Ada yang lucu tentang bagaimana tubuh manusia mencoba bertahan dari rasa rindu yang datang tiba-tiba di tengah malam. Saat dada terasa penuh oleh sebuah nama yang berjarak, insting kita sering kali mencari rute pelarian yang paling sederhana. Bagi saya dini hari ini, rute itu berujung di dapur, berhadapan dengan panci kecil dan semangkuk mie kuah panas.
Secara biologis, masuk akal mengapa kita sering mencari makanan hangat saat merasa sepi. Kehangatan kaldu yang mengalir ke lambung adalah cara tubuh mencoba memanipulasi sistem saraf parasimpatik. Perut yang kenyang dan hangat memberikan sinyal rasa aman, seolah meniru sensasi fisik dari sebuah pelukan. Selama beberapa menit menyeruput kuah itu, tubuh saya merasa rileks.
Namun, tepat setelah mangkuk itu kosong, saya hanya bisa tertawa kecil menyadari satu realitas. Perut saya memang sudah kenyang dan tubuh saya jauh lebih hangat, tetapi anehnya, rasa kangen itu sama sekali tidak menyusut.
Di titik inilah kedaulatan batin kita benar-benar diuji.
Dulu, rasa rindu yang menggenang di jam satu pagi mungkin akan berakhir menjadi rentetan pesan panjang di layar ponsel. Sebuah kepanikan ego yang menuntut validasi instan, mendesak orang di seberang sana untuk terbangun dan membalas perasaan yang sama.
Namun belakangan ini, saya sedang belajar mempraktikkan sebuah konsep yang membebaskan, yaitu The Let Them Theory. Seni membiarkan. Membiarkan orang yang kita sayangi memiliki ruangnya sendiri, ritme kesibukannya sendiri, dan waktu istirahatnya sendiri, tanpa kita harus mendobrak masuk hanya karena kita sedang merasa sepi.
Membiarkan dia bukan berarti kita menekan perasaan kita sendiri. Justru di sinilah letak paradoks magis dari sebuah kedewasaan emosional.
Kita bisa menjadi perempuan yang berdaulat, mandiri menyeduh mie kuah di tengah malam untuk menenangkan sistem saraf kita sendiri, dan di detik yang bersamaan, kita tetaplah manusia rapuh yang merindukan seseorang dengan sangat hebat. Kedua hal ini bisa hidup berdampingan. Menjadi mandiri tidak berarti kita harus kebal terhadap rasa kangen.
Merindukan seseorang yang sedang tidak bisa dijangkau bukanlah sebuah kelemahan emosi. Itu adalah bukti nyata bahwa kita memiliki kapasitas untuk mencintai dengan sangat dalam.
Maka malam ini, alih-alih melawan rasa sepi atau memaksa keadaan, saya memilih untuk merengkuh kerinduan ini. Pesan manis sudah saya sampaikan sebelumnya dengan cara yang paling ringan tanpa menuntut balasan. Tugas saya menyuarakan hati sudah selesai. Sisa rindu yang masih tertinggal ini biar menjadi milik saya sendiri untuk dirawat malam ini.
Semesta memiliki cara kerjanya sendiri dalam menjaga sebuah ekosistem hubungan. Esok matahari akan terbit membawa dinamika yang baru. Namun untuk jam satu pagi ini, biarlah rindu ini bermukim dengan tenang di dalam dada, ditemani sisa kehangatan kaldu ayam yang menguap di udara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar