Rabu, 04 November 2026

Dear Sayang, Aku ingin Mendengar Cerita



Ada hal-hal sederhana yang ternyata bisa tinggal cukup lama di ingatan kita. Salah satunya yang paling kuingat adalah cerita tentang jeruk gelga yang bergelantungan di Tanjung Sakti.

Waktu itu, ada pesan masuk. Menanyakan kabar, lalu bercerita bahwa ada banyak jeruk gelga bergelantungan di sana. Sesederhana itu. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada pembahasan penting. Hanya sebuah cerita kecil dari tempat yang jauh.

Tapi aku mengingatnya sampai sekarang. Mungkin karena aku tahu dia ingat bahwa aku menyukai jeruk gelga. Di tengah perjalanan dan kesibukannya, ada sesuatu yang dilihatnya, lalu ingin dibagikan kepadaku.

Rasanya menyenangkan ketika seseorang mengingat hal kecil tentang kita. Seolah-olah, tanpa perlu mengatakan apa-apa, kita tahu bahwa sesekali nama kita melintas di pikirannya. Tapi ada bagian lain dari cerita itu yang tidak bisa kuabaikan. Sebelum pesan tersebut datang, ada sekitar sepuluh hari ketika pesanku tidak berbalas.

Bayangkan, bagaimana rasanya menerima sesuatu yang begitu hangat dari seseorang yang kehadirannya juga pernah membuat kita menunggu? Aku senang dia mengingatku. Aku juga sedih karena merindukan percakapan yang lebih sering. Dua perasaan itu ternyata bisa tinggal bersamaan.

Itu cerita di bulan Mei lalu, sekarang bulan November. Enam bulan berlalu, ternyata yang kurindukan bukan selalu percakapan romantis atau kata-kata manis (Jeruk Gelga dan Seni Membiarkan) . Aku ingin mendengar ceritanya. Tentang pekerjaannya yang sedang banyak. Tentang perjalanan yang dia tempuh. Tentang kebun, tanaman, atau sesuatu yang tidak sengaja menarik perhatiannya hari itu. Aku ingin tahu apa yang sedang dia pikirkan, apa yang membuatnya tertawa, mungkin juga apa yang membuatnya lelah. Bukan karena aku ingin mengawasi kesehariannya. Aku hanya ingin mengenal dunianya sedikit lebih dekat.

Ketika bertemu, kami bisa bercerita. Ada waktu untuk mendengar dan didengar. Tapi ketika tidak bertemu, komunikasi menjadi jembatan yang menghubungkan dua kehidupan yang sedang berjalan masing-masing. Dan aku merindukan jembatan itu.

Kadang aku punya banyak cerita untuk disampaikan. Tapi  kalu saja boleh memilih, kalau saja boleh memilih, mungkin aku ingin mendengarkan dia lebih dulu. Aku ingin dia bercerita tanpa harus selalu ditanya. Ingin sesekali menerima pesan yang datang karena dia memang ingin berbagi, bukan karena ada sesuatu yang perlu diselesaikan.

Mungkin hanya foto, cerita singkat, atau kalimat sederhana seperti, "Dek, hari ini abang..." Entah kenapa, hal-hal kecil seperti itu terasa berarti.

Aku tahu setiap orang punya kesibukan dan tanggung jawabnya sendiri. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada urusan yang tidak selalu bisa ditinggalkan hanya untuk membalas pesan. Aku sedang belajar menghormati ruang itu. Tapi aku juga sedang belajar bahwa menghormati kesibukan seseorang tidak berarti harus menghilangkan kebutuhan diri sendiri.

Aku boleh memahami kalau dia sedang sibuk, sekaligus mengakui bahwa aku merindukan komunikasi. Aku boleh memberinya waktu, tanpa harus berpura-pura bahwa menunggu tanpa kabar selalu terasa baik-baik saja.

Dulu, mungkin aku ingin segera mendapatkan kepastian setiap kali komunikasi terasa sepi. Sekarang aku ingin belajar sedikit lebih tenang. Tidak buru-buru membuat kesimpulan, tidak mengarang cerita tentang apa yang sedang terjadi, dan tidak terus-menerus mengetuk pintu yang belum dibuka. Aku juga ingin melihat apakah ada keinginan yang datang dari arah seberang. Karena mungkin hubungan bukan hanya tentang kemampuan satu orang untuk memahami kesibukan orang lain. Ada ruang yang perlu dijaga bersama. Ada inisiatif yang bisa datang dari dua arah.

Aku teringat tulisan yang pernah kubuat berjudul Jeruk Gelga dan Seni Membiarkan. Saat itu aku menulis dengan sangat tegas tentang berhenti menjadi ruang tunggu. Tentang tidak lagi menggantungkan harapan pada perhatian kecil. Hari ini, aku membaca kembali tulisan itu dengan perasaan yang sedikit berbeda. Ternyata membiarkan bukan berarti tidak boleh rindu. Berhenti mengejar bukan berarti harus berhenti menyayangi. Menjaga batas bukan berarti harus menjadi seseorang yang dingin dan tidak tersentuh oleh hal-hal sederhana.

Aku masih bisa tersenyum ketika mengingat cerita jeruk gelga itu. Masih bisa berharap suatu hari ada cerita-cerita kecil lainnya. Tapi aku tidak ingin menjadikan satu pesan sebagai ukuran dari seluruh masa depan.

Biarlah seseorang menunjukkan keinginannya melalui tindakan yang nyata. Sementara aku tetap menjalani hidupku, merawat mimpi-mimpiku, dan belajar menjadi rumah yang nyaman bagi diriku sendiri. Aku tidak tahu kapan percakapan itu akan kembali ramai. Aku juga tidak ingin memaksakan jawabannya hari ini. Untuk sementara, aku hanya ingin mengakui satu hal. Aku kangen mendengarkan ceritanya. Dan ternyata, tidak apa-apa mengakui itu.

Selasa, 03 November 2026

Dear Sayang, Aku Sedang Belajar


Aku kepikiran satu hal yang terus menyangkut di kepalaku. Tentang ternyata mencintai seseorang juga berarti belajar memahami bagaimana diriku sendiri ketika sedang mencintai.

Aku sedang menonton sebuah video percakapan Lila Rose dengan Allison Armstrong. Judulnya cukup menarik perhatian: The Biggest Mistakes Women Make With Men (That Pushes Them Away). Awalnya aku kira akan menemukan daftar kesalahan perempuan dalam hubungan. Semacam hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan agar laki-laki tidak menjauh.

Ternyata salah ya, ada beberapa bagian yang membuatku berhenti sebentar. Tentang kebiasaan menguji pasangan, terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, mengkritik, membandingkan, sampai menahan perhatian ketika sedang marah. Aku jadi ngat diriku sendiri. Jangan-jangan, dalam beberapa situasi, aku juga melakukan hal-hal itu?

Aku pernah berada di situasi ketika seseorang membaca pesanku, tetapi tidak segera membalas. Sebenarnya aku tahu, setiap orang punya kesibukan. Ada pekerjaan, tanggung jawab, perjalanan, dan kehidupan yang tidak selalu bisa berhenti hanya untuk membalas pesan. Aku tahu itu. Tapi mengetahui sesuatu secara logika ternyata tidak selalu membuat perasaan ikut tenang.

Ada kalanya aku mulai bertanya-tanya. Sedang apa, ya? Kenapa belum membalas? Apakah dia ingat kalau ada seseorang yang sedang menunggunya?

Lalu pesan berikutnya terkirim. Kadang disusul pertanyaan lain. Kalau sudah terlalu lama, mungkin ada sedikit kemarahan atau sindiran. Kalau dipikir-pikir, mungkin aku sedang mencari kepastian melalui cara yang kurang tepat.

Aku ingin merasa diingat, tetapi terkadang menyampaikannya melalui kemarahan. Aku ingin merasa dilibatkan, tetapi kadang berharap dia menyadarinya sendiri tanpa harus aku jelaskan. Seolah-olah kalau dia benar-benar peduli, dia seharusnya tahu apa yang sedang kubutuhkan. Padahal, orang lain tidak selalu bisa membaca isi kepala kita.

Aku sedang belajar membedakan antara meminta dan menguji. Keduanya mungkin terlihat mirip, tetapi rasanya berbeda. Meminta berarti aku berani mengatakan apa yang kubutuhkan. Menguji berarti aku menciptakan situasi tertentu untuk melihat apakah seseorang akan melakukan sesuatu sesuai harapanku. Dan mungkin, selama ini aku pernah melakukan keduanya.

Aku juga sedang belajar untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan alasan di balik perilaku seseorang. Seseorang diam, bukan berarti pasti sedang marah. Seseorang tidak banyak bercerita, bukan berarti pasti tidak percaya. Seseorang tidak segera membalas pesan, bukan berarti pasti tidak peduli. Aku ingin belajar bertanya sebelum membuat kesimpulan.

Tapi ada satu hal yang juga sedang kupahami, kalau tidak semua perasaan harus dibatalkan hanya karena mungkin ada penjelasan lain di balik perilaku seseorang.

Kalau aku sedih karena tidak mendapat kabar, ya aku memang sedang sedih. Kalau aku merasa kesepian, aku tidak harus buru-buru meyakinkan diri bahwa aku tidak boleh merasa begitu karena dia mungkin sedang sibuk. Aku boleh memahami kesibukannya sekaligus mengakui bahwa aku juga punya kebutuhan.

Mungkin kedewasaan bukan tentang menjadi seseorang yang tidak mudah merasa apa-apa. Melainkan belajar mengenali perasaan, memahami asalnya, lalu memilih bagaimana menyampaikannya.

Ada bagian lain yang cukup menggangguku, dalam arti membuatku berpikir lebih lama. Tentang kritik dan apresiasi. Aku kadang terlalu sibuk memperhatikan sesuatu yang belum dilakukan seseorang sampai lupa melihat hal-hal kecil yang sebenarnya sudah dia lakukan.

Ada orang yang mungkin tidak pandai mengungkapkan perasaan melalui kata-kata, tetapi mengingat hal-hal kecil tentang kita. Ada yang tidak banyak bercerita melalui pesan, tetapi ketika bertemu mau mendengarkan. Ada yang menunjukkan perhatian melalui tindakan sederhana. Apakah aku sudah cukup memperhatikan itu?

Aku tidak ingin menjadi seseorang yang hanya melihat kekurangan orang lain. Aku ingin belajar mengucapkan terima kasih. Menghargai usaha. Tidak membandingkan hubungan sendiri dengan hubungan orang lain. Tapi aku juga tidak ingin apresiasi berubah menjadi alasan untuk mendiamkan kebutuhan yang belum terpenuhi. Karena ya menurutu, mengakui kebaikan seseorang tidak berarti semua hal dalam hubungan sudah baik-baik saja. Dua hal itu ternyata bisa hidup berdampingan.

Aku bisa berterima kasih atas perhatian yang sudah diberikan, sekaligus berharap ada bentuk perhatian lain yang ingin kami pelajari bersama.

Btw, aku juga membaca The Art of Loving karya Erich Fromm. Ada empat unsur cinta yang terus teringat olehku. Tentang care, responsibility, respect, dan knowledge. Care, tentang kepedulian yang aktif. Responsibility, tentang kesediaan merespons kebutuhan orang lain. Respect, tentang menghargai seseorang tanpa berusaha menguasai atau mengubahnya menjadi seperti yang kita inginkan. Knowledge, tentang kesediaan mengenal seseorang lebih dalam.

Aku mulai perlahan untuk sadarar bahwa selama ini aku tidak hanya ingin ditemani. Aku ingin mengenal seseorang. Aku ingin tahu ketika dia sedang lelah. Apa yang membuatnya khawatir. Hal apa yang sedang dipikirkannya. Apa yang membuatnya bahagia, bahkan apa yang mungkin belum selesai dari masa lalunya. Aku ingin mendengarkan ceritanya tanpa harus selalu menjadi orang yang paling banyak bercerita. Aku ingin menjadi tempat yang aman untuk seseorang pulang dan berbagi cerita. Tapi kemudian aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku juga sudah memberikan ruang yang cukup aman untuk itu?

Apakah ketika dia bercerita, aku benar-benar mendengarkan? Atau diam-diam aku sedang menunggu giliran untuk menyampaikan sesuatu? Apakah aku bisa menerima bahwa cara seseorang mengekspresikan perasaan mungkin berbeda denganku? Aku belum selalu tahu jawabannya. Dan sepertinya memang masih banyak yang harus kupelajari.

Satu hal yang ingin kuingat adalah bahwa belajar mencintai bukan berarti belajar menjadi perempuan yang selalu menyenangkan. Aku tetap boleh meminta kabar. Boleh ingin dipeluk. Boleh ingin ditemani. Boleh mengatakan bahwa ada sesuatu yang membuatku sedih. Aku juga boleh memiliki batas. 

Selama ini aku sering merasa harus bisa mengurus semuanya sendiri. Menyelesaikan pekerjaan, mengatur perjalanan, memikirkan masa depan, membangun mimpi, dan memastikan hidup tetap berjalan. Ternyata, di dalam hubungan aku juga ingin sesekali menjadi seseorang yang boleh manja. Yang tidak harus selalu kuat. Yang bisa mengatakan, "Aku sedang tidak baik-baik saja. Temani aku sebentar, ya." Mungkin itu bukan tanda bahwa aku kehilangan kemandirian. Aku hanya sedang belajar menerima bahwa menjadi mandiri dan ingin dirawat bukan dua hal yang saling bertentangan.

Dan aku tidak ingin terlalu sibuk mempelajari cara memperlakukan seseorang dengan baik sampai lupa bertanya apakah aku juga sedang diperlakukan dengan baik.

Hubungan bukan pekerjaan satu orang. Aku bisa belajar menyampaikan kebutuhan tanpa menyerang. Dia juga bisa belajar mendengarkan tanpa merasa selalu disalahkan. Aku bisa belajar memberi ruang. Dia juga bisa belajar memberikan kabar. Aku bisa belajar memahami caranya mencintai. Dia pun perlu bersedia mengenal cara aku merasa dicintai.

Aku tidak tahu seberapa cepat dua orang bisa mempelajari semua itu. Mungkin ada hari ketika kami berhasil saling memahami, ada hari ketika percakapan sederhana kembali menjadi rumit.

Mungkin akan ada salah paham lagi. Mungkin aku masih akan menangis untuk hal-hal yang menurut orang lain sederhana. Aku belum selesai.

Untuk sekarang, aku hanya ingin belajar satu hal: mencintai dengan lebih sadar. Tidak menjadikan ketakutanku sebagai alat untuk menguji seseorang. Tidak menjadikan kemarahanku sebagai satu-satunya cara agar kebutuhanku didengar. Tidak pula memaksa diriku menjadi seseorang yang tidak punya kebutuhan.

Aku ingin bisa melihat orang yang kucintai sebagai manusia yang juga punya keterbatasan, ketakutan, dan kehidupan sendiri. Dan aku ingin mengingat bahwa diriku juga manusia yang layak dipahami.

Barangkali mencintai memang bukan tentang menemukan seseorang yang selalu tahu bagaimana memperlakukan kita. Bisa jadi, ini tentang dua orang yang sama-sama bersedia belajar, saling memberi tahu, saling mendengarkan, dan memperbaiki hal-hal yang belum mereka pahami.

Aku sedang belajar menjadi pasangan yang lebih baik. Bukan karena aku ingin seseorang bertahan dengan segala cara. Aku hanya ingin, ketika mencintai seseorang, aku tidak kehilangan diriku sendiri dalam prosesnya. Dan semoga, orang yang berjalan bersamaku juga sedang belajar hal yang sama. Masih belajar. Masih sering salah. Belum selesai.

Aku sedang belajar mencintai

Aku Sedang Belajar Mencintai, Aku Juga Perlu Mengenal Diriku Sendiri



Aku sedang di waktu banyak memikirkan hubungan dan cara manusia mencintai. Apalagi setelah menyelesaikan studiku. Awalnya sederhana. Aku hanya ingin lebih mengenal seseorang yang aku sayangi. Ingin tahu bagaimana harinya, apa yang sedang dia pikirkan, apa yang membuatnya lelah, apa yang membuatnya bahagia. Bahkan hal-hal yang mungkin tidak pernah dia ceritakan kepada orang lain. Aku ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.

Kalau dia sedang capek, aku ingin dia bisa bilang capek. Kalau sedang sedih, aku ingin dia tahu bahwa tidak apa-apa untuk bercerita. Kalau ada sesuatu yang membebani pikirannya, aku ingin menjadi salah satu orang yang bisa dia datangi. Aku tidak selalu ingin memberikan solusi. Kadang aku hanya ingin mendengarkan. Dan ternyata, keinginan untuk mengenal seseorang tidak selalu berjalan semudah itu. Ada orang yang mudah bercerita tentang pekerjaan, aktivitas, rencana, dan banyak hal dalam hidupnya, tetapi tidak terlalu terbiasa membicarakan perasaan. Ada juga yang lebih nyaman mendengarkan daripada bercerita. Lalu, aku jadi mulai bertanya-tanya, apakah selama ini aku sudah benar-benar mengenal orang yang aku sayangi? Atau aku baru mengenal bagian-bagian kehidupannya yang terlihat dari luar?

Pertanyaan-pertanyaan itu seperti membawaku lagi pada sebuah buku karya Erich Fromm, The Art of Loving. Fromm menuliskan gagasan yang cukup menarik buatku, bahwa cinta bukan sekadar perasaan yang datang begitu saja. Cinta adalah seni. Sesuatu yang perlu dipelajari, dilatih, dan dipraktikkan. Aku mulai melihat bahwa mencintai seseorang ternyata bukan hanya tentang seberapa besar perasaan yang kita miliki. Ada kemampuan untuk peduli, bertanggung jawab, menghormati, dan mengenal orang yang kita cintai. Empat hal ini membuatku berhenti sejenak, menarik nafas panjang dan mulai berfikir lagi...

1. Care (Aku ingin peduli pada kehidupanmu)

Aku beberapa kali mencoba bertanya bertanya, "Sayang, capek?" sebenarnya aku sedang membuka ruang. Sejujurnya, aku tidak sedang mengharapkan jawaban bahwa semuanya baik-baik saja. Kalau memang capek, bilang saja. Kalau sedang banyak pikiran, cerita saja. Kalau hari ini terasa berat, tidak perlu selalu terlihat kuat. Aku ingin mengenal manusia di balik semua kesibukannya.

Ini catatan penting dari Fromm, aku belajar bahwa kepedulian bukan hanya tentang menyukai keberadaan seseorang, tetapi juga memiliki perhatian terhadap kehidupan dan pertumbuhannya. Tapi aku juga belajar bahwa kepedulian tidak boleh berhenti sebagai niat baik. Perlu terlihat dalam tindakan. Aku ingin mendengarkan, dan aku juga ingin didengarkan. Aku ingin mengetahui kabarmu, dan aku juga ingin sesekali kamu mengingat bahwa ada seseorang yang menunggu kabarmu. Mungkin sesederhana itu bentuk perhatian yang sedang aku pelajari.

2. Responsibility (Aku ingin kita sama-sama bersedia merespons)

Aku ingin cerita  satu pengalaman yang cukup sering kupikirkan. Aku pernah merasa sedih ketika pesan-pesan panjangku hanya dibaca tanpa ada balasan. Aku ingin sesekali mendapat kabar ketika dia sedang sibuk atau tidak bisa dihubungi. Bukan karena aku ingin mengawasi kegiatannya. Aku hanya ingin mendapat sedikit informasi agar tidak terus menebak-nebak. Aku sudah mencoba menyampaikan kebutuhan itu. Kadang dengan baik, kadang juga dengan emosi. Aku masih belajar (Ternyata Aku Belum Selesai Merasa

Refleksiku ini, seperti mengajarkanku kalau aku memahami bahwa tanggung jawab dalam cinta bukan berarti seseorang harus selalu memenuhi semua keinginan pasangannya. Lebih dari itu, ada kesediaan untuk merespons kebutuhan orang yang kita cintai. Mungkin kita tidak selalu bisa hadir pada waktu yang sama. Kita punya pekerjaan, urusan, dan kehidupan masing-masing. Tetapi bukankah kita bisa belajar memberi tahu? Aku juga perlu belajar bahwa menyampaikan kebutuhan bukan berarti memaksa. Orang lain tetap punya kebebasan untuk merespons, bernegosiasi, atau mengatakan bahwa saat ini mereka belum bisa. Namun, aku pun punya kebebasan untuk mengakui apa yang aku butuhkan.

3. Respect (Aku ingin mengenalmu tanpa harus mengubahmu)

Aku pernah berpikir bahwa kalau aku cukup sabar, cukup memahami, dan menemukan cara komunikasi yang tepat, mungkin seseorang akan menjadi lebih terbuka. Eee, akhir-akhir ini aku baru saja mulai sadar bahwa setiap orang punya cara dan waktunya sendiri untuk bercerita. Aku bisa mengundang seseorang untuk terbuka, tetapi tidak bisa memaksanya. Aku bisa ingin mengenal masa lalunya, termasuk pengalaman cukup pahitnya, tetapi dia tetap berhak menentukan bagian mana yang ingin diceritakan dan kapan dia siap membagikannya.

Menghormati seseorang berarti membiarkannya menjadi dirinya sendiri. Tetapi aku juga perlu ingat bahwa menghormati perbedaan bukan berarti mengabaikan kebutuhanku sendiri. Aku boleh menerima bahwa seseorang tidak banyak bicara tentang perasaan, sekaligus mengakui bahwa percakapan emosional merupakan bagian penting dari kedekatan yang aku inginkan. Kami tidak harus menjadi orang yang sama untuk bisa saling mencintai. Kami hanya perlu bersedia belajar menemukan ruang bersama.

4. Knowledge (Aku ingin mengenalmu lebih dari sekedar mengetahui tentangmu)

Ini mungkin bagian yang paling dekat dengan pengalaman pribadiku. Aku tahu beberapa kebiasaannya. Aku tahu hal-hal yang sedang dia kerjakan. Aku tahu cerita tentang kebun vanilinya, pekerjaannya, dan aktivitas sehari-harinya. Dia juga mengenal kebiasaanku. Katanya aku mudah menangis, pelupa, dan punya banyak cerita. Hehehe. Tetapi aku mulai sadar kalau mengetahui kebiasaan seseorang tidak selalu sama dengan mengenal dunia batinnya.

Aku ingin tahu bagaimana dia memaknai pengalaman hidupnya. Apa yang membuatnya takut. Apa yang membuatnya bangga. Apa yang pernah membuatnya kecewa. Bagaimana dia menghadapi kesedihan dan perubahan. Aku juga ingin dia mengenal hal-hal yang mungkin tidak langsung terlihat dariku. Apa yang membuatku merasa aman? Mengapa aku terkadang takut ditinggalkan? Mengapa kabar sederhana bisa membuatku merasa dilibatkan? Mengapa aku terkadang menangis ketika sebenarnya hanya ingin didengarkan? Aku ingin kita tidak hanya bertukar cerita tentang apa yang terjadi hari ini, tetapi perlahan-lahan mengenal bagaimana masing-masing dari kita mengalami kehidupan. Karena mungkin aku merasa dengan hal itu kedekatan tumbuh. Ketika dua orang tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga bersedia mengenal dunia satu sama lain.

Aku juga sedang belajar mencintai diriku sendri

Ada satu hal yang cukup mengejutkanku selama memikirkan semua ini. Awalnya aku sibuk bertanya bagaimana caranya agar bisa lebih memahami seseorang. Lama-lama aku malah menemukan banyak hal tentang diriku sendiri. Aku jadi sadar kalau aku sering takut merepotkan. Aku bisa mengurus diriku sendiri, tetapi tetap ingin ditemani. Aku bisa mandiri, tetapi sesekali ingin diperhatikan. Aku bisa memahami kesibukan orang lain, tetapi tetap merasa sedih ketika tidak mendapat kabar.

Dulu aku jarang meminta sesuatu. Sekarang aku sedang belajar menyampaikan apa yang aku butuhkan.Ternyata belajar meminta juga tidak selalu mudah. Bahkan setelah berhasil mengatakannya, masih ada kemungkinan kecewa ketika sesuatu yang kita harapkan belum terpenuhi.

Aku memikirkan kalimat dari Erich Fromm ini, kalau mencintai orang lain dan mencintai diri sendiri bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Aku boleh sayang seseorang tanpa harus meninggalkan diriku sendiri. Aku boleh memahami keterbatasannya tanpa menyangkal perasaanku. Aku boleh berusaha menjadi tempat yang aman bagi seseorang, tetapi aku juga membutuhkan tempat yang aman untuk diriku sendiri. Aku tidak harus selalu menjadi orang yang paling mengerti.


Kita sama-sama sedang belajar

Pagi ini aku mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang yang aku sayangi. Aku bilang bahwa aku mungkin belum berpengalaman dalam hubungan. Aku ingin belajar, dan berharap kami bisa saling membimbing. Aku bilang bahwa aku tidak membutuhkan hubungan yang sempurna. Aku ingin hubungan yang di dalamnya dua orang sama-sama bersedia mengenal, memahami, dan bertumbuh. Aku ingin kami sama-sama saling merawat. Setelah mengirim pesan itu, aku merasa lega. Aku lega bukan karena aku sudah mendapatkan jawaban atau karena semuanya tiba-tiba berubah. Aku hanya merasa sudah menyampaikan sesuatu yang memang ingin aku sampaikan.

Mungkin itu juga bagian dari belajar mencintai. Tentang berani mengungkapkan isi hati, tanpa menjadikan respons orang lain sebagai satu-satunya ukuran nilai diri kita. Aku tidak tahu bagaimana perjalanan hubungan ini nantinya. Aku juga tidak ingin berpura-pura sudah memahami semuanya. Aku masih belajar. Masih bisa salah bicara, masih bisa marah, masih bisa kecewa, dan masih punya banyak hal yang perlu kupahami.

Tetapi sekarang aku punya satu pertanyaan yang ingin terus kubawa tentang "Apakah kami sedang sama-sama belajar mencintai, atau selama ini aku hanya sibuk belajar bagaimana mencintainya?" Hehehe. Aku sejujurnya aku tidak ingin hanya menjadi seseorang yang pandai memahami orang lain. Aku juga ingin dikenal, didengarkan, dan dipahami. Aku ingin mencintai tanpa kehilangan diriku sendiri. Mungkin, aku ingin belajar salah satu seni mencintai yang sedang ku baca ini. Tentang merawat kehidupan orang yang aku sayangi, tanpa berhenti merawat kehidupanku sendiri.

Dear BJ Sayang Act of Services

Aku ingin mengenalmu, bukan hanya mengetahui tentangmu. Aku ingin tahu bagaimana harimu berjalan, apa yang membuatmu tertawa, apa yang membuatmu lelah, dan hal-hal yang mungkin sulit kamu ceritakan. Aku ingin menjadi tempatmu bercerita. Tapi aku juga ingin punya tempat untuk bercerita.

Aku bisa hidup dan mengurus diriku sendiri. Aku sedang belajar meminta, menerima, dan mengungkapkan kebutuhan tanpa merasa menjadi beban.

Aku tidak membutuhkan hubungan yang sempurna. Aku ingin hubungan yang di dalamnya dua orang sama-sama bersedia mengenal, memahami, dan bertumbuh. Aku ingin mencintaimu tanpa kehilangan kesempatan untuk tetap mengenal diriku sendiri.

Ternyata Aku Belum Selesai Merasa



Catatan kecil tentang kangen, kecewa, dan belajar mengenali diri sendiri.

Sejak hampir satu tahun ini, di mulai awal 2026, aku sedang belajar memahami diriku sendiri. Ternyata ada banyak hal yang selama ini aku rasakan, tetapi belum benar-benar aku sadari. Contohnya sederhana. Aku suka mengirim pesan kepada seseorang yang aku sayangi. Kalau ada hal lucu, aku ingin cerita. Kalau ada sesuatu yang menyebalkan, aku ingin mengadu. Kalau sedang sedih, rasanya ingin mencari dia. Bahkan ketika melihat sesuatu yang menggemaskan, ada dorongan spontan untuk membagikannya. Aku memang suka berbagi cerita. Bukan berarti aku ingin mengobrol sepanjang hari. Aku juga kadang malas kalau harus chat terus-menerus. Aku pun tidak terlalu menyukai laki-laki yang banyak bicara. Tapi aku suka kalau diberi kabar. Sesederhana, "Abang lagi di jalan, nanti ya." Atau, "Lagi ada urusan, nanti kita ngobrol."

Aku tidak harus tahu semua kegiatannya. Aku hanya ingin punya sedikit petunjuk tentang keberadaannya. Karena menurutku, ada perasaan menyenangkan ketika mengetahui bahwa seseorang mengingat kita bahkan saat sedang menjalani kesibukannya sendiri. Masalahnya, ketika pesan-pesanku hanya dibaca tanpa balasan dan tanpa penjelasan, aku bisa sedih sekali.

Awalnya aku menyapa dengan ceria. Menggoda, bertanya, mengirim cerita. Lama-lama berubah menjadi kesal. Aku mulai meminta kabar, mengatakan bahwa aku sedih, bahkan mempertanyakan sesibuk apa seseorang sampai tidak sempat mengetik satu kalimat. Wkwkwk. Kalau dibaca ulang, ternyata aku bisa semarah itu.

Aku juga manusia. Aku tidak selalu berhasil menyampaikan kebutuhan dengan tenang. Ada kalanya aku menyindir, menyerang, atau mengirim pesan lebih banyak daripada yang sebenarnya ingin kukirim. Aku sedang belajar menerima bahwa menjadi seseorang yang sadar diri bukan berarti harus selalu bisa mengendalikan setiap respons dengan sempurna.

Aku tetap punya emosi. Aku bisa kecewa. Aku bisa marah. Aku bisa salah memilih kata. Yang bisa kulakukan adalah belajar memahami apa yang terjadi di balik reaksiku, lalu bertanggung jawab atas cara aku menyampaikannya.

Ada satu hal yang baru kusadari setelah membicarakan pengalaman ini. Ternyata yang paling aku inginkan bukan sekadar dia lebih sering menghubungiku. Aku ingin dia secara spontan mengingat bahwa ada seseorang yang sedang menunggunya dan ingin dilibatkan dalam kehidupannya. Aku ingin diingat tanpa harus selalu mengingatkan. Dan ternyata, ada pengalaman lain yang lebih lucu lagi. Ketika dia diam cukup lama, aku bisa merasa sedih sekali. Aku menunggu, bertanya-tanya, mencoba memahami apa yang terjadi. Tetapi ketika dia akhirnya kembali menghubungiku, dia biasanya bersikap seperti biasa. Tidak banyak menjelaskan. Tidak membahas mengapa sebelumnya menghilang. Lalu aku pun kembali ngobrol seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Lho? 

Aku sempat bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku memang sudah tidak sedih, atau aku hanya merasa lega karena akhirnya bisa terhubung lagi dengannya? Jangan-jangan rasa kangennya lebih dulu mengambil alih daripada rasa kecewanya. Aku senang dia kembali, lalu lupa bahwa beberapa jam sebelumnya aku sedang sedih sekali. Dan yang lebih lucu lagi, aku bahkan belum menyadari itu sebelum diajak mengobrol dan mengurai pengalaman sendiri.

Ternyata mengenali diri sendiri memang tidak selalu datang dalam bentuk kesadaran besar. Kadang datang dari percakapan kecil, pertanyaan sederhana, atau membaca ulang pesan WhatsApp yang kemarin terasa biasa saja. Aku sedang belajar membedakan fakta, perasaan, kebutuhan, dan reaksiku. Aku juga sedang belajar bahwa memahami seseorang tidak berarti harus selalu memaklumi semua perilakunya. Aku boleh memahami bahwa seseorang punya cara komunikasi berbeda, sambil tetap mengakui bahwa ada perilaku yang membuatku sedih.

Aku tidak ingin memaksa seseorang menjadi orang lain. Aku juga tidak ingin terus memaksa diriku sendiri untuk tidak membutuhkan apa-apa. Mungkin aku memang perlu belajar menyampaikan kebutuhan dengan lebih baik. Tapi aku juga ingin belajar bahwa hubungan bukan pekerjaan satu orang. Ada dua orang yang perlu sama-sama belajar mendengar, memahami, dan memperbaiki koneksi ketika terjadi jarak.

Untuk sekarang, aku belum punya semua jawabannya. 

Aku masih belajar mengenali kapan aku benar-benar sudah baik-baik saja, kapan aku hanya sedang merasa lega, dan kapan ada perasaan yang belum sempat kusadari. Wkwkwk. Ternyata mengenali diri sendiri bisa sepanjang ini perjalanannya. Tapi tidak apa-apa. Aku tidak harus menjadi perempuan yang selalu tenang, selalu mengerti, dan selalu tahu apa yang sedang dirasakannya. Aku hanya ingin menjadi perempuan yang semakin mengenal dirinya sendiri. Termasuk ketika ternyata dirinya sendiri pun masih sering membuat kejutan. Ternyata aku belum selesai belajar menjadi diriku sendiri.

Minggu, 01 November 2026

Menetap di Angka 29

Belajar Berdamai dengan Luka, Melepas Kontrol, dan Memeluk Diri Apa Adanya

​Hari ini, 2 November 2026, usiaku bergeser ke angka 29. Angka yang seringkali mendatangkan bisik-bisik paling gaduh di kepala, tentang seberapa jauh kaki melangkah, tentang potensi besar yang kadang terasa macet di tengah jalan, tentang arah karier dan hidup yang masih sering bikin bingung sendiri, hingga tentang standar-standar sosial yang sering sekali terasa menuntut perempuan untuk hidup dalam cetakan yang rapi.

​Aku akhir-akhir ini merasa hidup seperti laboratorium batin yang sibuk. Ada tawa kecil saat merayakan hal-hal sederhana, ada hari-hari di mana kepala penuh sesak oleh overthinking, ada cemburu yang datang tiba-tiba untuk pertama kalinya, dan ada fase-fase di mana aku harus belajar menelan mentah-mentah kenyataan bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dikontrol atau digenggam erat-erat.

​Kita sering menghabiskan separuh umur untuk berusaha tampil sempurna, menunjukkan versi terbaik di depan orang lain, dan menyembunyikan lelah di balik senyum paling aman. Padahal, manusia butuh untuk sesekali merasa rapuh, butuh bingung, dan butuh izin untuk tidak baik-baik saja.

​Aku sejujurnya takur, memasuki tahun ke-29 ini, aku berkali-kali diberikan hikmah bahwa pelajaran terbesar bukan tentang bagaimana aku menjadi yang paling benar atau yang paling kuat, tapi tentang pengampunan dan penerimaan diri. Mengampuni Masa Lalu dan Keputusan-Keputusan yang Pernah Diambil. Kadang, ada bagian dari diri kita yang masih sering menghukum masa lalu, menyesali jalan yang dipilih, merajut tanya "bagaimana kalau dulu...", atau merasa tidak layak dicintai secara utuh karena luka-luka yang tersisa. Hari ini, aku belajar memeluk diri sendiri dan berkata "Kamu sudah berjuang sekuat tenaga dengan kapasitas yang kamu miliki pada masa itu. Tidak ada yang perlu disesali secara berlebihan; semuanya adalah pecahan cermin yang mengajarkan arti kedewasaan."

Aku dalam usia ini sejujurnya sedang belajar mencintai orang lain, merintis usaha seperti Skycoco, belajar di dunia akademik, dan menjalani dinamika hubungan yang menantang. Proses ini mengajarkanku tentang kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain harus memperlakukan kita setiap detik. Yang bisa terus kita pelajari untuk dikuasai hanya diri kita sendiri. Belajar pasrah meskipun awalnya terasa tidak rela ternyata adalah gerbang menuju kelegaan batin. Ini berat, praktik melepaskan genggaman tangan yang terlalu kuat pada ekspektasi, dan membiarkan hidup mengalir dalam kedaulatan rasa syukur.

Hari ini aku menjadi perempuan di ambang kepala tiga dengan segudang mimpi (termasuk angan untuk terus sekolah lagi dan menimba ilmu), kadang rasanya melelahkan. Ada kalanya rasa cemas datang menyergap, merasa tertinggal atau bingung menentukan langkah berikutnya. Tapi hari ini aku mulai sadar lagi, hidup bukanlah perlombaan lari cepat. Potensi itu ada, bakat itu nyata, dan waktunya akan tiba pada musim yang tepat.

​Terima kasih untuk diriku sendiri yang sudah bertahan hingga detik ini. Terima kasih karena masih mau belajar, masih mau merasa, dan masih berani jujur pada rapuhnya hati. Untuk usia 29 tahun ini, mari berjalan dengan lebih pelan, lebih sadar, dan jauh lebih baik pada diri sendiri. Tidak apa-apa jika belum semuanya terjawab hari ini. Yang penting, napas ini masih ada, dan hati ini masih memilih untuk terus bertumbuh.
​Selamat bertambah usia untuk diriku. Peluk hangat dari sudut paling jujur di hati. 

Kamis, 29 Oktober 2026

Siapa yang Mendapat Kursi Paling Nyaman?



Ada hal-hal kecil dalam perjalanan yang kadang membuat kita mengenali seseorang lebih jauh. Bukan dari jabatan, gelar,atau seberapa banyak kata yang disampaikan. Kadang cukup dari cara seseorang memilih tempat duduk.

Dalam sebuah perjalanan kegiatan antah beratah project prioritas nasional, kami sempat membicarakan pengaturan tempat duduk dan barang bawaan karena akan ada tambahan teman kami. Situasinya cukup sederhana yaitu jumlah penumpang, koper, ruang bagasi, dan siapa yang akan duduk di mana. Dinamika terasa kompleks ketika berbicara tempat duduk tapi tidak ada yang menguasai susunananya, akhirnya aku mengusulkan untuk melihat kondisi kenyamanan setelah masuk 13 orang penumpang dan muatan barang. Aku cukup berbesar hati untuk tidak memaksakan mengajak adek satu orang itu. 

Keesokan harinya, ternyata adik satu itu tidak muat dan sudah ikut travel lainnya. Satu masalah itu clear. Walau sebelum berangkat kami ada ngobrol dan di tengah percakapan itu, aku sempat berkomentar kepada seorang teman perempuan. Selama mengikuti berbagai kegiatan, terutama di lingkungan NGO, aku cukup terbiasa bertemu laki-laki yang mengusahakan agar perempuan mendapatkan tempat duduk lebih dahulu. Bahkan, dalam beberapa situasi, laki-laki justru memilih duduk belakangan. Bukan aturan tertulis. Tidak ada yang mengharuskan demikian. Rasanya lebih seperti kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran untuk memperhatikan orang lain.

Karena itu, ketika menemukan situasi yang berbeda, aku baru sadar bahwa ada nilai-nilai kecil yang selama ini diam-diam menjadi bagian dari ekspektasiku dalam berinteraksi. Aku jadi berpikir, barangkali cara seseorang memperlakukan orang lain memang tidak selalu terlihat dari hal-hal besar.

Kita bisa berbicara panjang tentang kesetaraan, kolaborasi, inklusivitas, dan kepemimpinan. Kita bisa hadir dalam forum multipihak, menyusun kesepakatan, atau membicarakan bagaimana setiap orang perlu mendapatkan ruang yang setara.Tapi, bagaimana nilai-nilai itu hadir dalam keseharian. Ketika ruang terbatas, apakah kita hanya memikirkan kenyamanan sendiri?

Ketika ada orang yang membutuhkan bantuan, apakah kita bersedia sedikit menyesuaikan diri? Ketika harus menentukan siapa yang mendapatkan kesempatan lebih dahulu, apakah kita masih bisa melihat kebutuhan orang lain?

Aku tidak sedang mengatakan bahwa perempuan harus selalu didahulukan atau laki-laki harus selalu mengalah. Bagiku, persoalannya bukan hanya semata-mata tentang siapa yang duduk di depan dan siapa yang duduk di belakang.

Ada sesuatu yang lebih mendasar, tentang kesediaan untuk menyadari bahwa kita tidak hidup sendirian. Kenyamanan bersama tidak selalu berarti setiap orang mendapatkan hal yang persis sama. Kadang kita perlu melihat siapa yang lebih membutuhkan, siapa yang memiliki keterbatasan, dan bagaimana setiap orang bisa mengambil bagian agar perjalanan tetap nyaman. Mungkin itulah salah satu hal yang paling aku pelajari dari banyak pengalaman bekerja bersama orang-orang dengan latar belakang berbeda.

Kolaborasi bukan hanya tentang kemampuan menyatukan kepentingan dalam sebuah forum, tapi juga tentang kebiasaan kecil yang kita bawa ketika tidak ada agenda, tidak ada moderator, dan tidak ada yang sedang menilai kepemimpinan kita.

Aku yakin, kalau karakter seseorang tidak hanya terlihat ketika diberi kesempatan untuk memimpin. Kadang, terlihat dari kesediaannya memberikan ruang kepada orang lain. Dan mungkin, dari hal sesederhana memilih kursi.

Rabu, 21 Oktober 2026

My Future Husband

Dear Sayang, 
Your future wife sedang tidak bisa tidur. Sekarang pukul 02.40 WIB. Aku harap tahun depan, ketika tidak bisa tidur, aku sedang ada dipelukanmu. 
With love. 

Your Future Wife

Dear Sayang, 
Aku malem ini lagi kangen. Aku lagi pengen apa ya tadi lupa. Eh tapi yang aku ingat, aku cemburu sayang. Cemburu waktu sayang pegang jidat seorang perempuan waktu kita bimtek itu. Padahal aku aja belum pernah digituin. Aku mau juga. 
From your future wife. 

Dear Sayang

Dear Sayang, 
Aku merasa tidak didengar. Aku merasa berjuang sendirian di hubungan ini. Aku mulai merasa lelah. Aku ingin merasakan pesan di balas, eh dibalas sih, cuma ngerasa ada yang kurang. Tapi apa ya? 
Aku kangen, aku sesekali ingin diucapkan selamat tidur. Eh pernah sih, oh bukan selamat bobok, tapi kalimat "boboklah" atau "istirahatlah" atau "sudah malam". Hmm tapi aku juga kalau disuruh bobok tidak mau ya. Hehehe, ya gimana mau ngucapin selamat bobok. Wkwk. Baru ngeh juga. Apa aku mendengarkan Sayang? Iya. Apa sayang merasa didengarkan olehku? Aku belum bertanya. Hehe

Selasa, 20 Oktober 2026

Aku Memilih Sayang

Sayang, ada hari terasa berat di hidupku. Saat kamu diam. Saat aku mulai menebak lagi, apa yang sedang kamu alami. 
Sayang, aku cuma kangen. Kalau boleh, aku ingin terlibat dalam keseharian Sayang. 
Sayang, mudah-mudahan Sayang sehat selalu dan banyak rezekinya. Sayang punya aku kalau lagi lelah. Sayang tidak perlu jadi sosok sempurna dan selalu kuat. Aku memilih Sayang. 

Senin, 19 Oktober 2026

Refleksi Tentang Pembelajaran Pasrah dari Pendaftaran Wisuda

​Terkadang, hidup lucu ya. Kita sering kali mengerahkan seluruh energi untuk mencengkeram segala sesuatu dengan erat, berusaha mengontrol alurnya, merajut skenario terburuk di dalam kepala, lalu kelelahan sendiri oleh rasa cemas dan overthinking.

​Saya baru saja merasakannya beberapa waktu lalu. Momen pendaftaran wisuda yang hampir luput dari genggaman, di mana detik-detik terakhir sebelum waktu pendaftaran habis, rasanya seperti di ujung tanduk. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menarik napas dalam-dalam, berserah diri sepenuhnya, dan berkata "Yaa sudahlah, bismillah saja. Kalau memang jalannya, pasti ada keajaiban." Dan benar saja, di sisa waktu setengah jam, pintu itu terbuka. ​Setelah beberapa saat, berhenti sejenak berfikir, aku berfikir, mungkin prinsip yang sama juga harus diterapkan dalam hubungan romantis, bahkan dalam merawat sebuah ikatan pernikahan.

​Hari ini, pikiran saya sempat berkecamuk hebat. Jarak yang membentang, kesibukan pasangan yang padat, potongan informasi yang tidak utuh, hingga bisikan-bisikan ketakutan masa lalu sempat membuat kepala penuh dengan skenario cemburu dan rasa takut ditinggalkan. Dada terasa sesak, sepi merayap, dan rasanya ingin sekali mengontrol segalanya agar tetap aman di dalam genggaman. ​Namun, di tengah badai kecil di dalam kepala itu, saya belajar untuk berhenti sejenak. Saya belajar untuk memeluk rasa takut saya sendiri, menumpahkannya pada tempat yang aman, dan berbicara jujur pada diri sendiri bahwa cemas itu wajar karena saya memang peduli dan mencintai dengan tulus.

​Belajar dari pengalaman wisuda kemarin, cinta dan relasi juga tidak bisa dipaksa untuk dipegang terlalu erat. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk memilih kita, atau memaksakan takdir agar berjalan persis seperti keinginan ego kita.
​“Bismillah aja. Ga bisa maksa jadi suami-istri kalo kita ga saling memilih. Serahkan kepada Allah.”

​Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di dalamnya tersimpan ketenangan dan kedaulatan batin yang luar biasa. Bahwa pada akhirnya, tugas kita hanyalah mencintai dengan jujur, merawat ketulusan, dan selebihnya... menyerahkan seluruh skenario kepada Sang Maha Pengatur. ​Jika memang ditakdirkan bersama, segalanya akan menemukan jalan pulangnya dengan cara yang tenang, sama seperti keajaiban di detik-detik terakhir pendaftaran wisuda hari itu. Dan jika pun harus berjalan di jalurnya masing-masing, kedamaian diri sendiri adalah rumah paling aman untuk kembali.

​Hari ini, saya memilih untuk melepas genggaman yang terlalu erat, menghembuskan napas lega, dan membiarkan hidup mengalir dengan tenang. Bismillah. Aku sayang Abang. Mudah-mudahan aku juga disayang dengan utuh dan jujur. Love you, Sayang. 

Senin, 12 Oktober 2026

Kue Coklat Untuk Sayang dan Ubi Ungu


Sayangku, aku sebenarnya sudah lama ingin memberikan sesuatu untuk Sayang. Tanggal kelahiran Sayang 30 September lalu. Sebenarnya, kita ada rencana bertemu pada tanggal itu, tetapi Sayang keburu ke lapangan. Hari itu aku sempet berfikir, wah bisa ketemuan di hari lahir. Wkwk. Aku sempat memikirkan bagaimana caranya menunjukkan rasa sayangku pada hari kelahiran Sayang. Pengen saja. Hehe.

Aku tidak ingin memakai lilin. Aku juga tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku bahkan tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Akhirnya, tanggal 30 September kuisi dengan ungkapan rasa sayangku di blog dan ku kirim ke Sayang. 

Sejak hari itu, aku masih sering kepikiran, Sayang suka apa, ya? Aku juga pengen usaha dan melakukan yang terbaik buat Sayang. Wkwk. No clue. Aku juga tidak bertanya, padahal dulu, sayang bilang kalau tidak tau ya bertanya. Aku baru kepikiran lagi waktu menulis ini. Wkwk. Baru saja.

Akhirnya kita bertemu. Aku pikir, pesan kue sajalah, ya. Padahal sebenarnya aku punya hadiah untuk Sayang, tetapi hadiah itu tidak sempat kuberikan, tidak sempat ku keluarin daru tas. Di perjalanan mengantar aku pulang, aku sempat bilang, “Sayang, ada pesawat geerak-gerak buat mobil di tasku. Mau dipasang?”

Sayang bilang tidak usah. Hehe. Aku pun mengurungkan niat mengambilnya dari dalam tas. Btw, hadiah itu sudah bolak-balik ikut perjalanan Sekayu-Palembang, lebih dari dua kali. Sejak awal Oktober itu. Wkwk. Nanti kalau Sayang mau melihatnya, aku senang sekali.

Kembali ke kue.

Waktu sudah berada di depan kue itu, aku tidak tau bagaimana cara menyampaikannya. Sejujurnya, itu pertama kali aku melakukannya sendirian. Mungkin waktu kuliah pernah, tetapi ramai-ramai. Btw, aku bahkan sempat ingin membuka ChatGPT, mau bertanya bagaimana cara bersikap dan kata-kata apa yang bisa kusampaikan kepada orang tersayang. Wkwk. Tapi niat itu kuurungkan. Sayangku sudah ada di depan mata. Sepertinya kali ini aku mau mengandalkan insting saja.

Aku mendekat ke Sayang, hehe. Terus senyum malu-malu, lalu kubawa kuenya mendekat. “Sayang, aku punya ini.”

Maksudnya kue. Wkwkwk. Cuma itu yang keluar dari mulutku. Hahaha. Semua yang ada di kepala tidak sampai jadi kalimat.

Aku membuka kotak kuenya, meletakkannya di atas meja, lalu memotong beberapa bagian yang agak penyok tertekan waktu du bawa. Sambil bilang, “Yah, Sayang, kuenya kena itu sebelahnya.”

Setelah itu, kita diam. Aku juga tidak tahu harus bilang apa lagi. Lucu rasanya. Sudah memikirkan ini sejak lama, sudah membawa kuenya, sudah sampai di depan orangnya, tapi saat momennya tiba, aku malah kehabisan kata-kata.

Lalu Sayang bilang, “Bawalah.”

Wkwkwk. Hehe. Kadang aku memang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan rasa sayangku sendiri. Aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Aku malah bilang terima kasih. Sesingkat itu.

Padahal maksudku, terima kasih sudah mendukungku sampai sejauh ini. Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang menemani perjalananku menyelesaikan tesis, sampai akhirnya aku menerima surat keterangan lulus. Sejujurnya mungkin ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi rasanya tidak semuanya bisa keluar menjadi kalimat. Detail-detail rasa terima kasihku itu masih tinggal di dalam kepala dan hati. Wkwk.

Mungkin aku memang lebih mudah menulis daripada bilang langsung. Di dalam tulisan, aku bisa berhenti sebentar, mengulang kalimat, mencari kata yang paling mendekati perasaanku. Kalau berhadapan langsung dengan Sayang, aku bisa mendadak malu, tersenyum sendiri, lalu diam.

Padahal orangnya ada di depan mata. Yang mau kusampaikan juga banyak. Tapi mulutku kadang seperti tidak mau bekerja sama. Wkwk. Hmm. 

Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan bagaimana caranya membuat Sayang merasa disayang juga.

Selama ini aku banyak menerima dukungan dari Sayang. Aku ingin Sayang tahu bahwa aku pun ingin mendukung Sayang. Aku ingin Sayang merasa punya teman ketika lelah. Aku ingin mendengarkan cerita-cerita Sayang, ingin tahu keseharian Sayang, ingin mengenal hal-hal kecil tentang Sayang yang mungkin belum pernah kuceritakan atau kutanyakan.

Aku belum selalu tahu bagaimana caranya. Aku masih belajar.

Kadang aku bertanya-tanya, Sayang suka apa, ya? Apa yang membuat Sayang senang? Apa yang bisa kulakukan ketika Sayang sedang capek? Banyak yang belum kutau.

Dan ternyata, bertanya pun kadang baru terpikir setelah semuanya lewat. Setelah kita tidak lagi duduk berdekatan. Setelah aku kembali di depan buku atau laptop, baru kepikiran, “Eh, tadi kenapa nggak tanya, ya?” Wkwkwk.

Padahal bisa saja kutanya langsung ketika Sayang ada di dekatku. Tapi, apa ya, aku kadang senang walau cuma duduk dan saling diam. 


Selain membawa kue untuk Sayang, aku juga membawa pulang ubi ungu yang Sayang bawa. Aku sudah beberapa hari pengen makan ubi ungu rebus. Aku tidak bilang kepada Sayang kalau aku sedang menginginkannya atau pengen makan Ubi itu. Aku sempat mencarinya di pasar si, tapi mengurungkan niat setelah melihat ubinya kecil-kecil. Lalu ketika kita bertemu, ternyata ada ubi ungu yang dibawa. 

Aku senang sekali.

Rasanya seperti apa, ya? Ada keinginan kecil yang ternyata tetap punya jalannya sendiri. Entah kebetulan atau memang sudah ada yang memikirkannya, aku tidak tau. Aku cuma tahu ubi ungu itu terasa spesial buatku.

Lucu ya, Sayang, bagaimana hal-hal sederhana bisa tinggal lama di ingatan. Sebuah kue cokelat, senyum kecil yang malu-malu, perasaan dekat sebelum memberikan sesuatu, sebuah pelukan beberapa potong kue di atas meja, hadiah yang masih tersimpan di dalam tas, dan ubi ungu yang sudah lama pengen kumakan.

Aku tidak tahu apakah Sayang akan mengingat semua detail itu seperti aku mengingatnya. Mungkin buat Sayang ini hanya pertemuan biasa. Buatku, ada banyak hal kecil yang ingin kusimpan. Aku sedang belajar menyayangi Sayang tanpa harus selalu tahu cara terbaik untuk mengatakannya.

Kadang aku bisa menulis panjang sekali tentang perasaanku. Kadang di depan Sayang aku hanya mampu bilang, “Sayang, aku punya ini.”

Lalu tersenyum, memeluk Sayang, dan berharap Sayang tahu bahwa aku senang bisa berbagi sedikit kebahagiaan dengan Sayang. Hehe.

Aku juga ingin belajar lebih banyak tentang Sayang. Bukan cuma memikirkan apa yang bisa kuberikan, tetapi juga mengenal apa yang Sayang sukai, apa yang membuat Sayang nyaman, dan bagaimana caranya supaya Sayang juga bisa merasa disayangi olehku.

Aku belum tahu semua jawabannya. Kadang aku masih bingung, kadang baru kepikiran setelah pulang, kadang malah sibuk menyusun kata-kata di kepala sampai lupa mengatakannya langsung. Wkwk.

Tapi aku ingin mencoba, Sayang. Dengan caraku yang mungkin masih malu-malu ini. Dan mungkin, kali ini bentuknya adalah sebuah kue cokelat, pelukan, hadiah yang masih menunggu di dalam tas, dan ubi ungu.

Sayangku, terima kasih. Untuk banyak hal yang mungkin belum semuanya bisa kusampaikan langsung.

Aku sayang Sayang.

Kue Coklat dan Ubi Ungu

Sayangku, Terimakasih


Aku sudah lama ingin memberikan sesuatu untuknya. Tanggal kelahirannya 30 September lalu. Sebenarnya, kami ada rencana bertemu pada tanggal itu, tetapi dia keburu ke lapangan. Aku sempat memikirkan bagaimana caranya menunjukkan rasa sayangku pada hari kelahirannya, pengen saja. Aku tidak ingin memakai lilin. Aku juga tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku bahkan tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Akhirnya, tanggal 30 September kuisi dengan ungkapan rasa sayangku. Sayangku, Terima Kasih

Sejak hari itu, aku masih sering kepikiran, Sayang suka apa, ya? Aku juga pengen usaha dan melakukan yang terbaik buat Sayang. Wkwk. No clue. Aku juga tidak bertanya, padahal dulu katanya kalau tidak tau ya bertanya. Aku baru kepikiran waktu menulis ini. Wkwk. Baru saja.

Akhirnya kami bertemu. Aku pikir, pesan kue sajalah ya. Padahal sebenarnya aku punya hadiah untuknya, tetapi hadiah itu tidak sempat kuberikan. Di perjalanan mengantarku pulang, aku sempat bilang, “Sayang, ada pesawat geerak-gerak buat mobil di tasku. Mau dipasang?”

Katanya tidak usah. Hehe. Aku pun mengurungkan niat mengambilnya dari dalam tas.Btw, hadiah itu sudah bolak-balik ikut perjalanan Sekayu - Palembang lebih dari dua kali. Wkwk. Nanti kalau Sayang mau melihatnya, aku senang sekali.

Kembali ke kue. Waktu sudah berada di depan kue itu, aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Sejujurnya, itu pertama kali aku melakukannya sendirian. Mungkin waktu kuliah pernah, tetapi ramai-ramai. Aku bahkan sempat ingin membuka ChatGPT, mau bertanya bagaimana cara bersikap serta kata-kata apa yang bisa kusampaikan kepada orang tersayang. Wkwk. Tapi niat itu ku urungkan. Orangnya sudah ada di depan mata. Sepertinya, kali ini aku berfikir untuk mengandalkan insting saja.

Aku mendekat dulu, lalu tersenyum malu-malu. 

“Sayang, aku punya itu.” Maksudnya kue

Cuma itu yang keluar dari mulutku. Hahaha. Semua-semua yang di kepala tidak sampai jadi kalimat. 

Aku membuka kotak kuenya, meletakkannya di atas meja, lalu memotongnya beberapa di bagian yang agak penyok. Sambil bilang "Yah, sayang kuenya kena itu sebelahnya." Setelah itu, kami diam. Aku juga tidak tahu harus bilang apa lagi.

Lucu rasanya. Sudah memikirkan ini sejak lama, sudah membawa kuenya, sudah sampai di depan orangnya, tetapi ketika momennya tiba, aku malah kehabisan kata-kata.

Lalu dia bilang, “Bawalah.”

Wkwkwk. Hehe. Kadang aku memang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan rasa sayangku sendiri. Aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Aku malah bilang terima kasih. Sesingkat itu. 

Maksudku, terima kasih sudah mendukungku sampai sejauh ini. Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang menemani perjalananku menyelesaikan tesis, sampai akhirnya aku menerima surat keterangan lulus. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tetapi rasanya tidak semuanya bisa keluar menjadi kalimat. Semua rasa terima kasih detailnya masih tinggal di dalam hati. Wkwk.

Mungkin aku memang lebih mudah menulis daripada bilang langsung. Di dalam tulisan, aku bisa berhenti sebentar, mengulang kalimat, mencari kata yang paling mendekati perasaanku. Kalau berhadapan langsung dengannya, aku bisa mendadak malu, tersenyum sendiri, lalu diam.

Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan bagaimana caranya membuat dia merasa disayang juga. Selama ini aku banyak menerima dukungan darinya. Aku ingin dia tau bahwa aku pun ingin mendukungnya. Aku ingin dia merasa punya teman ketika lelah, ingin mendengarkan ceritanya, dan ingin mengenal kesehariannya.

Aku belum selalu tau bagaimana caranya. Aku masih belajar. Kadang aku bertanya-tanya apa yang dia sukai, apa yang membuatnya senang, atau apa yang bisa kulakukan ketika dia sedang capek. Banyak yang belum kutahu. Dan ternyata, bertanya pun kadang baru terpikir setelah semuanya lewat. Setelah kami tidak duduk berdekatan. Ketika aku di dapan buku atau di depan laptp ingin menulis. Wkwk.

Selain membawa kue untuknya, aku membawa pulang ubi ungu yang dibawanya, sudah beberapa hari pengen makan ubi ungu itu.  Aku tidak bilang kepadanya klo aku sedang pengen makan ubi ungu rebus. Aku sempat mencarinya di pasar, tetapi mengurungkan niat setelah liat Ubinya kecil-kecil. Lalu ketika bertemu, ternyata ada ubi ungu.

Aku senang sekali.

Rasanya seperti apa yaa, ada keinginan kecil yang ternyata tetep ada jalannya sendiri. Entah kebetulan atau memang sudah ada yang memikirkannya, aku tidak tau. Aku cuma tahu ubi ungu itu terasa istimewa buatku.

Lucu ya, bagaimana hal-hal sederhana bisa tinggal lama di ingatan. Sebuah kue cokelat, senyum kecil yang malu-malu, pelukan sebelum memberikan sesuatu, beberapa potong kue di atas meja, hadiah yang masih tersimpan di dalam tas, dan ubi ungu yang sudah lama pengen kumakan.

Aku tidak tau apakah dia akan mengingat semua detail itu seperti aku mengingatnya. Mungkin baginya itu hanya pertemuan biasa. Buatku, ada banyak hal kecil yang ingin kusimpan.

Aku sedang belajar menyayangi seseorang tanpa harus selalu tau cara terbaik untuk mengatakannya. Kadang aku bisa menulis panjang sekali tentang perasaanku. Kadang di depannya aku hanya mampu bilang, “Sayang, aku punya ini.”

Lalu tersenyum, memeluknya, dan berharap dia tahu bahwa aku senang bisa berbagi sedikit kebahagiaan dengannya. Hehe. Ternyata, aku juga masih belajar memberikan rasa sayang dalam bentuk yang bisa kulakukan hari ini.

Dan mungkin, bentuknya adalah sebuah kue cokelat, pelukan, hadiah yang masih menunggu di dalam tas, dan ubi ungu.

Sayangku, Terima kasih


Kue Kecil untuk Sayang



Aku sudah lama ingin memberikan sesuatu untuknya.  Tanggal kelahirannya 30 September lalu, sebenarnya kami ada rencana bertemu pada tanggal itu tapi dia keburu ke lapangan. Aku sempat memikirkan bagaimana caranya menunjukkan rasa sayangku terhadap hari kelahiran. Aku tidak ingin memakai lilin. Aku juga tidak tahu harus mengucapkan apa. Aku juga tidak ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Akhirnya 30 September ku isi dengan ungkapan rasa sayangku. 

Sejak hari itu, aku masih sering kepikiran, "Sayang, suka apa ya? Aku juga pengen usaha dan melakukan yang terbaik buat Sayang. Wkkw. No clue. Aku juga tidak bertanya ya, padahal dulu katanya klo tidak tau ya bertanya, aku baru kepikiran waktu nulis ini. Wkwk. Baru saja. 

Btw, akhirnya kami bertemu. Aku memesan kue sajalah pikirku. Padahal sebenanrnya aku punya hadiah, dan hadiahnya tidak sempat ku berikan. Aku cuma bilang pas diperjalanan anter aku pulang "Sayang, ada pesawat geerak-gerak buat mobil di tasku. Mau dipasang." Katanya tidaj usah, hehe. Aku urungkan niatku mengambilnya di dalam tas. Btw, gift itu bolak-balik dibawa Sekayu - Palembang lebih dari 2 kali. Nanti klo Sayang mau lihat, aku senang sekali. 

Btw, waktu di depan kue itu aku tidak tau cara bilangnya. Sejujurnya itu pertama kali aku lalukan sendirian, mungkin waktu kuliah pernah tapi ramai-ramai. Aku bahkan sempat mau ngetik ChatGPT cara bersikap dan kata-kata buat disampaikan ke oranf tersayang. Tapi aku urungkan, orangnya sudah di depan mata dan sepertinya insting aja. Wkwk.

“Sayang, aku punya itu, kue.”
Cuma itu yang keluar dari mulutku. Hahaha.

Aku membuka kotak kuenya, meletakkannya di atas meja, lalu memotonginya. Setelah itu, kami diam. Aku juga tidak tahu harus bilang apa lagi. Rasanya lucu, sudah memikirkan ini sejak lama, sudah membawa kuenya, sudah sampai di depan orangnya, tapi ketika momennya tiba, aku malah kehabisan kata-kata.

Lalu dia bilang, “Bawalah.”

Hehe. Kadang aku memang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan rasa sayangku sendiri.

Aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun. Aku malah bilang terima kasih. Terima kasih sudah mendukungku sampai sejauh ini. Terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang menemani perjalananku menyelesaikan tesis, sampai akhirnya aku menerima surat keterangan lulus. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi rasanya tidak semuanya bisa keluar menjadi kalimat,  semua rasa terima kasih ini di dalam hati. Wkwk. 

Mungkin aku memang lebih mudah menulis daripada mengatakannya langsung. Di dalam tulisan, aku bisa berhenti sebentar, mengulang kalimat, mencari kata yang paling mendekati perasaanku. Kalau berhadapan langsung dengannya, aku bisa mendadak malu, tersenyum sendiri, lalu diam. Wkwk.

Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan bagaimana caranya membuat dia merasa disayang juga. Selama ini aku banyak menerima dukungan darinya. Aku ingin dia tahu bahwa aku pun ingin mendukungnya, ingin dia merasa punya teman ketika lelah, ingin mendengarkan ceritanya, dan ingin mengenal kesehariannya. Aku belum selalu tahu bagaimana caranya. Aku masih belajar.

Tadi, selain membawa kue untuknya, aku juga membawa pulang ubi ungu yang sudah beberapa hari ingin kumakan. Aku tidak pernah bilang kepadanya bahwa aku sedang ingin ubi ungu rebus. Aku sempat mencarinya di pasar kecil-kecilan, tapi mengurungkan niat. Lalu ketika bertemu, ternyata ada ubi ungu.

Aku senang sekali. Rasanya seperti ada keinginan kecil yang diam-diam menemukan jalannya sendiri. Entah kebetulan atau memang sudah ada yang memikirkannya, aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa ubi ungu itu terasa istimewa buatku. 

Lucu ya, bagaimana hal-hal sederhana bisa tinggal lama di ingatan. Sebuah kue cokelat, senyum kecil yang malu-malu, pelukan,  beberapa potong kue di atas meja, dan ubi ungu yang sudah lama ingin kumakan.

Aku tidak tahu apakah dia akan mengingat semua detail itu seperti aku mengingatnya. Mungkin baginya itu hanya pertemuan biasa. Buatku, ada banyak hal kecil yang ingin kusimpan.

Aku sedang belajar menyayangi seseorang tanpa harus selalu tahu cara terbaik untuk mengatakannya. Kadang aku bisa menulis panjang sekali tentang perasaanku, kadang di depannya aku hanya mampu bilang, “Sayang, aku punya ini.”

Lalu tersenyum, memeluknya, dan berharap dia tahu bahwa aku senang bisa berbagi sedikit kebahagiaan dengannya. Hehe. Ternyata, aku juga masih belajar memberikan rasa sayang dalam bentuk yang bisa kulakukan hari ini.

Dan mungkin, bentuknya adalah sebuah kue cokelat, pelukan, dan ubi ungu.

Minggu, 04 Oktober 2026

Aku Sedang Belajar Menjadi Tempat yang Aman

Beberapa hari ini aku sedang mengisi formulir untuk sebuah program kepemudaan. Namanya Young Progressive Academy. Lucu juga. Setelah beberapa tahun merasa belajar itu ya kuliah, tugas, penelitian, seminar, revisi, lalu akhirnya wisuda, sekarang aku mulai merasa mungkin belajar tidak selalu harus datang dari ruang kelas.

Aku baru selesai S2. Kontrakku di LTKL juga sudah selesai. Dua hal yang cukup besar dalam hidupku ternyata selesai hampir bersamaan. Lalu sekarang aku sedang melihat-lihat lagi. Mau bekerja di mana. Mau mengambil peran seperti apa. Mau membawa pengalaman yang sudah ada ke mana. Bahkan, sedikit lebih dalam dari itu, aku sedang bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya aku ingin menjadi orang seperti apa?

Selama beberapa tahun bekerja di pembangunan daerah, aku cukup sering berada di tengah banyak orang. Pemerintah, masyarakat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, perusahaan, teman-teman di desa. Orangnya berbeda-beda. Bahasanya berbeda-beda. Kepentingannya juga tidak selalu sama. Tapi semakin lama berada di antara mereka, aku malah semakin sering melihat sesuatu yang sederhana.

Banyak orang sebenarnya punya niat baik. Banyak hal sebenarnya bisa dikerjakan bersama. Hanya saja, orang-orang yang ingin melakukan sesuatu itu kadang tidak tahu harus bertemu di mana. Tidak tahu bagaimana memulai percakapan. Kadang sudah duduk di meja yang sama, tetapi berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Dan ada satu hal yang cukup sering menggangguku. Beberapa program bisa tertulis sangat rapi di atas kertas, tetapi tidak semua orang merasa didengar untuk kemudian ditulis di dalam kertas tersebut.

Mungkin karena itu aku semakin tertarik pada ruang di antara orang-orang. Bukan hanya pada programnya. Bukan hanya pada hasil akhirnya. Tapi pada percakapannya. Pada siapa yang belum bicara. Pada orang yang sebenarnya punya pendapat, tetapi masih sungkan mengatakannya. Pada seseorang yang datang membawa gagasan yang masih berantakan dan hanya ingin didengarkan dulu sebelum mencari jawabannya.

Aku rasa selama ini aku cukup sering menjadi orang yang menghubungkan. Mendengar cerita dari satu pihak, lalu membawa bagian tertentu ke pihak lain. Membantu orang bertemu. Membantu percakapan tetap berjalan. Mencatat sesuatu yang sebelumnya hanya berputar-putar di kepala banyak orang. Tapi akhir-akhir ini aku bertanya, sejauh apa sebenarnya kemampuan itu bisa kubawa? Dan apakah itu memang sesuatu yang ingin terus kulakukan? Aku belum punya jawabannya.

Makanya aku tertarik ikut YPA. Bukan karena aku merasa sudah tahu bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Malah sebaliknya. Aku ingin belajar lagi tentang kepemimpinan, tentang keberagaman, tentang inklusi, tentang bagaimana menjadi warga yang aktif, dan tentang bagaimana hadir dengan lebih utuh ketika bekerja bersama orang lain. Aku juga ingin bertemu orang-orang yang mungkin punya pertanyaan yang sama, meskipun datang dari tempat dan pengalaman yang berbeda.

Ada satu hal yang kutulis ketika mengisi formulirnya. Aku ingin menjadi seseorang yang ketika orang datang kepadaku, mereka tidak perlu merasa sungkan atau takut untuk mengutarakan pendapat. Mau bicara tentang kehidupan. Tentang pembangunan daerah. Tentang sesuatu yang mereka tidak setujui. Tentang ide yang masih sederhana. Atau bahkan tentang sesuatu yang kami sendiri belum tahu harus menyebutnya apa.

Entah kenapa kalimat itu terasa cukup dekat denganku. Mungkin aku tidak sedang mencari tahu bagaimana caranya menjadi orang paling depan dalam sebuah ruangan. Mungkin aku sedang belajar menjadi orang yang membuat orang lain merasa cukup aman untuk ikut masuk ke dalam percakapan. Dan lucunya, aku membayangkan ruang itu tidak harus selalu berupa forum resmi dengan meja panjang dan backdrop besar. Bisa saja di warung kopi, kata Uda.

Seseorang duduk di depanku, bercerita tentang kampungnya. Aku mendengarkan. Lalu dari percakapan yang awalnya tidak terlalu jelas itu, tiba-tiba muncul satu nama, satu masalah, satu kemungkinan, atau satu orang lain yang mungkin perlu dipertemukan.

Barangkali memang begitu caraku ingin terus belajar. Tidak selalu dengan berdiri di depan. Kadang cukup dengan duduk bersama seseorang dan benar-benar mendengarkan. Aku belum tahu setelah ini akan bekerja di mana. Belum tahu peran apa yang akan kupilih. Tapi mungkin untuk sementara, tidak apa-apa kalau aku belajar mengenali diriku sendiri dari pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini.

Aku sedang ingin tahu, seberapa banyak suara yang bisa kudengar, seberapa banyak orang yang bisa kuhubungkan, dan seberapa nyaman sebuah ruang bisa kubuat untuk orang lain menjadi dirinya sendiri. Mungkin itu juga bentuk lain dari belajar. Dan mungkin, kali ini, aku sedang belajar menjadi tempat yang aman bagi sebuah percakapan untuk dimulai.

Sabtu, 03 Oktober 2026

Momen Hangat di Dalam Angkot

Hari ini, adek sepupuku minta ditemenin ke Pasar 16 Ilir. Dia mau menjual songket Palembang asli karya tangannya sendiri ke bos tempat biasa dia menyetor. Di depanku, dia duduk manis dengan sandal blink-blink kesayangannya. Kami sengaja memilih naik angkot, sengaja ingin menyisakan ruang untuk berjalan kaki menyeberangi Jembatan Ampera.

​Sepanjang perjalanan pagi tadi, aku sama sekali tidak mengeluarkan ponsel. Ada rasa trauma yang belum sepenuhnya pulih setelah kejadian HP dijambret di pasar Mei 2025 lalu. Dan di balik keputusan untuk tidak merekam apa pun lewat kamera, ternyata ada hadiah lain, yaitu seluruh peristiwa terekam begitu jernih dan utuh di dalam ingatanku. Sudah lama sekali aku tidak merasakan euforia jalanan dan pasar yang sejujur ini.

​Di dalam angkot, seorang ibu yang mungkin berusia mendekati 60 tahun duduk tepat di hadapanku. Sempat terjadi percakapan sekejap di dalam angkot itu "Banyak asap yaa." Aku menimpali dengan singkat mengiyakan, lalu bertanya kepada adik sepupku alasan tak memakai masker. Tak lama kemudian, seorang bapak seusianya ikut naik. Bapak itu membawa termos air panas, tas anyaman, dan sebuah tas tenteng tertutup berwarna ungu. Dari percakapan singkat yang tak sengaja kudengar, bapak itu bercerita akan pergi ke rumah sakit untuk mengobati kakinya yang sakit. Aku sempat melihat bapak tersebut memegang kaki sebelahnya, saat berbicara tentang pengobatan kaki. Ibu di depanku merespons hangat, menutup obrolan dengan doa yang tulus, "Iya, semoga cepat sembuh." Setelah itu, suasana kembali hening.

​Sekitar tiga menit berlalu. Aku memperhatikan ibu tersebut membuka dompet kecilnya. Di dalam kepalaku, dompet itu familiar seperti dompet dari toko emas. Tidak ada slot-slot kartu seperti dompet modern masa kini, hanya plong saja. Di dalamnya, terlihat lembaran uang yang terlipat tidak rapi saat dia menghitung uang itu, satu lembar 50 ribu, dua lembar 20 ribu, dan 3 ribu rupiah. Dia membuka lipatan lembaran demi lembaran, terlihat merapikan lipatan itu. Awalnya, jemarinya memegang uang 3 ribu, ongkos pas untuk angkot. Ia sempat menutup dompetnya, tapi kemudian dia terlihat diam dan berpikir sejenak.

​Perlahan, ia memasukkan kembali uang 3 ribu tadi, lalu memilih mengeluarkan lembaran 20 ribu. Dipegangnya erat-erat. Selama dua menit di atas angkot yang terus berjalan, ia terlihat menimbang sesuatu dalam hening. Aku hanya memperhatikan dari balik diamku.

​Dua menit berlalu, angkot berhenti dengan instruksi ibu itu "Depan..." Angkot itu stop dan ibu itu turun lebih dulu, ia menyerahkan lembaran 20 ribu itu ke driver depan.
"Uangnya besar, Buu," kata driver angkot.
Ibu itu menyahut pelan sambil menunjuk bapak yang masih duduk di dalam, "Aku bayar dua orang."
Bapak itu sempat bilang tidak usah karena sungkan, tapi ibu itu memaksa halus, lalu melangkah pergi begitu saja menembus keramaian.

​Sesaat aku menangkap momen paling menyentuh dalam hidupku. Ternyata saat kita memilih menyimpan ponsel dan hadir sepenuhnya, sensing sekeliling, ada pelajaran yang di dapatkan. Dua menit hening di atas angkot pagi tadi menurutku memberikan pelajaran yang cukup penting bagiku, tentang menimbang, tentang berfikir, tentang ketulusan, ketulusan yang tidak butuh panggung, bahwa di antara keraguan dan keterbatasan, manusia selalu punya ruang untuk saling menopang. Hehe. 
Oh iya, klo mau pesan atau buat songket Palembang, adek sepupuku bisa yaaa... 

Rabu, 30 September 2026

Sayangku, Terima Kasih

Melihat seseorang tumbuh dan bertahan hidup itu sebenarnya sebuah keajaiban yang pelan. ​Aku tidak sedang ingin merayakan angka atau penanggalan. Bagi hatiku, nilai keberadaan seorang manusia tidak diukur dari seberapa ramai tanggal tertentu diingat, tapi dari bagaimana dia terus melangkah, belajar, dan bertahan melewati hari-hari yang tidak pernah mudah.

​Hari ini, aku cuma ingin memberi ruang tenang di dalam batin untuk sebuah apresiasi sunyi untuk jiwa yang sudah berjuang sejauh ini.

​Aku memperhatikan bagaimana dia menanggung lelahnya. Bagaimana langkah kakinya, meski kadang berat, letih, atau tertatih tapi tetap diayunkan untuk menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Ada ketangguhan yang tidak perlu dipamerkan kepada dunia, dan ada proses pendewasaan yang terus berjalan secara jujur di balik diamnya. Menjalani hidup memang tidak pernah sederhana, dan menyaksikan seseorang berproses dengan segala dinamikanya adalah sebuah ruang pembelajaran yang hangat.

​Menghargai hidup seseorang sejatinya adalah tentang mendoakan kebaikannya dalam keheningan. Memohon agar hatinya selalu dilapangkan, jiwanya diberi ketenangan, langkahnya dimudahkan, dan setiap lelah yang diusahakannya bernilai kebaikan serta keberkahan.

​Aku berkeyakinan bahwa tidak perlu ada perayaan yang riuh. Cukup rasa syukur yang mengendap tenang di dalam dada bahwa di antara takdir- takdir di bumi ini, ada satu jiwa yang terus berikhtiar untuk hidup, belajar, dan berjalan dengan sebaik-baiknya.

​Ini bukan ucapan untuk satu hari tertentu. Ini adalah penanda dan bentuk penghormatan sunyi untuk sebuah perjalanan panjang bernama hidup. Terima kasih sudah terus bertahan, belajar, dan melangkah, Sayang. 
Sayang Abang. Sehat selalu yaaa.

Kesel Tapi Tetep Sayang

Tadi siang aku ngetik satu kalimat yang rasanya jujur banget, tanpa filter, "Aku kesal tapi aku tetap sayang." Nggak ada gengsi yang ditutup-tutupi, nggak ada drama pasif-agresif, dan nggak ada perisai sok kuat. Cuma respons spontan yang mengalir gitu aja.

​Dulu, mungkin kalau lagi jengkel atau merasa kurang diperhatikan, pilihanku cuma dua yaitu menahan semuanya sendirian sampai dada sesak, atau ngambek sambil nunggu dia menebak-nebak. Kita sering secara tidak sadar diajari untuk main aman, menjaga gengsi, atau pakai silent treatment biar kelihatan berkuasa. Tapi makin ke sini aku makin paham, cara-cara begitu cuma bikin sistem saraf bekerja terlalu keras dan capek sendiri.

​Beberapa waktu lalu waktu aku main sama anak-anak kecil di lorong desa, ada satu rasa yang bikin hatiku tenang banget, bahwa bicada dengan mereka terasa no hidden intention. Mereka ngobrol polos, tertawa lepas, dan bahkan mempermudah aturan main supaya aku bisa ikut tanpa merasa kesulitan. Di dekat mereka, aku merasa aman karena tidak ada tuntutan untuk berpura-pura.  

​Ternyata, kehangatan yang sama bisa kita bawa ke dalam hubungan dewasa. Hadir utuh dan sadar penuh itu bukan berarti kita harus selalu ramah, selalu tenang, atau berpura-pura tidak pernah kesal. Keberanian dewasa yang sebenarnya justru ada pada saat kita bisa dengan jujur meluapkan ganjalan, tanpa harus menurunkan kualitas rasa sayang kita pada pasangan. Kita memilih untuk tidak menghukum orang lain atau memelihara ego, melainkan merawat ruang hubungan agar tetap hangat dan aman.

​Melepaskan gengsi dan berani jujur sama perasaan sendiri ternyata rasanya sangat membebaskan. Nggak perlu akrobat emosi, nggak perlu pura-pura tangguh. Cuma ada aku, dengan segala rasa jengkel, kangen, dan kasih sayang yang utuh, belajar hadir untuk diriku dan hubunganku dengan cara yang paling ringan.

Kamis, 24 September 2026

Ternyata, Aku Lebih Tenang Setelah Menulis



Ada satu hal kecil yang baru kusadari beberapa hari ini. Ternyata, aku bisa lebih tenang hanya dengan menulis. Bukan karena semua yang kutulis kemudian mendapat jawaban. Bukan juga karena orang yang kutuju selalu punya solusi untuk semua isi kepalaku. Kadang aku cuma mengetik.

“Sayang, aku kepikiran ini…”

“Sayang, tadi aku ingat sesuatu…”

“Sayang, menurutmu kenapa begini?”

Kadang bahkan isinya tidak penting-penting amat. Tentang charger yang rusak. Tentang hidung yang terus meler. Tentang belum minum. Tentang rasa kangen yang tiba-tiba muncul padahal baru saja bertemu. Hal-hal kecil yang mungkin kalau dipikir-pikir, sebenarnya bisa saja kusimpan sendiri. Tapi ternyata, ketika kutuliskan, kepalaku terasa lebih lapang.

Aku baru sadar bahwa selama ini mungkin aku terlalu sering mengira bahwa ketenangan datang setelah mendapat respons. Seolah-olah aku gelisah, aku cerita, dia menjawab lalu aku tenang. Padahal beberapa hari ini aku menemukan urutan yang sedikit berbeda. Aku gelisah, aku menulis, aku membaca lagi apa yang sebenarnya kurasakan lalu perlahan aku tenang. Jawabannya belum tentu ada. Tapi sesuatu di dalam diriku sudah bergerak. 

Mungkin karena ketika sesuatu masih berputar di kepala, semuanya terasa besar. Begitu ditulis, ia punya bentuk. Yang tadinya cuma “aku merasa tidak enak” bisa berubah menjadi,

“Oh, ternyata aku sedang takut tidak dilibatkan.”

“Oh, ternyata aku sedang ingin dimengerti.”

“Oh, ternyata aku cuma kangen.”

“Oh… ternyata aku sedang capek.”

Sesederhana itu. Menulis ternyata bukan cuma cara untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Kadang ia adalah cara untuk mendengar diri sendiri.

Aku juga belajar sesuatu tentang kedekatan. Bahwa dekat dengan seseorang bukan berarti semua rasa harus segera diselesaikan oleh orang itu. Aku boleh ingin ditenangkan. Aku boleh ingin didengar. Aku boleh ingin dipeluk. Aku boleh mengirim pesan panjang ketika kepalaku sedang penuh. Tapi mungkin aku tidak harus menjadikan orang yang kusayangi sebagai satu-satunya tempat untuk membuatku kembali baik-baik saja.

Ada bagian yang tetap bisa kukerjakan sendiri. Bukan supaya aku menjadi perempuan yang tidak membutuhkan siapa-siapa. Aku rasa bukan itu. Aku justru ingin tetap menjadi seseorang yang bisa membutuhkan orang lain tanpa kehilangan dirinya sendiri. Aku ingin bisa berkata, “Aku ingin kamu ada.” tanpa diam-diam menerjemahkannya menjadi, “Kalau kamu tidak ada, aku tidak akan baik-baik saja.” Ada jarak kecil di antara dua kalimat itu. Dan ternyata, jarak kecil itu penting.

Hari itu aku juga sempat bertanya tentang sesuatu yang sudah lama tersimpan di kepalaku. Tentang kepercayaan. Tentang bagaimana seseorang memandang perempuan dalam pekerjaan. Tentang kenapa dalam situasi tertentu ia terlihat lebih mudah menghubungi atau meminta bantuan perempuan tertentu. Pertanyaannya sebenarnya sederhana.Tapi aku tahu ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Kadang kita tidak benar-benar sedang bertanya tentang orang lain. Kita sedang mencoba memahami “Aku ini ada di mana dalam duniamu?”

Aku sempat tertawa sendiri setelah menyadarinya. Ternyata hati manusia memang lucu. Bisa membahas charger 220 ribu, lalu beberapa jam kemudian tiba-tiba masuk ke pertanyaan tentang kepercayaan dan pengalaman masa lalu. Tidak selalu rapi. Tidak selalu masuk akal. Tapi mungkin memang begitulah cara hati bekerja. Ia menyimpan banyak hal sekaligus.

Dan malam itu, setelah semua pesan kecil itu lewat, aku kembali menyadari sesuatu. Aku ternyata senang melihat seseorang yang kusayangi berkarya. Aku senang melihatnya menjalankan sesuatu dengan serius. Aku senang bisa menjadi saksi dari sebagian kecil kehidupannya. Tidak harus selalu menjadi pusat cerita. Kadang cukup menjadi seseorang yang berkata, “Aku lihat kamu.” Dan mungkin itu juga bentuk cinta yang sedang kupelajari. Bukan hanya ingin dilihat. Tapi belajar melihat. Bukan hanya ingin dipahami. Tapi belajar memahami. Bukan hanya ingin ditenangkan. Tapi belajar menenangkan diriku sendiri sambil tetap membiarkan orang lain hadir.

Mungkin selama ini aku mengira bahwa kedekatan adalah tentang seberapa sering seseorang membalas pesan. Sekarang aku mulai melihatnya sedikit berbeda. Kedekatan mungkin juga tentang seberapa aman kita merasa untuk membawa hal-hal kecil kepada seseorang. Tentang bisa berkata, “Aku lagi begini,” tanpa harus membuatnya menjadi persoalan besar. Tentang bisa diam tanpa merasa hubungan langsung hilang. Tentang bisa bertanya tanpa harus sudah tahu jawabannya. Dan tentang bisa mencintai seseorang sambil tetap pulang kepada diri sendiri.

Hari ini aku belum selesai belajar soal itu. Masih sering ingin dicari. Masih ingin diingat. Masih ingin dilibatkan. Masih ada bagian dalam diriku yang kadang membaca jeda sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan. Tapi mungkin bertumbuh memang bukan berarti semua itu tiba-tiba hilang. Mungkin bertumbuh adalah ketika aku mulai bisa berkata kepada diriku sendiri “Aku tahu kamu ingin didengar. Yuk, kita dengarkan dulu.”

Lalu aku menulis. Dan anehnya… setelah itu aku sering kali menjadi sedikit lebih tenang.