Kamis, 30 April 2026

Sebuah Amin yang Dirawat dalam Diam


​Ada keheningan yang sangat syahdu pagi ini. Secangkir harapan baru saja diseduh, ditemani debar di dada yang entah mengapa terasa begitu utuh dan penuh. 

​Beberapa hari yang lalu adalah memori yang luar biasa. Kedekatan yang hangat, tawa yang tak tertahan, dan pelukan yang rasanya mampu mengembalikan seluruh kewarasan. Hari ini, saat jarak kembali membentang dan masing-masing dari kami harus kembali pada kesibukan, secara alami tubuh merindukan rentetan kenyamanan itu.

​Namun anehnya, rindu di dada saya pagi ini tidak datang membawa kecemasan atau keinginan untuk menuntut. Ia datang membawa sebuah visi masa depan yang sangat jernih.
​Dalam diam, saya membiarkan pikiran ini berkelana ke sebuah masa depan yang selalu saya semogakan. Masa depan yang bentuknya ternyata sangat sederhana. Bukan tentang perayaan yang megah atau janji-janji puitis yang melangit, melainkan tentang rutinitas pagi yang membumi. Tentang seseorang yang mengantar saya berangkat kerja membelah jalanan Palembang. Tentang sebuah rumah tempat kami berdua pulang di penghujung hari, melepas lelah dunia, dan menemukan kembali tempat berlabuh dalam pelukan yang sama.

​Tulisan ini sengaja saya abadikan hari ini sebagai sebuah kapsul waktu.

​Saya sangat berharap, suatu hari nanti saat saya membaca kembali tulisan ini, dia sudah ada di sebelah saya. Mungkin sambil menyesap kopinya, atau mungkin sambil tersenyum geli menyadari betapa banyak proses yang harus kami lalui sebelum akhirnya semesta mengaminkan doa-doa yang dulunya hanya berani saya bisikkan di jam satu dini hari.
​Perjalanan merawat hubungan ini mengajarkan saya satu seni tingkat tinggi, yaitu seni merayakan cinta yang pragmatis. Saya belajar berdamai dengan kenyataan bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk rentetan pesan romantis. Terkadang, ia hadir lewat laki-laki yang otaknya sibuk memikirkan logistik perlindungan. Laki-laki yang mungkin kaku dalam berucap, namun tangannya tak pernah luput memastikan saya aman, kenyang, dan terlindungi. Laki-laki yang mengajarkan saya bahwa kedaulatan batin justru lahir ketika kita berhenti memaksa orang lain berbicara dengan bahasa kita, dan mulai belajar memahami bahasa cintanya.

​Hari ini, rindu yang menggebu ini tidak akan saya biarkan bocor menjadi kecemasan. Rindu ini saya ubah menjadi bahan bakar. Ada tesis yang harus segera diselesaikan, ada langkah-langkah kemandirian yang harus ditapaki. Saya harus memimpin diri saya sendiri menjadi versi yang paling utuh, berdaulat, dan tenang. Tujuannya hanya satu, agar ketika hari yang didoakan itu tiba, saya siap mendampinginya bukan sebagai seseorang yang terus-menerus minta diselamatkan, melainkan sebagai rumah tempatnya bersandar.

​Untuk diri saya di masa depan yang kelak membaca paragraf ini bersama rajanya... selamat.

​Kesabaranmu, ketenangan batinmu, dan kemampuanmu untuk membiarkan cinta bertumbuh secara alami tanpa perlu dipaksa, telah membuahkan hasil yang paling indah. Semua tangis, tawa, dan semangkuk mie kuah di tengah malam itu ternyata sepadan.

​Bismillah. Untuk hari ini, esok, dan amin yang terus dirawat dalam diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar