Akhir-akhir ini, saya sedang menantang diri sendiri untuk melakukan sebuah eksperimen batin yang cukup ekstrem. Sebagai seseorang yang terbiasa dengan analisis sistemik dan mencoba menyelami pola emosi, saya sering terjebak pada keinginan untuk membedah segala sesuatu, termasuk cara orang lain mengekspresikan perasaannya. Saya terbiasa menuntut cinta hadir dalam bentuk kata-kata romantis, pesan singkat yang manis, atau validasi verbal yang konstan.
Namun, dalam perjalanan singkat di Palembang kemarin, saya memutuskan untuk mempraktikkan sesuatu yang diajarkan oleh Mel Robbins, yaitu The Let Them Theory. Membiarkan mereka menjadi apa adanya.
Eksperimen ini dimulai saat saya mencoba menunjukkan sebuah refleksi perasaan yang cukup dalam kepada seseorang yang bisa saya katakan pasangan saya, tepat sebelum saya pulang. Di kepala saya, saya sudah menyusun skenario sinematik tentang bagaimana dia akan merespons dengan kelembutan yang sama.
Realitasnya? Dia hanya berkomentar singkat dengan dialek khasnya, "Apo-apoan dek ah," sambil sibuk menurunkan tas berat saya dan memastikan urusan logistik di loket travel selesai. Dia terlihat tegang karena jadwal pertemuan virtual yang sudah menunggu.
Jika itu saya yang dulu, sistem pertahanan diri saya mungkin akan langsung mengirimkan sinyal bahaya. Saya akan merasa diabaikan. Namun, di tengah hiruk pikuk loket travel itu, saya memilih untuk menunda reaksi ego saya. Saya membiarkan dia dengan kekakuannya. Saya membiarkan dia dengan fokus logistiknya. Saya tetap tenang, tersenyum, dan berpamitan dengan kedaulatan batin yang utuh.
Keajaiban dari eksperimen ini justru baru muncul saat saya tiba di rumah.
Saat membuka tas, ego saya yang mungkin sempat mengharapkan pesan rindu yang panjang langsung terdiam. Di dalam sana, ada minyak kayu putih. Dia memberikannya padaku saat tahu saya sempat mengeluh sakit perut siang tadi. Bukan hanya itu, ada bungkusan jeruk dalam jumlah banyak yang dia siapkan—jeruk yang hanya pernah saya sebutkan sepintas lalu berbulan-bulan yang lalu saat momen dia ke Pagar Alam.
Di sanalah saya menyadari fondasi terdalam dari orang ini yang selama ini sering saya abaikan karena terlalu sibuk menuntut kata-kata manis.
Otaknya tidak didesain untuk merangkai puisi di tengah stres mengurus logistik perjalanan. Cintanya tidak bersuara melalui abjad, melainkan melalui tindakan perlindungan yang nyata. Dia tidak merangkai kalimat puitis untuk menyuruh saya cepat sembuh, tapi dia memastikan saya punya obat di tas. Dia tidak mengumbar janji, tapi dia membawakan keinginan kecil saya sampai ke tangan.
Hati saya menghangat. Berbekal pemahaman baru ini, saya mengirimkan pesan singkat untuk berterima kasih atas semua repotnya hari ini. Balasannya tiba tak lama kemudian, dan isinya sangat khas dirinya, amat efisien dan tanpa basa-basi, "Ok, same-same."
Dulu, balasan seirit itu pasti akan memicu rentetan protes di kepala saya. Namun malam ini, saya justru tertawa geli. Saya tahu persis bahwa di balik kata singkat itu, ada laki-laki yang baru saja menumpahkan kepeduliannya lewat sebotol minyak kayu putih dan buah jeruk. Maka, saya membalasnya dengan godaan yang riang, "Padahal baru sampai rumah, tapi sudah kangen aja," lalu meletakkan ponsel saya tanpa beban. Saya sama sekali tidak menuntutnya membalas dengan kerinduan yang sama.
Eksperimen ini membawa saya pada sebuah transisi penting, bergeser dari ego yang ingin dunia berputar sesuai standar romansa saya, menuju kesadaran ekosistem di mana saya bisa menghargai bahasa cinta orang lain yang berbeda.
Saya belajar bahwa kedaulatan batin yang sesungguhnya bukan berarti kita tidak butuh cinta. Kedaulatan batin adalah memiliki kapasitas untuk melihat cinta dalam wujud aslinya, bukan hanya dalam wujud yang kita imajinasikan.
Malam ini, saya pulang dengan hati yang jauh lebih lapang. Saya tidak lagi merasa perlu memperbaiki cara dia berkomunikasi. Karena ternyata, dicintai oleh seseorang yang memastikan tasmu ringan, perjalananmu aman, dan perutmu hangat, rasanya jauh lebih menenangkan daripada sekadar kata-kata manis yang terbang dibawa angin.
Terkadang, kita hanya perlu membiarkan mereka menjadi dirinya sendiri, agar kita bisa melihat betapa indahnya cara mereka menjaga kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar