Ada masa ketika saya mengira cinta itu harus selalu diterjemahkan lewat rentetan kalimat manis atau gestur romantis yang megah bagai adegan film. Ego sering kali menuntut validasi instan, ingin diyakinkan lewat layar ponsel atau pelukan hangat tepat sebelum perpisahan.
Tadi siang, saat harus berpisah di sebuah loket travel di Palembang, suasananya jauh dari kata puitis. Dia sibuk menurunkan tas berat saya, memikirkan ongkos perjalanan, dan wajahnya tampak tegang karena diburu jadwal pertemuan virtual. Sebuah perpisahan yang sangat pragmatis, diwarnai suara klakson dan lambaian tangan yang terburu-buru.
Jika menggunakan kacamata masa lalu, saya mungkin akan duduk di dalam mobil travel dengan hati yang mendung. Amigdala saya akan menyalakan alarm dan memutar narasi tentang betapa kakunya sebuah perpisahan.
Namun hari ini, saya memilih sebuah jalan yang jauh lebih membebaskan. Saya memilih untuk tenang. Saya mempraktikkan seni membiarkan. Saya membiarkan dia dengan kepraktisannya, membiarkan dia sibuk dengan logistiknya, tanpa merasa bahwa hal itu mengurangi nilai diri saya sedikit pun. Saya tersenyum, mencium tangannya, dan melangkah pergi dengan kedaulatan batin yang utuh.
Dan rupanya, ketika kita berhenti menuntut cinta tampil dalam wujud yang kita inginkan, kita justru bisa melihat wujud aslinya yang jauh lebih megah.
Keajaiban itu baru saya temukan saat tiba di rumah.
Saat membuka tas, ego saya yang mungkin sempat mengharapkan pesan rindu yang panjang langsung terdiam. Di dalam sana, terselip sebotol minyak kayu putih. Dia memasukkannya diam-diam tanpa sepatah kata pun, sekadar karena saya sempat mengeluh sakit perut sebelumnya.
Tidak berhenti sampai di situ. Dia juga membawakan saya jeruk dalam jumlah yang banyak. Jeruk yang hanya pernah saya sebutkan sepintas lalu berbulan-bulan yang lalu saat dia Ke Pagar Alam dan bahkan saya hanya memotretnya saat momen Lebaran tanpa berkata sepata kata pun.
Saya tertegun. Laki-laki ini mungkin tidak pandai merangkai puisi di kolom obrolan. Dia mungkin membalas pesan dengan sangat efisien. Namun di kedalaman yang tidak terlihat di permukaan, dia memiliki arsip ingatan yang luar biasa tentang hal-hal kecil yang saya sukai. Bahasanya jauh lebih primitif dan murni, perlindungan mutlak. Dia memastikan saya tidak kesakitan di jalan, dan dia memastikan keinginan kecil saya terwujud.
Malam ini, di kamar saya sendiri, saya belajar tentang cinta dari sudut pandang sebuah ekosistem yang tenang. Cinta tidak selalu datang dalam bentuk kalimat romantis yang kita rencanakan. Kadang, ia datang dalam wujud laki-laki kaku yang membawakan tas beratmu, memastikan ongkos pulangmu aman, dan menyelipkan penawar sakit di tasmu secara rahasia.
Dan sungguh, dicintai dalam diam dengan cara yang begitu melindungi, rasanya jauh lebih bising dan menggetarkan hati daripada ribuan kata cinta mana pun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar