Minggu, 14 Juni 2026

Ketika Aku Menemukan Jejak Itu


Hari ini hari Senin pagi, aku masih penasaran beberapa hal. Padahal hari Minggu kemarin aku memakai kacamata hampir seharian. Bukan karena gaya tapi karena mataku bengkak karena terlalu banyak menangis. Aku bahkan mengompresnya dengan air dingin dan es batu setelah mencari cara mengurangi bengkak di Google di jam 03.00 WIB. Aku masih penasaran tapi mata bengkak ku sudah tidak kuat. Aku capek sekali dan memutuskan tidur sejenak. Pagi pagi pukul 06.13 saat sepupuku masuk ke dalam kamar dan bertanya macam-macam, aku memilih diam atau menjawab dengan anggukan dan gelengan kepala. Aku takut mereka mendengar suaraku yang masih bergetar. 

Sepanjang hari minggu itu, aku tidak keluar kamar. Aku makan saat rumah sedang sepi. Lucunya, Senin pagi mataku sudah jauh lebih baik. Tapi jangan bayangkan aku langsung tercerahkan dan sembuh. Malamnya aku masih membuka last seen. Bahkan sempat salah kirim pesan. Rupanya memahami diri sendiri tidak membuat rasa penasaran langsung hilang. Ia hanya membuatku sedikit lebih lembut kepada diriku yang sedang penasaran. Aku menatap layar laptop ku dan tertawa kecil pada diriku sendiri.

"Ya Allah, sampai segininya ya." Tubuhku lelah. Jujur saja, aku masih penasaran. Masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tapi anehnya, kali ini tubuhku lebih ingin tidur daripada mencari jawaban. Mungkin karena aku baru saja menemukan sesuatu yang selama ini tidak kulihat.

Awalnya aku pikir aku sedang berusaha memahami seseorang. Aku pikir aku sedang mencoba memahami kenapa hubungan tertentu terasa begitu melelahkan. Kenapa ketidakjelasan membuatku sangat menderita. Kenapa aku bisa menghabiskan begitu banyak energi hanya untuk membaca sebuah kata, jeda balasan, atau diam yang terlalu lama.

Lalu aku membuka kembali blog lamaku. Tulisan tahun 2015. 2016. 2017. Aku membacanya satu per satu. Awalnya hanya ingin bernostalgia. Tapi semakin jauh aku membaca, semakin sering aku berhenti. Bukan karena tulisan itu bagus. Melainkan karena aku merasa sedang membaca orang yang sama.

Aku. Ternyata sejak dulu aku sudah menulis hal yang sama. Tentang menunggu. Tentang bertanya-tanya. Tentang takut kehilangan. Tentang berharap seseorang datang. Tentang rasa sakit karena ketidakjelasan.

Dan aku terdiam. Karena untuk pertama kalinya aku bertanya: "Jangan-jangan ini bukan hanya tentang dia." 

Ada sebuah peristiwa yang selalu kuingat sejak kecil. Aku masih kelas 4 SD, bibiku baru pulang kerja dari Jakarya dan mengunjungi rumahku. Waktu itu bibiku pulang tanpa berpamitan. Aku menangis. Aku bahkan menciumi bajunya yang tertinggal.

Selama ini aku mengingat peristiwanya. Tapi aku tidak pernah benar-benar memahami jejak yang ditinggalkannya. Mungkin yang tertinggal bukan hanya kesedihan. Mungkin yang tertinggal adalah ketakutan.

Ketakutan bahwa orang yang kusayangi bisa pergi saat aku belum siap. Ketakutan bahwa seseorang bisa menghilang tanpa penjelasan. Ketakutan bahwa aku harus menebak-nebak sendiri apa yang sedang terjadi.

Dan tiba-tiba banyak hal terasa masuk akal. Aku tidak sedang mencari seseorang. Aku sedang mencari rasa aman. Aku tidak terlalu takut pada perpisahan. Aku lebih takut pada ketidakjelasan sebelum perpisahan. Aku lebih takut pada tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Mungkin karena itulah aku bisa merasa lega ketika seseorang memberikan kejelasan, bahkan jika jawabannya tidak sesuai harapan. Karena setidaknya aku tahu. Karena setidaknya aku tidak perlu menebak lagi. 

Aku tidak tahu apakah ini yang disebut healing. Mungkin belum. Mungkin ini baru satu potongan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya. Tapi malam ini aku bersyukur. Karena setelah bertahun-tahun berusaha memahami orang lain, aku menemukan sedikit pemahaman tentang diriku sendiri. Dan mungkin untuk pertama kalinya, pertanyaannya bukan lagi: "Apakah dia akan datang?"

Bukan lagi: "Apakah dia masih peduli?"

Bukan lagi: "Apakah dia memikirkanku?"

Melainkan: "Apa yang sebenarnya sedang ditakuti oleh bagian diriku yang sangat takut ditinggalkan itu?"

Dan anehnya, pertanyaan terakhir itu terasa jauh lebih menenangkan. Karena jawabannya tidak berada di tangan siapa pun. Ia ada di dalam diriku sendiri. Malam ini aku masih penasaran.

Aku masih belum memiliki semua jawaban. Tapi tubuhku sudah tidak ingin berperang lagi. Tubuhku hanya ingin tidur. Dan mungkin itu cukup.

Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa harus menyelamatkan masa depan. Aku hanya ingin beristirahat. Setidaknya sekarang aku tahu satu hal:

Aku tidak sedang rusak. Aku hanya sedang belajar memahami jejak-jejak yang sudah lama berjalan bersamaku.

Mulai Belajar Menjadi Manusia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar