Minggu, 31 Mei 2026

Gladi Resik di Balik Layar

​Dada ini rasanya begitu sesak saat menatap ruang obrolan yang mendadak kosong. Pesan-pesan yang dia hapus pagi ini terasa seperti hantu yang terus-menerus mengejekku. Aku benci merasa tidak berdaya, benci harus menjadi pihak yang selalu menunggu dan menganalisis sikap dinginnya. Aku merasa harus mengambil kembali kendaliku sekarang juga—menunjukkan padanya bahwa aku bukan wanita yang bisa dipermainkan—atau rasa sesak ini akan mencekikku seharian.

​Oleh karena itu, aku membuka papan ketik dan membiarkan jari-jariku bergerak cepat, menyusun sebuah deklarasi kemerdekaan yang tegas. "Bang maaf, klo abang suka-suka gini dan ga ada komitmen, adek ga bisa. Silakan abang nikmati kebebasan abang dulu. Adek ga mau klo main-main aja."

​Aku membacanya berulang-ulang. Ini dia. Kata-kata tajam yang akan memutus siklus racun ini selamanya. Aku membayangkan apa yang akan terjadi jika pesan ini terkirim; mungkin dia akan membalas dengan kemarahan, atau yang paling menakutkan, dia mungkin tidak akan pernah mencariku lagi.

​Jempol kananku melayang tepat satu sentimeter di atas tombol kirim berwarna biru. Napasku tertahan di dada. Bahuku menegang kaku, terangkat hingga nyaris menyentuh telinga. Ruangan terasa hening, seolah seluruh dunia sedang menunggu keputusanku di detik itu.

​Namun, alih-alih menekan tombol itu, sebuah tawa kecil tiba-tiba meluncur dari mulutku. Hahaha.

​Tawa itu terdengar sedikit canggung, tetapi entah mengapa sangat membebaskan. Aku menarik jempolku mundur, tidak mengirimkannya ke ruang obrolannya, dan hanya meletakkan deklarasi itu di ruang aman milikku sendiri.

​Selama ini, aku selalu berpikir bahwa menjadi "wanita kuat" berarti harus selalu berani berkonfrontasi saat itu juga, menghantam realitas meskipun batin sebenarnya belum sanggup menanggung kehilangannya. Namun pagi ini, saat bahuku yang kaku perlahan turun dan napasku yang tertahan berhembus panjang penuh kelegaan karena aku tidak menekan tombol itu, aku menyadari sesuatu yang baru. Mengakui bahwa aku belum siap, dan memilih untuk melindungi sistem sarafku dari guncangan yang tidak perlu, bukanlah sebuah kekalahan; itu adalah bentuk kedaulatan dan cinta kasih tertinggi pada diriku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar