Aku baru sadar ada satu pola yang terus berulang. Bukan cuma di hubungan ini. Mungkin juga di banyak hubungan sebelumnya. Aku sering merasa ingin mendengar. Sementara dia lebih sering menunjukkan.
Awalnya aku pikir itu soal perhatian. Kalau dia sayang, kenapa tidak bilang? Kalau dia kangen, kenapa tidak menghubungi? Kalau dia peduli, kenapa diam?
Pertanyaan-pertanyaan itu sering datang saat layar ponsel tidak menyala dan pesan terakhirku menggantung tanpa jawaban. Lucunya, kalau dipikir lagi, ternnyta banyak bukti yang menunjukkan hal sebaliknya.
Dia mengirimkan barang titipan. Dia mengingat hal-hal yang perlu diurus. Dia memberi kabar ketika sudah sampai. Dia pulang setelah perjalanan jauh lalu mengabari. Dia muncul lagi. Dan lagi. Dan lagi. Hanya saja tidak selalu dalam bentuk kata-kata. Sementara aku... Aku adalah orang yang menganggap kata-kata sebagai rumah. Aku suka mendengar. Aku suka percakapan panjang yang berkelok. Aku suka tahu seseorang sedang apa, memikirkan apa, merasakan apa. Aku bisa merasa dekat hanya karena satu pesan sederhana:
"Aku lagi kerja."
"Aku sampai nanti malam."
"Aku capek hari ini."
Bukan karena isi informasinya penting. Tapi karena aku bisa merasakan keberadaannya. Lalu suatu hari aku refleksj sesuatu yang membuatku sedikit terdiam. Mungkin selama ini aku tidak sedang berhadapan dengan orang yang tidak peduli. Aku hanya sedang berhadapan dengan orang yang menggunakan bahasa yang berbeda.
Saat aku mengirim banyak pesan karena ingin terhubung, mungkin yang dia lihat hanyalah seseorang yang sedang ingin berbicara. Saat dia diam karena bekerja atau lelah, mungkin yang dia rasakan hanyalah seseorang yang sedang fokus menjalani harinya.
Masalahnya muncul ketika diam mulai diterjemahkan. Aku menerjemahkan diam sebagai jarak. Dia menerjemahkan diam sebagai biasa saja. Aku menerjemahkan keterlambatan kabar sebagai ketidakpastian..Dia menerjemahkan keterlambatan kabar sebagai sedang sibuk. Aku menerjemahkan kata-kata sebagai kedekatan. Dia menerjemahkan tindakan sebagai kedekatan.
Tiba-tiba aku teringat masa kecil. Ada masa ketika aku bermain di luar rumah lalu pulang dengan semangat ingin bertemu seseorang yang kusayang. Ternyata orang itu sudah pergi. Tanpa pamit. Tanpa sempat bilang kapan akan kembali. Besok. Bulan depan. Tahun depan. Aku tidak tahu.
Mungkin sejak saat itu aku belajar bahwa ketidaktahuan terasa menakutkan. Bukan perginya yang paling menyakitkan, tapi tidak tahu. Tidak tahu kapan kembali. Tidak tahu apakah akan kembali. Tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mungkin itulah sebabnya sampai hari ini kabar sederhana bisa terasa begitu menenangkan.
Sebuah pesan pendek bisa mengubah banyak hal. Bukan karena pesan itu menyelesaikan masalah. Tapi karena pesan itu membuatku tidak perlu menebak-nebak. Dan mungkin, pelajaran terbesarku bukanlah membuat orang lain berubah menjadi lebih banyak bicara. Tapi belajar melihat cinta dalam bentuk yang tidak selalu kukenal.
Kadang cinta datang sebagai percakapan panjang sampai tengah malam. Kadang cinta datang sebagai seseorang yang tiba-tiba berkata:
"Alhamdulillah, baru sampai pulang lagi."
Kalimatnya sederhana. Tidak puitis. Tidak romantis. Bahkan mungkin terlalu biasa. Tapi di balik kalimat itu ada sesuatu yang lebih penting. Dia pulang..Dan dia ingat untuk memberi tahu. Barangkali hubungan memang sering kali bukan soal menemukan orang yang persis sama. Tapi belajar menerjemahkan bahasa yang berbeda tanpa buru-buru menganggap salah satunya kurang mencintai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar