. Bukan karena aku ingin membuat drama. Bukan juga karena aku tidak percaya. Kadang aku memang hanya tidak tahu harus mengambil posisi di mana.
Apakah dia sedang sibuk? Apakah dia capek? Apakah dia ingin sendiri? Apakah aku boleh menghubunginya? Apakah aku sebaiknya menunggu?
Ketidakjelasan kecil itu bisa terasa jauh lebih besar ketika aku sedang rindu atau sedang butuh kehadiran. Dan sekarang aku sedang belajar memberi nama pada kebutuhan itu. Aku membutuhkan konteks agar bisa memberi ruang dengan tenang.
Hari ini aku kembali mengatakannya. Aku bilang bahwa pola komunikasi waktu dia pergi ke Jambi ternyata terasa cocok untukku. Aku bilang bahwa chat pendek darinya membantu. Aku bilang bahwa aku merasa lebih tenang dan tetap merasa dilibatkan meskipun kami tidak sedang dekat. Aku juga bilang bahwa aku belum tahu bagaimana dia merasakan semua ini. Karena memang aku tidak tahu.
Dan aku ingin belajar untuk tidak mengisi bagian yang belum aku ketahui dengan cerita buatanku sendiri. Lalu dia membalas.
“Abg baru sampai Palembang.”
Aku membaca kalimat itu. Dan lucunya, tubuhku malah sempat kaget. Keringat dingin. Mungkin karena sebelumnya aku sudah berada cukup lama dalam ruang yang tidak pasti. Lalu tiba-tiba ada konteks. Oh. Dia ada di Palembang. Dia baru sampai. Aku tahu sedikit tentang harinya. Dan perlahan aku bisa bernapas lagi.
Mungkin ini salah satu hal yang sedang aku pelajari tentang diriku sendiri. Aku tidak perlu menjadi seseorang yang tidak membutuhkan siapa-siapa supaya disebut mandiri. Aku juga tidak perlu memaksa seseorang untuk terus hadir supaya merasa aman. Ada ruang di antara keduanya. Aku boleh membutuhkan. Aku boleh bilang kangen. Aku boleh ingin dipeluk. Aku boleh senang ketika seseorang mengingat hal kecil tentangku. Dan aku juga bisa belajar menunggu. Aku bisa belajar menarik napas sebelum bereaksi.
Aku bisa belajar membedakan apa yang benar-benar terjadi, apa yang sedang kurasakan, dan cerita apa yang mulai dibuat kepalaku. Mungkin ini juga yang sedang aku lakukan sekarang. Bukan berhenti menyayangi. Bukan berhenti berharap. Bukan menjadi cuek. Tapi belajar tetap menjadi diriku sendiri ketika orang yang kusayangi sedang tidak berada di dekatku.
Aku teringat satu hal kecil lagi. Pernah suatu hari aku bilang aku tidak suka timun. Ketika kami membicarakan makanan, dia kemudian ingat. Gado-gadonya datang tanpa timun, padahal aku cuma bilang tanpa kavang panjang.
Aku senang sekali waktu itu. Bukan karena timunnya. Aku senang karena ternyata dia mendengarkan. Hal-hal kecil seperti itu mungkin bahasa kasih yang sangat sederhana buatku didengar, diingat, lalu dilibatkan. Dan mungkin karena itulah aku senang ketika dia bercerita tentang hari-harinya.
Aku tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Kadang aku cuma ingin menjadi bagian kecil dari kehidupan seseorang yang kusayangi. Tahu dia sedang ke mana. Tahu dia baru sampai. Melihat sesuatu yang dia temukan hari itu. Mendengar cerita tentang vanili. Hal-hal yang mungkin bagi orang lain biasa saja, tetapi bagiku terasa seperti, “Abang masih mengingat aku di dalam harinya.”
Aku juga tidak tahu akan seperti apa pola kami setelah ini. Aku tidak tahu apakah dia akan selalu ingat untuk bercerita. Aku tidak tahu apakah aku akan selalu bisa tenang. Mungkin nanti aku masih akan kangen. Mungkin nanti aku masih akan panik. Mungkin ada hari ketika aku kembali mengirim terlalu banyak chat.
Dan mungkin ada hari ketika dia kembali diam karena sedang sibuk dengan dunianya. Aku tidak ingin menjadikan satu momen sebagai bukti bahwa semuanya sudah berubah selamanya. Aku cuma ingin menyimpan momen ini. Karena hari ini aku belajar sesuatu yang mungkin akan berguna untuk diriku sendiri di kemudian hari bahwa Aku ternyata tidak membutuhkan banyak chat.
Aku membutuhkan tanda. Sedikit konteks. Sedikit rasa bahwa benang itu masih tersambung. Dan ketika benang itu terasa ada, aku ternyata bisa memberi ruang. Aku bisa pergi menjalani hariku.
Aku bisa tidur. Aku bisa bekerja. Aku bisa menikmati hidupku. Dan ketika kami bertemu lagi, mungkin aku tidak perlu membawa semua pertanyaan itu ke dalam pertemuan kami. Aku bisa melihat dia. Memeluk dia. Makan bersama. Bercanda. Menikmati waktu yang memang sedang kami punya. Tidak semua hal harus dibicarakan saat itu juga. Tidak semua rasa harus segera diselesaikan. Kadang sebuah hubungan juga bertumbuh dari hal-hal kecil yang perlahan dipahami.
Hari ini, mungkin aku sedang belajar memahami caraku mencintai. Dan mungkin, pelan-pelan, aku juga sedang belajar bagaimana mencintai tanpa kehilangan diriku sendiri. Terima kasih, sayang. Untuk menjadi salah satu tempat aku belajar mengatakan apa yang kurasakan.nUntuk membuatku berani berkata, “Aku butuh ini.”
Dan untuk mengajarkanku bahwa ternyata aku bisa tetap memberi ruang sambil tetap merasa dekat. Aku tidak tahu apakah nanti aku akan membaca tulisan ini dan tertawa karena ternyata dulu aku memikirkan hal-hal seperti ini sedalam itu.
Tapi kalau suatu hari aku membacanya lagi, aku ingin mengingat satu hal bahwa pada suatu hari di bulan September 2026, aku sedang belajar bahwa rasa aman tidak selalu datang dari seseorang yang terus berada di sampingku. Kadang rasa aman tumbuh ketika aku tahu sedikit tentang keberadaannya, lalu aku cukup percaya untuk kembali menjalani hidupku sendiri.
Dan hari itu, aku merasa sedang bertumbuh. Pelan-pelan. Bersama rasa sayang yang masih sama.
Ketika Satu Orang Menunjukkan, Satu Orang Lain ingin Mendengarkan