Jumat, 04 September 2026
Cara Tenang Hadapi Ketidakpastian Tanpa Harus Overthinking
Kamis, 03 September 2026
Aku Ternyata Tidak Butuh Kamu Lebih Sering Mengabariku
Rabu, 26 Agustus 2026
Ketika Satu Orang Menunjukkan, dan Satu Orang Lagi Ingin Mendengar
Aku baru sadar ada satu pola yang terus berulang. Bukan cuma di hubungan ini. Mungkin juga di banyak hubungan sebelumnya. Aku sering merasa ingin mendengar. Sementara dia lebih sering menunjukkan.
Awalnya aku pikir itu soal perhatian. Kalau dia sayang, kenapa tidak bilang? Kalau dia kangen, kenapa tidak menghubungi? Kalau dia peduli, kenapa diam?
Pertanyaan-pertanyaan itu sering datang saat layar ponsel tidak menyala dan pesan terakhirku menggantung tanpa jawaban. Lucunya, kalau dipikir lagi, ternnyta banyak bukti yang menunjukkan hal sebaliknya.
Dia mengirimkan barang titipan. Dia mengingat hal-hal yang perlu diurus. Dia memberi kabar ketika sudah sampai. Dia pulang setelah perjalanan jauh lalu mengabari. Dia muncul lagi. Dan lagi. Dan lagi. Hanya saja tidak selalu dalam bentuk kata-kata. Sementara aku... Aku adalah orang yang menganggap kata-kata sebagai rumah. Aku suka mendengar. Aku suka percakapan panjang yang berkelok. Aku suka tahu seseorang sedang apa, memikirkan apa, merasakan apa. Aku bisa merasa dekat hanya karena satu pesan sederhana:
"Aku lagi kerja."
"Aku sampai nanti malam."
"Aku capek hari ini."
Bukan karena isi informasinya penting. Tapi karena aku bisa merasakan keberadaannya. Lalu suatu hari aku refleksj sesuatu yang membuatku sedikit terdiam. Mungkin selama ini aku tidak sedang berhadapan dengan orang yang tidak peduli. Aku hanya sedang berhadapan dengan orang yang menggunakan bahasa yang berbeda.
Saat aku mengirim banyak pesan karena ingin terhubung, mungkin yang dia lihat hanyalah seseorang yang sedang ingin berbicara. Saat dia diam karena bekerja atau lelah, mungkin yang dia rasakan hanyalah seseorang yang sedang fokus menjalani harinya.
Masalahnya muncul ketika diam mulai diterjemahkan. Aku menerjemahkan diam sebagai jarak. Dia menerjemahkan diam sebagai biasa saja. Aku menerjemahkan keterlambatan kabar sebagai ketidakpastian..Dia menerjemahkan keterlambatan kabar sebagai sedang sibuk. Aku menerjemahkan kata-kata sebagai kedekatan. Dia menerjemahkan tindakan sebagai kedekatan.
Tiba-tiba aku teringat masa kecil. Ada masa ketika aku bermain di luar rumah lalu pulang dengan semangat ingin bertemu seseorang yang kusayang. Ternyata orang itu sudah pergi. Tanpa pamit. Tanpa sempat bilang kapan akan kembali. Besok. Bulan depan. Tahun depan. Aku tidak tahu.
Mungkin sejak saat itu aku belajar bahwa ketidaktahuan terasa menakutkan. Bukan perginya yang paling menyakitkan, tapi tidak tahu. Tidak tahu kapan kembali. Tidak tahu apakah akan kembali. Tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mungkin itulah sebabnya sampai hari ini kabar sederhana bisa terasa begitu menenangkan.
Sebuah pesan pendek bisa mengubah banyak hal. Bukan karena pesan itu menyelesaikan masalah. Tapi karena pesan itu membuatku tidak perlu menebak-nebak. Dan mungkin, pelajaran terbesarku bukanlah membuat orang lain berubah menjadi lebih banyak bicara. Tapi belajar melihat cinta dalam bentuk yang tidak selalu kukenal.
Kadang cinta datang sebagai percakapan panjang sampai tengah malam. Kadang cinta datang sebagai seseorang yang tiba-tiba berkata:
"Alhamdulillah, baru sampai pulang lagi."
Kalimatnya sederhana. Tidak puitis. Tidak romantis. Bahkan mungkin terlalu biasa. Tapi di balik kalimat itu ada sesuatu yang lebih penting. Dia pulang..Dan dia ingat untuk memberi tahu. Barangkali hubungan memang sering kali bukan soal menemukan orang yang persis sama. Tapi belajar menerjemahkan bahasa yang berbeda tanpa buru-buru menganggap salah satunya kurang mencintai.
Sabtu, 22 Agustus 2026
"Abang mau ke Jambi"
Hari Senin kami ada membahas tentang pertemuan, bahwa mungkin Sabtu saja ke Palembang. Ada kemungkinan aku bisa bertemu dengannya. Aku belum tahu bagaimana tepatnya, tapi setidaknya ada kemungkinan itu. Tapi, kemarin Jum'at kami tidak membahasnya, jadi aku belum ke Palembang. Lalu, datang sebuah pesan, di antara pesan tentang pakaian dan map SPPD, muncul kabar:
“Abg mau ke Jambi, takut kececer barang-barang yang ada di abg.”
Aku membaca kalimat itu dan langsung berpikir, "Jambi?"
Aku belum bertemu dia. Aku bahkan belum tahu rencana itu.
“Kapan ke Jambi?”
Lalu, “Belum ketemu aku sayang…”
Aku sebenarnya ingin bertemu sebelum dia pergi. Kalau aku tahu dari semalam, mungkin aku bisa mengatur perjalanan ke Palembang dengan berbeda. Mungkin bisa menyempatkan diri bertemu dulu. Aku bilang kepadanya, “Sayang lama ke Jambinya? Aku mau ketemu sayang.”
Ada rasa kesal kecil karena kabar itu datang terlambat. Bukan kesal karena dia pergi. Aku tahu dia punya pekerjaan dan urusannya sendiri. Aku hanya ingin diberi tahu. Karena kalau aku tahu, aku bisa membuat pilihanku sendiri. Mungkin aku akan tetap di rumah. Mungkin aku akan pergi ke Palembang. Mungkin aku akan mengejar waktu sebentar hanya untuk bertemu. Tapi aku ingin punya kesempatan untuk memilih.
Sore harinya, ketika balasannya belum juga datang, aku mulai memanggil.
“Sayang…”
“Kalau udah agak lega mau chat yaa sayang.”
“Sayang apa udah di jalan ke Jambi?”
“Sayaang……”
Beberapa menit kemudian aku mengirim pertanyaan yang sebenarnya lebih besar dari sekadar perjalanan,
“Apa yang harus aku lakukan kalau sayang lagi mode kerja? Apa kalau aku chat sayang terganggu nggak?”
Aku sedang mencoba memahami ritmenya. Lalu satu kalimat keluar tanpa banyak dipikirkan,
“Sayang maaf ya, aku lagi mode siaga ditinggal.”
Aku baru sadar betapa jujurnya kalimat itu setelah terkirim. Ternyata aku bukan cuma sedang menunggu kabar tentang Jambi. Aku sedang menunggu kepastian bahwa orang yang ingin kutemui itu masih punya tempat untukku di dalam harinya.
Aku menatap layar ponsel. Rencana ke Palembang masih ada. Jambi juga masih ada. Dan di antara dua kota itu, ada satu pertemuan yang belum sempat terjadi.
Baju, Map Merah, dan Kabar yang Datang Terlambat
Jam 14.49, sebuah pesan masuk.
“Ini pakaian adek dan ado map berkas SPPD, tlg kasihkan Ali yg map merah SPPD yo.”
Aku membaca pesan itu sekali. Lalu dua kali.
“Hm.”
Itu balasanku. Di kepalaku sudah ada rencana lain. Katanya hari ini aku mau ke Palembang. Kami belum ketemu. Pakaian bisa nanti saja.
“Nanti kan mau ketemu?”
Beberapa menit kemudian baru aku tahu: dia mau ke Jambi. Aku langsung bertanya:
“Kapan ke Jambi? Belum ketemu aku sayang…”
Aku sebenarnya sudah punya rencana ke Palembang hari itu. Kalau tahu sejak semalam bahwa dia akan pergi ke Jambi, mungkin aku bisa mengatur waktu sedikit berbeda.
Setidaknya aku bisa bertemu dulu. Setidaknya aku bisa bercengkarama dengannya.
“Sayang lama ke Jambinya? Aku mau ngobrol sayang, padahal katanya hari ini mau ke Palembang, tapi semalam belum sempat ngomong.”
Lalu aku sadar, ada satu hal lain yang sebenarnya ingin kukatakan. Bukan soal Jambi. Aku ingin tahu kesehariannya. Aku ingin tahu kalau dia punya rencana pergi. Bukan supaya aku bisa mengawasi, tapi supaya aku punya kesempatan untuk hadir.
Aku akhirnya menulis:
“Boleh nggak aku minta tolong kalau sayang ada rencana pergi, aku dikasih tahu yaa.”
Lalu buru-buru kutambahkan:
“Eh ini dikasih tahu yaa. Hahaha.”
Aku tidak ingin terdengar seperti sedang membuat aturan. Aku cuma ingin dilibatkan. Aku melihat lagi barang-barang yang ada di depanku. Baju. Map SPPD.
Tadi aku sempat keringetan menerima kiriman itu. Ada sesuatu dari menerima barang milik orang lain yang membuatku gugup. Setelah melihat map merah dan memahami urusannya, pikiranku berubah. Oh. Dia percaya aku. Ada sesuatu yang dia titipkan kepadaku.
Aku mengetik:
“Terima kasih yaa sayang sudah percaya aku.”
Setelah itu aku masih kangen. Tentu saja. Tapi sekarang aku tahu satu hal bahwa kalau aku tahu lebih awal, mungkin aku bisa datang. Bukan untuk melakukan sesuatu yang besar. Cuma bertemu sebelum dia pergi. Cuma ngobrol, diskusi.
Kadang yang membuat kita sedih bukan karena seseorang pergi..Tapi karena kita baru tahu setelah kesempatan untuk mengucapkan selamat jalan hampir lewat.