Jumat, 29 Mei 2026

Analisis Nilai Tambah dan 100 Bibit Kopi

​Malam ini, aku duduk mematung di depan layar laptop. Di hadapanku ada draf tesis S2 tentang 'Analisis Nilai Tambah' yang baru saja kusadari banyak kesalahannya. Dadaku terasa sesak. Rasanya aku ingin menutup layar itu, berlari keluar, dan kabur sejauh mungkin dari semua beban akademik ini. Air mataku mulai turun. Aku merasa kecil, bodoh, lelah, dan sangat kesepian.

​Tubuhku bereaksi. Aku mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri, tapi alih-alih menemukan ketenangan, kepalaku justru memutar satu nama yang paling kuinginkan kehadirannya saat ini, yaitu BJ. 

​Di tengah rumitnya angka-angka dan teori tesis yang membuatku ingin menyerah, otakku justru melarikan diri ke sebuah kebun yang berjarak ratusan kilometer dari sini.

​Tiba-tiba, momen lima detiknya terjadi. Aku menyadari bahwa di saat duniaku terasa begitu berat dan runtuh, yang paling kubutuhkan bukanlah jalan keluar yang jenius. Yang kubutuhkan hanyalah celotehan sederhana.

​Aku menyeka air mataku dan mendapati diriku tersenyum kecil membayangkan berada di kebun bersamanya. Aku tidak lagi memikirkan tesisku. Aku malah bertanya-tanya, apakah 100 bibit kopi yang dia ceritakan kemarin sudah ditanam? Apakah dia sedang bersenang-senang di sana? Dan aku ingat celoteh waktu kami bertemu, semoga saja dia tidak keliling kebun tanpa baju.

​Kecemasanku perlahan berubah menjadi rasa rindu yang hangat dan sedikit konyol. Aku ingin memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan remah, misalnya gimana kebunnya, Bang? Adek Ledy udah di Jakarta kan? Bang, udah dipake belum pulling oil yang kemarin? Mana coba gambar bibit kopinya?

​Aku menatap layar laptopku lagi, kali ini dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Tesis ini memang harus kuselesaikan, tapi tidak malam ini. Malam ini, aku hanya seorang perempuan yang sedang sangat lelah, yang merindukan senyum paling memesona dari seorang laki-laki, dan berharap bisa memeluknya saat dia kembali dari Sekayu nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar