Aku kira aku sudah siap. Beberapa minggu terakhir, aku sudah berkali-kali membicarakan berakhirnya kontrakku dengan LTKL. Ada handover. Ada administrasi. Ada exit interview. Ada percakapan dengan HR dan manajer. Ada dokumen-dokumen yang harus diselesaikan.
Secara administratif, semuanya jelas bahwa waktunya selesai. Secara emosional, ternyata tidak sesederhana itu. Di farewell kemarin, aku menangis. Bukan sekali.
Aku bisa berhenti sebentar, lalu tertawa. Beberapa detik kemudian menangis lagi. Setelah itu tertawa lagi karena sadar sedang menangis di depan orang-orang. Rasanya seperti roda emosi yang tidak punya rem.
Aku bahkan sempat bilang “Pada akhirnya adalah menangis yang keluarnya sambil ketawa.”
Mungkin itu cara paling jujur untuk menjelaskan perasaanku waktu itu. Aku sedih. Tapi bukan sedih karena merasa hidupku selesai. Aku merasa sedang sangat sadar bahwa sesuatu yang penting dalam hidupku benar-benar sudah sampai di satu batas.
Aku bergabung dengan LTKL setelah lulus S1. Waktu itu, banyak hal yang sekarang terasa biasa sebenarnya belum biasa bagiku.
Mengirim email kepada orang lain saja pernah menjadi sesuatu yang harus kupelajari. Berkoordinasi dengan orang yang berbeda-beda. Berbicara dengan pemerintah. Bertemu mitra. Memfasilitasi percakapan. Menghadapi orang yang tidak sepakat denganku. Mencoba memahami kenapa sebuah ide yang menurutku masuk akal ternyata tidak diterima orang lain.
Aku tidak datang sebagai seseorang yang sudah tahu caranya. Aku belajar sambil jalan. Dan mungkin karena itulah LTKL terasa berbeda bagiku. Ia bukan hanya tempat aku bekerja. Ia menjadi tempat aku belajar menjadi orang yang bekerja.
Lima tahun kemudian, aku bisa duduk dalam sebuah pertemuan dan membicarakan hal-hal yang dulu bahkan tidak kupahami. Aku bisa mengirim email tanpa menghabiskan waktu lama memikirkan setiap kalimatnya. Aku bisa memfasilitasi orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Aku punya jaringan yang dulu tidak pernah kubayangkan.
Tetapi yang paling aneh adalah aku tidak terlalu menyadari pertumbuhan itu ketika sedang menjalaninya. Baru ketika orang lain mengatakannya kepadaku, aku melihatnya.
Di farewell itu, teman-temanku bercerita tentang diriku dari sudut pandang mereka.
Ada yang mengingat bagaimana kami dulu sama-sama baru bergabung dan saling membantu mencari pijakan. Ada yang mengingat debat-debat kami di Muba. Ada yang mengingat kebiasaanku mengikuti pelatihan, bertanya, belajar, mencoba sesuatu yang baru. Ada yang melihat kemampuan fasilitasi yang berkembang. Ada yang mengingat bahwa aku sering menjadi tempat bertanya dan bercerita. Ada yang bahkan berbicara tentang kontribusi yang lebih besar dari pekerjaan sehari-hari yaitu kebijakan, pendampingan, jejaring, program, dan berbagai hal yang pernah kami coba bangun di Muba.
Aku mendengarkan semuanya sambil menangis.bDan di situ aku mengalami sesuatu yang agak ganjil. Selama ini aku sering bertanya “Aku sebenarnya sudah menjadi apa?”
Ternyata jawabannya tidak selalu perlu datang dari diriku sendiri. Kadang orang lain yang hidup bersamamu selama bertahun-tahun menyimpan bukti-bukti pertumbuhanmu yang tidak sempat kamu catat.
Ada satu kalimat yang paling tinggal di kepalaku. Kurang lebih begini “Peran di LTKL-nya mungkin selesai, tapi dengan orang-orangnya tidak selesai.”
Aku merasa kalimat itu tepat. Karena yang sebenarnya kutinggalkan adalah sebuah peran. Bukan seluruh hubungan. Bukan semua percakapan. Bukan semua pengetahuan. Bukan sejarah. Bukan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan ini. Mungkin selama ini aku terlalu menyamakan tempat kerja dengan identitas.
Padahal LTKL membentukku, tetapi aku tidak harus terus berada di dalam LTKL untuk membawa hasil pembentukannya. Aku bisa pergi tanpa harus menghapus bagian diriku yang terbentuk di sana.
Ada hal lain yang baru kusadari setelah kontrakku benar-benar mendekati akhir. Aku ternyata bukan orang yang mudah meninggalkan. Aku bisa pindah. Aku bisa menerima bahwa sebuah fase selesai. Tetapi aku butuh waktu untuk melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidupku. Mungkin karena aku punya kecenderungan untuk benar-benar masuk ketika sudah memilih sesuatu. Kalau sudah bekerja, aku all out. Kalau sudah merasa menjadi bagian dari sebuah tim, aku merasa ikut memiliki. Kalau sudah merasa dekat dengan orang-orangnya, hubungan itu tidak otomatis berakhir hanya karena struktur organisasinya berubah.
Itulah kenapa proses ini terasa sedikit lebih berat daripada yang kubayangkan. Aku tidak hanya sedang mencari pekerjaan berikutnya. Aku sedang belajar hidup tanpa sebuah identitas yang selama bertahun-tahun terasa sangat melekat. Dan itu membuat pertanyaan berikutnya menjadi lebih nyata: Kalau bukan “Novi dari LTKL”, lalu Novi yang mana? Aku belum punya jawaban final. Dan untuk sekarang, aku rasa tidak perlu memaksakannya.
Di farewell kemarin, ada satu nasihat yang juga terus kupikirkan. Tentang melihat long run. Tentang tidak hanya mengumpulkan skill karena sedang ingin bisa sesuatu, tetapi memahami ke mana semua skill itu sebenarnya ingin kubawa. Tentang menemukan highest future potential. Tentang membangun learning bodies baru, orang-orang yang bisa menjadi teman berpikir, berefleksi, dan bertumbuh.bTentang menggunakan modal sosial yang sudah terbentuk, bukan sekadar menyimpannya sebagai daftar kenalan. Dan tentang satu kalimat sederhana "Jangan mengejar uangnya. Kejar value-nya.
Aku tidak tahu apakah aku sudah benar-benar mengerti kalimat itu. Tapi aku tahu aku sedang berada di titik ketika kalimat itu relevan. Karena setelah LTKL, aku belum tahu persis apa pekerjaan berikutnya. Ada kemungkinan kerja di Palembang. Ada kemungkinan kesempatan lain. Ada kemungkinan membangun kembali usaha yang sempat kutinggalkan ketika menyelesaikan S2. Ada keinginan melanjutkan belajar. Ada juga banyak pertanyaan yang belum punya bentuk.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun, aku tidak sedang memegang satu jalur yang sudah jelas. Sedikit menakutkan. Tapi mungkin memang begitu rasanya ketika sebuah peta lama sudah tidak bisa dipakai, sementara peta baru belum selesai digambar.
Aku tidak ingin menulis bahwa LTKL adalah tempat yang sempurna. Tidak. Ada masa ketika aku lelah. Ada ketakutan. Ada pekerjaan yang tidak selesai dengan baik. Ada komunikasi yang tidak selalu mudah. Ada dinamika kabupaten yang kadang membuat kami harus berpikir berkali-kali sebelum mengambil langkah. Ada masa ketika aku merasa sendirian dengan sesuatu yang sedang kuhadapi. Ada juga keputusan-keputusan yang tidak selalu kupahami saat itu. Tapi mungkin justru karena itulah tempat ini menjadi nyata bagiku.
Pertumbuhan ternyata tidak selalu terjadi dalam situasi yang nyaman. Kadang ia muncul karena kita dipaksa berhadapan dengan sesuatu yang belum bisa kita lakukan. Lalu kita mencoba. Gagal sedikit. Bertanya. Belajar. Mencoba lagi. Sampai suatu hari kita lupa bahwa dulu hal itu terasa sulit.
Aku masih tidak tahu bagaimana bentuk hubungan antara aku dan LTKL setelah ini. Mungkin nanti kami bertemu sebagai mitra. Mungkin sebagai rekan profesional. Mungkin di kabupaten lain. Mungkin di sebuah ruang yang sekarang bahkan belum ada dalam bayanganku. Yang aku tahu, lima tahun ini tidak akan hilang hanya karena kontraknya berakhir.
Ada terlalu banyak manusia di dalamnya. Terlalu banyak percakapan. Terlalu banyak perjalanan. Terlalu banyak versi diriku yang pernah hidup di sana. Dan mungkin perpisahan yang sehat memang bukan tentang mengatakan “Selamat tinggal.”
Tetapi “Terima kasih. Bagian ini sudah selesai. Aku bawa yang perlu kubawa, dan sisanya kutinggalkan dengan baik.”
Jadi, apakah aku sedih? Iya. Apakah aku lega? Juga iya. Apakah aku bangga? Sangat. Apakah aku takut dengan apa yang berikutnya? Sedikit banyak, iya. Apakah aku sudah tahu akan menjadi apa setelah ini? Belum. Dan anehnya, sekarang aku tidak terlalu ingin buru-buru tahu.
Untuk sementara, mungkin aku ingin menikmati satu kesadaran sederhana bahwa aku pernah berada di sini. Aku bertumbuh di sini. Dan sekarang aku cukup berani untuk pergi.
Sisanya, biarlah perjalanan berikutnya yang memperkenalkan Novi yang baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar