Sabtu, 13 Juni 2026

Tahun Ketika Aku Berhenti Menjadi Semua Hal Sekaligus


Ada satu malam di usia 28 tahun yang tidak akan pernah kulupakan. Malam itu aku menangis begitu lama hingga kepalaku terasa berat dan mataku bengkak. Bukan karena satu peristiwa besar. Bukan juga karena satu orang.

Tangisan itu terasa seperti akumulasi dari banyak tahun yang menumpuk diam-diam di dalam dada. Aku sedih karena tesis belum selesai. Aku sedih karena Skycoco belum tumbuh sebesar yang kubayangkan. Aku sedih karena PUKL terasa berjalan lambat. Aku sedih karena gajiku tidak banyak berubah. Aku sedih karena teman-teman seusiaku mulai menikah, memiliki rumah, membangun karier yang tampak jelas arahnya.

Dan di tengah semua itu, aku bertanya pada diriku sendiri dengan suara yang sangat pelan, "Aku ini siapa sebenarnya?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun ternyata ia lebih menakutkan daripada semua target yang belum tercapai.

Selama ini aku hidup di dalam banyak peran. Aku adalah anak yang baik. Aku adalah kakak. Aku adalah mahasiswa. Aku adalah pengusaha. Aku adalah convener. Aku adalah fasilitator. Aku adalah perempuan yang ingin dicintai. Aku adalah perempuan yang ingin membanggakan orang tuanya. Aku menjadi banyak hal untuk banyak orang.

Sampai suatu hari aku menyadari bahwa aku begitu sibuk menjalankan peran-peran itu hingga lupa berkenalan dengan diriku sendiri.

Aku terus mengejar. Mengejar kelulusan. Mengejar keberhasilan. Mengejar validasi. Mengejar cinta. Mengejar pengakuan. Dan tanpa kusadari, hidupku berubah menjadi daftar panjang tentang siapa yang harus aku jadi berikutnya. Padahal jauh di bawah semua itu ada seorang perempuan kecil yang hanya ingin didengar.

Tahun 2026 menjadi tahun yang aneh. Di satu sisi, banyak hal belum selesai. Tesis belum selesai. Bisnis belum besar. Karier belum melompat jauh. Masa depan masih tampak kabur. Namun justru di tahun yang tampak "biasa-biasa saja" dari luar ini, sesuatu yang jauh lebih penting terjadi.

Aku mulai pulang. Aku mulai berhenti berlari sebentar. Aku mulai berani mengakui bahwa aku takut. Aku mulai berani mengatakan bahwa aku lelah. Aku mulai berani menangis tanpa meminta maaf. Aku mulai belajar bahwa rasa kangen tidak selalu harus ditindaklanjuti. Aku mulai belajar bahwa tidak semua luka harus diselesaikan hari ini. Aku mulai belajar menarik napas sebelum bereaksi. Aku mulai belajar mendengar diriku sendiri.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak sedang berusaha menjadi versi terbaik diriku. Aku hanya sedang berusaha menjadi diriku. Dan ternyata itu jauh lebih sulit.

Aku belum tahu akan menjadi apa sepuluh tahun dari sekarang. Aku belum tahu apakah Skycoco akan besar. Aku belum tahu apakah aku akan menjadi akademisi, convener, pengusaha, atau sesuatu yang bahkan belum bisa kubayangkan hari ini. Namun ada satu hal yang mulai kupahami. Nilai diriku tidak bergantung pada seberapa cepat aku berhasil.

Aku bukan tesis yang tertunda. Aku bukan omzet yang belum tumbuh. Aku bukan hubungan yang gagal. Aku bukan daftar target yang belum tercapai. Aku adalah manusia yang sedang bertumbuh. Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupku, itu sudah cukup.

Jika suatu hari nanti aku membaca tulisan ini lagi, aku ingin mengingat satu hal. Tahun 2026 bukan tahun ketika aku gagal menjadi seseorang. Tahun 2026 adalah tahun ketika aku berhenti menjadi semua hal sekaligus. Dan mulai berani menjadi Novi.

Tentang Rasa yang Mengajarkanku Pulang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar